Kadang hal terburuk yang bisa dilakukan seseorang di sebuah pagi adalah kehilangan nyali. Nyali untuk mengatakan dengan jujur: aku tak tertarik lagi padamu, atau kamu tak seksi lagi, atau dirimu menjemukan sekali, Jangan memujaku seperti itu, aku tidak menginginkanmu lagi, aku malas berurusan denganmu atau kamu tak ada maknanya buatku. Tapi mungkin jangan pergi dulu. Suatu ketika kelak ketika aku kesepian mungkin aku membutuhkanmu lagi.
Menyakiti orang lain adalah pekerjaan kotor. Kita seringkali memilih untuk melakukan hal yang lebih buruk secara esensi, berbohong dan membiarkan siapapun yang kepadanya kita berhutang kejujuran itu mempercayai delusi rekaan, yang kita buat untuk menyelamatkan kita dari pekerjaan kotor. Kebohongan mungkin hanya lebih kotor dan mengerikan. Tapi hanya jika itu terkuak.
Apa yang biasa kita lakukan untuk menyampaikan kejujuran yang menyakitkan? hal-hal sederhana yang buruk sehingga memikirkan bahwa kita bisa merasakannya saja kita merasa berdosa apalagi mengatakannya dengan gamblang. Bahkan ketika orang tersebut telah bisa menebaknya kita bahkan masih menghindar dari mengakuinya, membayangkan kita mengakuinya terasa puluhan kali lebih buruk dari hutang kejujuran yang sudah ditagihkan oleh orang yang bisa menebak pikiran kita. Siapakah kita mengatakan hal-hal buruk kepada orang yang memuja kita sementara kita yang terhormat dan mulia ini tak lepas dari hal-hal buruk. Bukankah menyampaikan kejujuran yang buruk terasa begitu kotor dan demikian jijiknya kita pasti masih berpaling menghindar bahkan ketika semua bukti sudah tergelontorkan. Bersembunyi dalam bicara pernyataan-pernyataan abstrak, atau bicara dalam pernyataan umum yang ambang, serta terbuka pada pemaknaan. Kita lari bahkan ketika tak ada lagi tempat untuk lari. Berusaha melempar kejujuran itu ke penanya atau membaliknya agar kita tak perlu mengakuinya.
Sering kita biarkan orang terbenam dalam delusi dan kenyataan yang tidak riil selama itu mengamankan kita dari bicara kejujuran yang bisa membuat kita merasa kotor atau semata kita malas menanggung akibat buruk yang panjang dari kejujuran kita hingga kita memilih kebohongan yang mudah. Kita tak mau melihat orang menangis atau terpukul, kita tak mau bertanggung jawab atas pilihan kita atas mereka. Mereka juga tak ingin disakiti, demikian argumen untuk pembenaran diri kita menyembunyikan kejujuran itu. Atau bisa juga kita masih punya agenda. Jika kita baik baik memelihara perasaan orang yang tak terlalu berarti ini siapa tahu dia akan masih ada ketika kita membutuhkannya lagi kelak.
Saya akan memilih kejujuran pada menu pagi itu, walau tidak ada kejujuran ditawarkan. Kejujuran itu bisa saja bilang saya membosankan, saya tidak seksi lagi atau saya membuat orang yang saya cintai muak. Tetapi sakit itu baik karena ia riil. Sementara delusi yang nikmat itu harus saya yang menciptakan dan menikmatinya bukan orang lain ciptakan untuk saya demi menyelamatkan saya dari sakit yang nyata. Karena kami sama manusia. Saya tidak lebih tinggi sehingga saya melindungi atau memilihkan yang terbaik, saya juga tidak lebih rendah sehingga dilindungi dengan delusi dan disterilkan dari kenyataan yang buruk-buruk tentang diri sendiri. demikian pula orang lain. Saya mungkin hanya akan menciptakan delusi di benak orang untuk niat mencelakakan, karena saya tidak mengasihani mereka. Tetapi saya juga akan menyampaikan kejujuran yang buruk karena mereka tak akan lebih sakit daripada saya jika saya yang menerimanya, dan kami sama layak menerima kejujuran. yang baik ataupun yang buruk. sakit atau tidak sakit tak pernah jadi masalahnya. yang saya tahu hanya kejujuran selalu mendewasakan. seperti meditasi, kejujuran memasukkan kita ke kesadaran-kesadaran lapis termutakhir dan memerdekakan. bahkan yang paling menyakitkan pada akhirnya mendamaikan. dan sebuah maaf baru sempurna jika kita tahu terlebih hal terburuk dan tersakit apa yang kita akan terima dalam dekap yang damai bernama maaf itu. maaf untuk diri sendiri.
Thursday, August 27, 2009
Sunday, July 19, 2009
sometimes what I just did or said resonates
in the taxis, at night, at quiet
for days they hit me to shatter
echoing to disrupts conscience
like having head on my sleeves
and heart on almost everything my eyes lay upon
what I said replayed
to crumble each of my cell and ceillings
past tenses intercept my present
and I m helpless at my vicarious thoughts
opening and closing itself in error
to be read like dogs' wag
or to indifferently puzzled as pretensions
displaying abrasioned self by waves of jibberish from other selves
all the tense and intensified hunger
thrusting ambitions without will
unpredictable illusion of control
wakeful to the obvious blindness
there is no epiphany
this is me
with a proud and awkward swagger
in the taxis, at night, at quiet
for days they hit me to shatter
echoing to disrupts conscience
like having head on my sleeves
and heart on almost everything my eyes lay upon
what I said replayed
to crumble each of my cell and ceillings
past tenses intercept my present
and I m helpless at my vicarious thoughts
opening and closing itself in error
to be read like dogs' wag
or to indifferently puzzled as pretensions
displaying abrasioned self by waves of jibberish from other selves
all the tense and intensified hunger
thrusting ambitions without will
unpredictable illusion of control
wakeful to the obvious blindness
there is no epiphany
this is me
with a proud and awkward swagger
Thursday, May 07, 2009
prologia vita
Namamu Ombrea, karena kamu sulung. Aku melahirkanmu sebagai kegelapan untuk menjadikan kekosongan dan kehampaan itu dirinya sendiri. berdaulat lepas dari hasratku. Walau lahirmu adalah buah dari hasrat-hasrat itu. Tapi hadirmu kemudian terbebas dari keinginan-keinginanku, dirimu sama seperti aku, berkehendak dalam niscaya alirmu, mandiri dengan kekuatan yang bukan kuberikan tapi yang adalah milikmu sejak lahir. Kamu merdeka dalam segala apung, sadar dan terjagamu. Ketiadaan itu hadirmu. Hanya satu yang bukan milikmu yaitu bahwa dirimu tak memilih adamu sebagai ketiadaan. aku yang pilihkan itu untukmu.
Namanya Lucea, ia yang terang itu, bukan adikmu, walau dirimu sulung, tapi hadir kalian adalah satu. Ia ada karena dirimu dan dirimu hadir karena keniscayaan hidupnya. Ia adalah ada yang dimaknai oleh ketiadaan dalam hadirmu. Ketiadaanmu adalah ia dan ketiadaannya adalah kamu. kalian berdua hadir karena aku tetapi bukan dari aku apalagi untukku. kalian ada untuk satu sama lain. kalian adalah aku dan ketika kalian berdua, aku tiada.
(5/7/05-edit)
Namanya Lucea, ia yang terang itu, bukan adikmu, walau dirimu sulung, tapi hadir kalian adalah satu. Ia ada karena dirimu dan dirimu hadir karena keniscayaan hidupnya. Ia adalah ada yang dimaknai oleh ketiadaan dalam hadirmu. Ketiadaanmu adalah ia dan ketiadaannya adalah kamu. kalian berdua hadir karena aku tetapi bukan dari aku apalagi untukku. kalian ada untuk satu sama lain. kalian adalah aku dan ketika kalian berdua, aku tiada.
(5/7/05-edit)
Saturday, March 21, 2009
memoar orang asing
Aku pernah meminta seseorang agar ia jangan menjadi asing. Di permintaan itu harapan terakhir berkibar di tepi tempat tidur harap yang sekarat. Kesadaran akan keniscayaan bahwa sesuatu akan hilang dan seseorang karib yang hangat di hati tengah berjalan menuju beku seorang asing.
Bahwa kekariban atau kedekatan kami suatu kali tidak sungguh ada.
Bahwa kedekatan dan kekariban itu sama-sama kami reka untuk tujuan atau agenda yang kini telah kadaluwarsa.
jangan menjadi asing.. justru mengukuhkan suatu kehilangan yang niscaya.
walau permintaan itu seperti upaya memeluk punggungnya agar ia tak tergesa bergerak dalam keniscayaan itu.
Orang asing adalah kematian. kematian arti, kematian signifikansi. seperti semua orang asing di keramaian, menyesakkan. Kita terbiasa menceritakan hal-hal penting dan tak penting pada orang yang terpenting, sementara kepada orang yang tak penting tak ada cerita, hanya senyum kala berpapasan di jalan, itu pun jika hati kita tengah sejuk dan mungkin kurang pekerjaan. orang asing tak sungguh ada atau bernama, tak ada yang ingin kausapa, atau kau balas lagi pesan pendeknya. Semua pesan pendek paling karib atau paling lucu sekalipun selalu salah alamat karena kita tak mengenal lagi pengirimnya.
Kematian berkali-kali untuk hidup sekali.
Dalam kekariban yang lenyap dalam orang yang kembali asing kita menghadapi kematian-kematian itu. Dibutuhkan doa untuk mengiring yang hidup dan kehilangan bukan untuk yang mati dan hilang lalu harapan terakhir untuk dikibar,
"jangan menjadi asing" bunyinya dan ia pun berjanji untuk tidak mati tetapi barangkali ia tak tahu apa yang dijanjikannya seperti ia tidak tahu sekali waktu kami pernah hidup dalam hangat karib yang berusia pendek namun jaya. harapan kami tengah sekarat ketika ia berjanji. Barangkali ia tahu, permintaanku yang sia-sia melawan keniscayaan, niscaya dijawab pula dengan janji yang sia-sia. Setelah ia dan hrapaku mati arwah mereka terbang ke dunia orang asing. tak lagi mengenal atau mengingat hidup hangat kami yang sejenak, walau aku masih menyimpannya karib dan menyapanya ketika berpapasan.
Bahwa kekariban atau kedekatan kami suatu kali tidak sungguh ada.
Bahwa kedekatan dan kekariban itu sama-sama kami reka untuk tujuan atau agenda yang kini telah kadaluwarsa.
jangan menjadi asing.. justru mengukuhkan suatu kehilangan yang niscaya.
walau permintaan itu seperti upaya memeluk punggungnya agar ia tak tergesa bergerak dalam keniscayaan itu.
Orang asing adalah kematian. kematian arti, kematian signifikansi. seperti semua orang asing di keramaian, menyesakkan. Kita terbiasa menceritakan hal-hal penting dan tak penting pada orang yang terpenting, sementara kepada orang yang tak penting tak ada cerita, hanya senyum kala berpapasan di jalan, itu pun jika hati kita tengah sejuk dan mungkin kurang pekerjaan. orang asing tak sungguh ada atau bernama, tak ada yang ingin kausapa, atau kau balas lagi pesan pendeknya. Semua pesan pendek paling karib atau paling lucu sekalipun selalu salah alamat karena kita tak mengenal lagi pengirimnya.
Kematian berkali-kali untuk hidup sekali.
Dalam kekariban yang lenyap dalam orang yang kembali asing kita menghadapi kematian-kematian itu. Dibutuhkan doa untuk mengiring yang hidup dan kehilangan bukan untuk yang mati dan hilang lalu harapan terakhir untuk dikibar,
"jangan menjadi asing" bunyinya dan ia pun berjanji untuk tidak mati tetapi barangkali ia tak tahu apa yang dijanjikannya seperti ia tidak tahu sekali waktu kami pernah hidup dalam hangat karib yang berusia pendek namun jaya. harapan kami tengah sekarat ketika ia berjanji. Barangkali ia tahu, permintaanku yang sia-sia melawan keniscayaan, niscaya dijawab pula dengan janji yang sia-sia. Setelah ia dan hrapaku mati arwah mereka terbang ke dunia orang asing. tak lagi mengenal atau mengingat hidup hangat kami yang sejenak, walau aku masih menyimpannya karib dan menyapanya ketika berpapasan.
Sunday, February 22, 2009
memoar perjalanan malam
kita bisa berkendara dalam kegelapan malam menuju entah
kamu bisa mengemudi dan aku bisa terus terjaga
lampu-lampu berjajar, kegelapan lalu lampu-lampu lagi hingga kehilangan
berjam-jam, berbulan dengan malam serupa
aku sering haus dalam perjalanan
dan kamu pernah mengaku lapar akanku
dan aku tak sengaja meninggalkan bekal perjalanan kita dalam panggangan
sebelum pergi dari flat yang setidaknya lepuh jika tak terbakar
aku bermimpi tentang kursi kemudi yang kosong
sementara kamu tak pernah beranjak dari bilik dirimu
kamu bisa mengemudi walau kita tak pernah menempuh apa-apa
aku bisa terus terjaga walau selalu rabun akan rambu dan marka
kendara itu berujung entah dan kita telah tiba
pada ujung? pada entah?
bahu-bahu terangkat tak penting lagi milikmu atau milikku
tak ada pohon terpahat nama kita di jalan-jalan
hanya pesan pendek yang satu persatu gugur
jok-jok kosong tercarut koper dan stileto mengingat ikhtiar
untuk bercinta denganmu di alam terbuka sebelum ajal
pulang lepas sepanjang malam
kamu bisa mengemudi dan aku bisa terus terjaga
lampu-lampu berjajar, kegelapan lalu lampu-lampu lagi hingga kehilangan
berjam-jam, berbulan dengan malam serupa
aku sering haus dalam perjalanan
dan kamu pernah mengaku lapar akanku
dan aku tak sengaja meninggalkan bekal perjalanan kita dalam panggangan
sebelum pergi dari flat yang setidaknya lepuh jika tak terbakar
aku bermimpi tentang kursi kemudi yang kosong
sementara kamu tak pernah beranjak dari bilik dirimu
kamu bisa mengemudi walau kita tak pernah menempuh apa-apa
aku bisa terus terjaga walau selalu rabun akan rambu dan marka
kendara itu berujung entah dan kita telah tiba
pada ujung? pada entah?
bahu-bahu terangkat tak penting lagi milikmu atau milikku
tak ada pohon terpahat nama kita di jalan-jalan
hanya pesan pendek yang satu persatu gugur
jok-jok kosong tercarut koper dan stileto mengingat ikhtiar
untuk bercinta denganmu di alam terbuka sebelum ajal
pulang lepas sepanjang malam
Sunday, December 21, 2008
ruang kosong
lagi-lagi kosong. Ruang yang semula tiada, lalu didesak hingga terbangun begitu megahnya. kemudian kosong. dibangun untuk ditinggalkan. dengan kesadaran dan sejenis kecemasan yang terbaca ketika aku mungkin juga kamu menyusun batu demi batunya. Lihatlah ruang itu terbangun. buatmu. dengan sedikit harapan yang dibisikan diam-diam oleh hati yang begitu kecil dan malu-malu,.. "buat kita". jika bahkan pernah ada sesuatu bernama kita. Aku akan kembali menanyakannya. walau hati tahu jujur, kita lah yang mendesakkan ruang itu dan menyusun batanya dalam ingin dan debar. Tanpa bukti, kamu mengibarkan duga bahwa yang membangun ruang ini tidaklah nyata, mungkin juga aku kelak.
Tetapi ruang itu nyata dan lebih nyata lagi adalah kosongnya. kosongnya darimu dan penuhnya dendamku akan ruang-ruang yang kosong. Terlalu banyak pintu, sementara tak pernah cukup anak kunci untuk menyembunyikan kekosongan.
Tetapi ruang itu nyata dan lebih nyata lagi adalah kosongnya. kosongnya darimu dan penuhnya dendamku akan ruang-ruang yang kosong. Terlalu banyak pintu, sementara tak pernah cukup anak kunci untuk menyembunyikan kekosongan.
Saturday, December 13, 2008
'my name is none'
'mon nome est personne', seorang kawan lewat yahoo messenger. Seorang juru bicara kejujuran dikirim semesta karena saya seringkali tuli untuk mendengar suaranya sendiri. Tidak tepat demikian yang ia katakan namun demikian yang ditulisnya kemudian diingatan saya. Judul sebuah musik yang mengalun dari radio internet dibawah genre eclectic. Dari kata-kata kunci itu kemudian semua catatan ini terbuka.
Ada tahun-tahun saya merindukan emosi. merindukan momen untuk merasakan setiap detil kejadian sehingga segalanya tidak berlewatan begitu cepat lalu hilang. Karena emosi menuliskan ingatan dengan cara terbaik. Walau bukan ingatan yang saya inginkan. Saya merindukan emosi setelah susah payah untuk membunuhnya. Ketika saya kebal dan rasa menjadi lumpuh, saya merindukannya seperti merindukan masa lalu penuh kejayaan dan saya tahu membunuh emosi bukan bukan semata jalan pintas, tetapi jalan buntu. Seperti pula hal-hal penuh emosi yang menggiring saya untuk melakukan kebodohan semacam itu terhadap diri sendiri. Tetapi hidup punya caranya sendiri untuk mengajari dan untungnya emosi tak bisa mati. Ia bisa disingkirkan tetapi ia selalu kembali ketika kita cukup besar untuk menanggungnya lagi. Dan ketika ia kembali, ia kembali dengan persistensi.
Hari-hari ini saya mengalami kemewahan itu kembali. kemewahan menangis dan tertawa begitu lancar untuk banyak detil yang tak terlewatkan. Gagap dan gamang atas sebuah obituari kawan atau menangisi kalimat dalam sebuah film, lalu menertawakan diri hingga pecah tangis dalam kelegaannya. Dorongan afeksi yang meluap menunggu dibagi, Cemburu, rindu, dan kebahagiaan yang mirip sebuah bangga bisa menanggung semua emosi itu tanpa tercerai berai jadi bukan diri sendiri.
Satu hal yang lucu mengenai pembunuhan emosi. Ketika saya bisa menghadapi banyak hal tanpa emosi saya bisa merindukan emosi. Padahal rindu juga adalah emosi. Sejenis hasrat yang tak habis-habis seperti lapar yang semakin dipuaskan semakin mengingini. Rindu jadi sejenis pelampung pengaman yang dibiarkan ambang di perairan jika sewaktu-waktu saya mengirimkan tanda darurat untuk diselamatkan emosi yang saya tenggelamkan sendiri.
Sebuah perbincangan jarak jauh lewat yahoo messenger dengan kawan itu, seorang 'extra terrestrial' yang menghisap djarum76. Kedinginan di negeri orang. perbincangan itu tanpa sengaja memberi saya contekan yang begitu ampuh untuk melewati ujian dari sebuah kelas yang berulang kali saya telah gagal. Tak heran saya gagal, bahkan ketika saya mendapat pencerahan begitu rupa, saya masih ragu akan judul mata pelajarannya. 'puzzles of your own psyche' kah? Tapi yang pasti perbincangan itu membebaskan saya dari keinginan saya sendiri. Dari obsesi yang membatasi kapasitas emosi. Obsesi akan harapan hubungan cinta yang mewah itu atau obsesi akan harapan cinta itu sendiri yang barangkali lebih mahal lagi. Keduanya telah membatasi saya menghargai atau semata membatasi saya untuk merasakan emosi. Harapan-harapan sempit itu menghalangi kemampuan saya menanggung dan memeluk kesadaran yang sama sekali berbeda dari yang pernah atau bisa saya bayangkan. Hal-hal asing dengan esensi sama yang lahir dari zaman yang semakin dewasa. Semakin mudah untuk membunuh perasaan dan semakin sulit untuk merasa. Saya ingin berakhir mencintai, bukan berakhir membutuhkan. Walau saya masih ragu akan apa yang saya cari. karena sesuatu yang genap penuh barangkali hanya mati. Lalu saya tiba-tiba ingin mencatat bagaimana saya menangis dan tertawa untuk diri sendiri, suatu perayaan yang lega dan merdeka, bahkan ketika kami selesai berpamitan untuk kembali sibuk lagi.
Saya sering merindukan rasa yang sederhana apa adanya, tertuang tanpa ada cegahan. cegahan puluhan pertimbangan untuk menjaga diri atau untuk bertahan kuat menghadapi hari. Tetapi kerinduan itu seperti kerinduan akan masa kecil yang tanpa masalah, masa cinta monyet yang diartikulasi drama-drama picisan televisi. Masa-masa sederhana itu sudah lewat. saya tahu saya tidak bisa kembali. Tak ada lagi yang sederhana dan saya tidak akan merindukan masa kepolosan yang indah itu lagi. Saya melewatinya karena banyak hal yang tak sederhana menanti juga tertuang apa adanya. Rasa yang eklektik, kaya dan diabaikan karena keengganan memahami. Seperti campur aduk daftar lagu dari siaran radio dibawah 'genre eclectic'. Rasa yang juga harus tertuang tanpa ada cegahan. Dan saya sampai di titik ini untuk belajar menuangkannya. satu emosi baru untuk satu waktu jujur. Mereka tak pernah kalah indahnya. Karena hidup tidak berhenti di hal-hal sederhana sebagaimanapun saya merindukannya.
Ada tahun-tahun saya merindukan emosi. merindukan momen untuk merasakan setiap detil kejadian sehingga segalanya tidak berlewatan begitu cepat lalu hilang. Karena emosi menuliskan ingatan dengan cara terbaik. Walau bukan ingatan yang saya inginkan. Saya merindukan emosi setelah susah payah untuk membunuhnya. Ketika saya kebal dan rasa menjadi lumpuh, saya merindukannya seperti merindukan masa lalu penuh kejayaan dan saya tahu membunuh emosi bukan bukan semata jalan pintas, tetapi jalan buntu. Seperti pula hal-hal penuh emosi yang menggiring saya untuk melakukan kebodohan semacam itu terhadap diri sendiri. Tetapi hidup punya caranya sendiri untuk mengajari dan untungnya emosi tak bisa mati. Ia bisa disingkirkan tetapi ia selalu kembali ketika kita cukup besar untuk menanggungnya lagi. Dan ketika ia kembali, ia kembali dengan persistensi.
Hari-hari ini saya mengalami kemewahan itu kembali. kemewahan menangis dan tertawa begitu lancar untuk banyak detil yang tak terlewatkan. Gagap dan gamang atas sebuah obituari kawan atau menangisi kalimat dalam sebuah film, lalu menertawakan diri hingga pecah tangis dalam kelegaannya. Dorongan afeksi yang meluap menunggu dibagi, Cemburu, rindu, dan kebahagiaan yang mirip sebuah bangga bisa menanggung semua emosi itu tanpa tercerai berai jadi bukan diri sendiri.
Satu hal yang lucu mengenai pembunuhan emosi. Ketika saya bisa menghadapi banyak hal tanpa emosi saya bisa merindukan emosi. Padahal rindu juga adalah emosi. Sejenis hasrat yang tak habis-habis seperti lapar yang semakin dipuaskan semakin mengingini. Rindu jadi sejenis pelampung pengaman yang dibiarkan ambang di perairan jika sewaktu-waktu saya mengirimkan tanda darurat untuk diselamatkan emosi yang saya tenggelamkan sendiri.
Sebuah perbincangan jarak jauh lewat yahoo messenger dengan kawan itu, seorang 'extra terrestrial' yang menghisap djarum76. Kedinginan di negeri orang. perbincangan itu tanpa sengaja memberi saya contekan yang begitu ampuh untuk melewati ujian dari sebuah kelas yang berulang kali saya telah gagal. Tak heran saya gagal, bahkan ketika saya mendapat pencerahan begitu rupa, saya masih ragu akan judul mata pelajarannya. 'puzzles of your own psyche' kah? Tapi yang pasti perbincangan itu membebaskan saya dari keinginan saya sendiri. Dari obsesi yang membatasi kapasitas emosi. Obsesi akan harapan hubungan cinta yang mewah itu atau obsesi akan harapan cinta itu sendiri yang barangkali lebih mahal lagi. Keduanya telah membatasi saya menghargai atau semata membatasi saya untuk merasakan emosi. Harapan-harapan sempit itu menghalangi kemampuan saya menanggung dan memeluk kesadaran yang sama sekali berbeda dari yang pernah atau bisa saya bayangkan. Hal-hal asing dengan esensi sama yang lahir dari zaman yang semakin dewasa. Semakin mudah untuk membunuh perasaan dan semakin sulit untuk merasa. Saya ingin berakhir mencintai, bukan berakhir membutuhkan. Walau saya masih ragu akan apa yang saya cari. karena sesuatu yang genap penuh barangkali hanya mati. Lalu saya tiba-tiba ingin mencatat bagaimana saya menangis dan tertawa untuk diri sendiri, suatu perayaan yang lega dan merdeka, bahkan ketika kami selesai berpamitan untuk kembali sibuk lagi.
Saya sering merindukan rasa yang sederhana apa adanya, tertuang tanpa ada cegahan. cegahan puluhan pertimbangan untuk menjaga diri atau untuk bertahan kuat menghadapi hari. Tetapi kerinduan itu seperti kerinduan akan masa kecil yang tanpa masalah, masa cinta monyet yang diartikulasi drama-drama picisan televisi. Masa-masa sederhana itu sudah lewat. saya tahu saya tidak bisa kembali. Tak ada lagi yang sederhana dan saya tidak akan merindukan masa kepolosan yang indah itu lagi. Saya melewatinya karena banyak hal yang tak sederhana menanti juga tertuang apa adanya. Rasa yang eklektik, kaya dan diabaikan karena keengganan memahami. Seperti campur aduk daftar lagu dari siaran radio dibawah 'genre eclectic'. Rasa yang juga harus tertuang tanpa ada cegahan. Dan saya sampai di titik ini untuk belajar menuangkannya. satu emosi baru untuk satu waktu jujur. Mereka tak pernah kalah indahnya. Karena hidup tidak berhenti di hal-hal sederhana sebagaimanapun saya merindukannya.
Monday, November 03, 2008
indomie dan mimpi buruk
Sebuah pagi yang buruk untuk berpikir tentang hidup para santo atau martir. Apakah mereka semua juga penderita pasif agresif disorder? Dengan menghancurkan diri, mereka secara ganas berambisi mengusik hidup, menggoyang orang lain dengan kepasifan, jadi domba sembelihan.
berteduh di pendamaian yang dengan mudah dijuduli kesedihan itu basi dan terlalu apolonian, kadang terlalu bersih, kebanalan pun mulai bergerak menjadi demikian. Walau kadang jujur yang banal itu relatif lebih jernih. Lihatlah penis, Bukankah bentuknya coklat memanjang seperti tinja, Seperti proses defekasi pula kadang semua yang terjadi sejak sapaan pertama hingga sanggama.
Dan kadang kita sanggup berjalan-jalan dengan duri menusuk dada, berhari, berbulan, membuat segala tak mungkin dan segala tak nyaman tapi kita bertahan, menanggungnya sukarela. Seperti pahlawan berkuda. Padahal kita lah naga.
berteduh di pendamaian yang dengan mudah dijuduli kesedihan itu basi dan terlalu apolonian, kadang terlalu bersih, kebanalan pun mulai bergerak menjadi demikian. Walau kadang jujur yang banal itu relatif lebih jernih. Lihatlah penis, Bukankah bentuknya coklat memanjang seperti tinja, Seperti proses defekasi pula kadang semua yang terjadi sejak sapaan pertama hingga sanggama.
Dan kadang kita sanggup berjalan-jalan dengan duri menusuk dada, berhari, berbulan, membuat segala tak mungkin dan segala tak nyaman tapi kita bertahan, menanggungnya sukarela. Seperti pahlawan berkuda. Padahal kita lah naga.
Sunday, November 02, 2008
akhir tahun kesekian
Sesekali dalam hidup ada peristiwa jumpa yang getar energinya memberi efek kejut serupa feedback elektronik, Semacam tendangan frekuensi paling rendah yang tua dan familiar. selalu bergetar bermasa-masa seperti dinding bebangunan tua, menyelinap atau semata tak lewat dalam sadar lalu tiba-tiba menuntut hadir. Berkulit hasrat keintiman berujung kekosongan yang lazim itu. Dorongan yang saru karena dalam masifnya ia tak sungguh rill. abstrak dan besar. Dorongan yang seperti kerinduan terhadap diri sendiri yang paling arkaik. diri yang tidak cair juga tak solid, hadir konstan walau seringkali tak kentara bahkan ketika kita mundur dari kulit-kulit sadar lalu duduk menonton diri sendiri menghadapi hari.
Membuntuti dorongan-dorongan itu adalah cerita lain soal membuntuti bayang-bayang ke jalan buntu, namun tidak pernah ada yang buntu dalam perjalanan. yang buntu hanya jika kita mendambakan tujuan
Apa yang kita terima selamanya hanya lah diri sendiri karenanya kita tak lelah membuntuti diri-diri yang terbenam dalam orang lain. 'pasangan' mereka menjudulinya,walau tak ada yang terpasang, seperti tubuh dan bayangnya, salah satu bukanlah pasangan terhadap yang lain, dan tubuh tak lebih dari bayangannya karena yang melahirkan paket niscaya tubuh dan bayangan bukan keduanya tapi hal ketiga yaitu terang. bukan tubuh bukan bayangan. Dalam gelap tak ada tubuh hanya bayangan. dalam terang sempurna tak ada bayang-bayang.
Barangkali karena demikian mereka menyebutnya buta, ketika dalam kegelapan sempurna kita masih berilusi tentang kendali membuntuti diri sendiri yang tiada. Dalam genap segala bayangan. walau ketika itu kita sungguh tiba. waktu tubuh sungguh hilang, waktu diri begitu hilang.
Membuntuti dorongan-dorongan itu adalah cerita lain soal membuntuti bayang-bayang ke jalan buntu, namun tidak pernah ada yang buntu dalam perjalanan. yang buntu hanya jika kita mendambakan tujuan
Apa yang kita terima selamanya hanya lah diri sendiri karenanya kita tak lelah membuntuti diri-diri yang terbenam dalam orang lain. 'pasangan' mereka menjudulinya,walau tak ada yang terpasang, seperti tubuh dan bayangnya, salah satu bukanlah pasangan terhadap yang lain, dan tubuh tak lebih dari bayangannya karena yang melahirkan paket niscaya tubuh dan bayangan bukan keduanya tapi hal ketiga yaitu terang. bukan tubuh bukan bayangan. Dalam gelap tak ada tubuh hanya bayangan. dalam terang sempurna tak ada bayang-bayang.
Barangkali karena demikian mereka menyebutnya buta, ketika dalam kegelapan sempurna kita masih berilusi tentang kendali membuntuti diri sendiri yang tiada. Dalam genap segala bayangan. walau ketika itu kita sungguh tiba. waktu tubuh sungguh hilang, waktu diri begitu hilang.
Saturday, October 25, 2008
memoar ikan sebelah
Kata kunci ingatan suatu oktober akan tereja seperti bunyi kata "hangat". hawa kulit yang seperti uap secangkir teh, hawa yang bangkit dari alir darah yang bergegas, Wangi ikan sebelah yang baru keluar dari panggangan dan bibir-bibir yang lepuh oleh hidangan ciuman penutupnya.
Kata kunci yang tereja seperti bunyi kata "hangat" untuk catatan yang terbungkus cerita porak poranda. Begitu runyam berkelindan hingga terlalu banyak rahasia memekak. tak terlalu banyak barangkali, tetapi cukup.
bunyi kata serupa "hangat" itu pertama hadir di pesan pendek, kemudian di suatu siang ada pada langkah-langkah. Berdebar asing-rindu seperti kampung halaman yang pangling pada bocahnya sejak tak pernah lagi pulang. aku belumlah rumah atau halaman tempat pulang.
Aku tak pernah ingin menuliskan cerita yang demikian porak poranda. rindu yang penuh curiga. Padaku dariku yang sibuk menamai, menghapus lalu menamai lagi berkontainer-kontainer debar serupa dendam yang labuh pada air pasang. Seolah tengah datang bulan. Dikirim dari alamat tak dikenal yang dieja dengan kata sama: "hangat"
Oktober dan langit mengekang debar dari cerita yang berlelehan. mungkin ditahan. mungkin ditawan. Namun hujan yang ditahan berminggu pun akhirnya turun. Deras hangat setergesa segala cemas yang berlomba untuk mewujud dalam runtuhan dan kelak diingat ringkas dengan label "kebodohan orang dewasa".
Gamang atau sesal atau kecewa itu biasa. Tawa hati terbuka berbuah untaian "kenapa" lah yang porak poranda. Seperti maaf yang tak jelas untuk siapa. Seperti cerita. Runyam berkelindan dalam haus dituliskan yang tidak kesampaian atau "hangat" yang ada tanpa meniadakan segala yang bukan dirinya.
Kata kunci yang tereja seperti bunyi kata "hangat" untuk catatan yang terbungkus cerita porak poranda. Begitu runyam berkelindan hingga terlalu banyak rahasia memekak. tak terlalu banyak barangkali, tetapi cukup.
bunyi kata serupa "hangat" itu pertama hadir di pesan pendek, kemudian di suatu siang ada pada langkah-langkah. Berdebar asing-rindu seperti kampung halaman yang pangling pada bocahnya sejak tak pernah lagi pulang. aku belumlah rumah atau halaman tempat pulang.
Aku tak pernah ingin menuliskan cerita yang demikian porak poranda. rindu yang penuh curiga. Padaku dariku yang sibuk menamai, menghapus lalu menamai lagi berkontainer-kontainer debar serupa dendam yang labuh pada air pasang. Seolah tengah datang bulan. Dikirim dari alamat tak dikenal yang dieja dengan kata sama: "hangat"
Oktober dan langit mengekang debar dari cerita yang berlelehan. mungkin ditahan. mungkin ditawan. Namun hujan yang ditahan berminggu pun akhirnya turun. Deras hangat setergesa segala cemas yang berlomba untuk mewujud dalam runtuhan dan kelak diingat ringkas dengan label "kebodohan orang dewasa".
Gamang atau sesal atau kecewa itu biasa. Tawa hati terbuka berbuah untaian "kenapa" lah yang porak poranda. Seperti maaf yang tak jelas untuk siapa. Seperti cerita. Runyam berkelindan dalam haus dituliskan yang tidak kesampaian atau "hangat" yang ada tanpa meniadakan segala yang bukan dirinya.
Sunday, August 10, 2008
Tungau
Teh tawar yang suam itu tercicip rasa debu. Tetapi aku meminumnya hingga tandas semua cairan itu lenyap di geliat peristaltis tenggorokanku. Di dasar gelas masih mengonggok jejaring debu. untai benang tipis kelabu debu yang kuyub oleh cair teh. ada geliat organik yang sulit tertangkap oleh mataku.
tungau, desisku.
***
Ulang tahun tak pernah sebuah perayaan. Semacam ritus menyimpul waktu atau menoreh gores-goresan kapur di dinding supaya aku tak pernah lupa diri akan keterpenjaraan.
Jeruji waktu dengan bayang-bayangnya yang berbaris menimpa tubuhku adalah panjang ingatan, tak bertambah atau berkurang. Dan demikianlah penjara waktu melukis jejak bayang silam yang terus hadir dalam persistensi selagi ia masih tegak menceraikan sisi cahaya dari naungan tempatku berdiri sebagai tawanannya.
Pada suatu ritus itu kau datang dan menanyakan apa yang kuinginkan sebagai hadiah. Semacam hadiah hiburan bagi tawanan.
Aku menjamumu dibalik bayang berbaris jeruji penjara itu. cangkirmu bergaris-garis seperti wajah kita. Diantara garis bayang dan terang itu beterbangan debu seperti taburan bintang di angkasa.
Kutanya berulang engkau siapa. Menuangi teh ke dalam cangkirmu dan gelas kotorku. Kucoba memata-mataimu dari bayang permukaan teh itu. Kutangkap bayang wajahmu dan latar jeruji berbaris-baris yang buyar ketika kuseruput geming pantulnya, berdenyut di tiap teguk teh suam itu.
"anggaplah aku yang kau ajak bicara setiap kali kerinduan kau ucap diam-diam sebelum meniup lilin-lilin usiamu. Kini tak perlu lagi permohonan dibalik bara atas kue tart seperti itu. katakan saja yang kau inginkan. Anggap semata penghiburan pada peringatan keterpenjaraan" tuturmu di atas permukaan teh itu dan membiarkan gaungnya bergetar ke permukaan gelasku
Aku mencibirnya diam-diam aku tak pernah percaya akan permohonan atas lilin ulang tahun, atau pada bintang yang terjatuh tetapi aku mulai memikirkan apa yang kuinginkan dan tak bisa mencegah pikiranku. Ia bukan semata lilin di atas kue tart atau bintang yang jatuh atau angka-angka yang berulang tiga kali. Ia nyata. Duduk bersamaku meneguk teh itu.
"Apa yang paling umum diminta sesorang yang berulang tahun?"
"boneka, kekasih dan sepeda."
Aku mengangguk, masih menimang pilihan-pilihanku. Semua hadiah itu berwujud. Seperti yang terlintas pertama kali ketika aku mendengar kata "hadiah" dijajakan di koridor penjaraku. Sementara aku bukan materialis. Jika kejujuran memporak-porandakan ilusi pada waktu-waktu serupa ini, yang sungguh kuinginkan bukan hadiah-hadiah semacam itu. Bayang berbaris itu masih lekat di wajahku ketika aku mulai memahat konkrit hasrat-hasratku ke dalam wujud kata-kata jawabku.
"aku menginginkan hati. bukan secara wujud organ yang memompa sungai-sungai darahku. tetapi hati dalam substansi"
"Substansi hati"
Kau bersandar dan menengadah pada apungan dedebuan diantara bayang sinar berbaris jeruji-jeruji.
DI keterdiamanmu berpawailah debarku. Bayang jeruji-jeruji itu bergeser. "hati" atau jantung yang kupunya berdegub, memompa darahku cepat hingga payau udara dalam penerbangan berjuta dedebuan itu terusik oleh dentum-dentum debarnya yang tipis, samar dan tajam.
Kau masih terdiam. Tidak nampak keberatan tetapi juga tidak nampak antusias atas permintaan itu. Timbulah cemas itu. Jangan-jangan aku telah mengajukan permintaan yang bodoh atau tanpa sadar kuajukan hanya sekedar hendak menguji dirimu. kegamangan segera menelusup dan bimbangku merajalela.
"Aku hanya ingin sesuatu yang tak konkrit. sesuatu yang bisa kupahami tanpa harus kuindrai. kulihat, kusentuh atau kurabai. "
Sebuah pembelaan dan pemakluman kukibarkan untuk memecah keheningan
Kau tak bergeming ketika mengajukan pertanyaan
"Mengapa kamu menginginkan hadiah yang begitu rumit, sementara dirimu tak lebih rumit dari orang-orang lain yang meminta boneka atau sepeda?"
Tanpa pikir panjang aku menjawab dengan yakin. Namun yang menjawab bukan aku, tetapi aku yang lain yang berjaga di garis pertahanan diriku."aku selalu merasa lebih rumit, abstrak dan tentunya aku tak ingin sama dengan orang lain. Aku membutuhkan sesuatu yang lebih dari biasa"
"Tetapi kalian semua sama. sama-sama tak ingin sama."
bayang-bayang berbaris menggeser segaris bayang melintas di keningku ketika aku bersandar di ujung meja. Kami semua memang sama, dipenjara oleh jeruji dan terseragami bayang-bayang ini. Tetapi kami masih merdeka memilih hadiah yang kami suka.
dedebuan berarak diantara garis berkas cahaya
"kutarik kembali permintaanku"
"Jangan, bukan itu maksud pertanyaanku. Jangan undur dari apapun yang sungguh kau inginkan."
"tidak, aku berubah pikiran. aku tak menginginkan sesuatu yang sudah aku punya."
"Jadi kau sudah memiliki itu? substansi hati? Sesuatu yang tidak konkrit itu?"
"lupakan itu."
"Jadi?"
"Berikan aku boneka saja"
"Aku tak bermaksud mempertanyakanmu. Tugasku hanya mengabulkan. mungkin sedikit penasaran. Tapi Jangan pertanyaanku sesaat lalu mengusik pilihanmu."
"Berikan aku boneka."
kembali bergeser jeruji-jeruji waktu dan bayangnya berbaris laju, menit berlalu, ia tertelan senyap dalam air muka yang masih sama.
Aku kali ini sabar menunggu.
"Baiklah. Boneka adalah tiruan wujud berbagai rupa. boneka apa yang kau kehendaki?"
Aku terhenyak dalam pecah kalimatnya. Aku tak pernah bepikir untuk menginginkan boneka apapun seumur hidupku aku tak pernah memiliki boneka sendiri. Tidak ketika kanak-kanak, tidak juga ketika dewasa. Berkelebat berbagai bentuk rupa dalam bayang berbaris beriringan dalam sel benakku. mana yang hendak kupilih untuk kumintakan wujud sebuah boneka. Wajah-wajah terkasih, binatang yang lucu, tokoh-tokoh dalam kisah dongeng.
aku meraih gelas dan meneguk teh yang sudah mendingin. menemukan dedebuan basah di dalamnya.
beberapa bayang garis jeruji berlalu ketika aku terdiam di depan dedebuan itu
"boneka tungau untuk ulang tahunku"
aku masih mendengar denging permintaanku diantara jeruji dan derap bayang-bayangnya juga gejolak gesa dedebuan terbang ketika kau berlalu. Ritusku genap tersimpul di pengabulan itu.
Di bangkumu tertinggal Boneka empuk berkaki enam, bersungut dan bermata hitam seperti tungau-tungau kecil yang tak sanggup kulihat sesaat lalu di dasar gelasku.
3/22/04
tungau, desisku.
***
Ulang tahun tak pernah sebuah perayaan. Semacam ritus menyimpul waktu atau menoreh gores-goresan kapur di dinding supaya aku tak pernah lupa diri akan keterpenjaraan.
Jeruji waktu dengan bayang-bayangnya yang berbaris menimpa tubuhku adalah panjang ingatan, tak bertambah atau berkurang. Dan demikianlah penjara waktu melukis jejak bayang silam yang terus hadir dalam persistensi selagi ia masih tegak menceraikan sisi cahaya dari naungan tempatku berdiri sebagai tawanannya.
Pada suatu ritus itu kau datang dan menanyakan apa yang kuinginkan sebagai hadiah. Semacam hadiah hiburan bagi tawanan.
Aku menjamumu dibalik bayang berbaris jeruji penjara itu. cangkirmu bergaris-garis seperti wajah kita. Diantara garis bayang dan terang itu beterbangan debu seperti taburan bintang di angkasa.
Kutanya berulang engkau siapa. Menuangi teh ke dalam cangkirmu dan gelas kotorku. Kucoba memata-mataimu dari bayang permukaan teh itu. Kutangkap bayang wajahmu dan latar jeruji berbaris-baris yang buyar ketika kuseruput geming pantulnya, berdenyut di tiap teguk teh suam itu.
"anggaplah aku yang kau ajak bicara setiap kali kerinduan kau ucap diam-diam sebelum meniup lilin-lilin usiamu. Kini tak perlu lagi permohonan dibalik bara atas kue tart seperti itu. katakan saja yang kau inginkan. Anggap semata penghiburan pada peringatan keterpenjaraan" tuturmu di atas permukaan teh itu dan membiarkan gaungnya bergetar ke permukaan gelasku
Aku mencibirnya diam-diam aku tak pernah percaya akan permohonan atas lilin ulang tahun, atau pada bintang yang terjatuh tetapi aku mulai memikirkan apa yang kuinginkan dan tak bisa mencegah pikiranku. Ia bukan semata lilin di atas kue tart atau bintang yang jatuh atau angka-angka yang berulang tiga kali. Ia nyata. Duduk bersamaku meneguk teh itu.
"Apa yang paling umum diminta sesorang yang berulang tahun?"
"boneka, kekasih dan sepeda."
Aku mengangguk, masih menimang pilihan-pilihanku. Semua hadiah itu berwujud. Seperti yang terlintas pertama kali ketika aku mendengar kata "hadiah" dijajakan di koridor penjaraku. Sementara aku bukan materialis. Jika kejujuran memporak-porandakan ilusi pada waktu-waktu serupa ini, yang sungguh kuinginkan bukan hadiah-hadiah semacam itu. Bayang berbaris itu masih lekat di wajahku ketika aku mulai memahat konkrit hasrat-hasratku ke dalam wujud kata-kata jawabku.
"aku menginginkan hati. bukan secara wujud organ yang memompa sungai-sungai darahku. tetapi hati dalam substansi"
"Substansi hati"
Kau bersandar dan menengadah pada apungan dedebuan diantara bayang sinar berbaris jeruji-jeruji.
DI keterdiamanmu berpawailah debarku. Bayang jeruji-jeruji itu bergeser. "hati" atau jantung yang kupunya berdegub, memompa darahku cepat hingga payau udara dalam penerbangan berjuta dedebuan itu terusik oleh dentum-dentum debarnya yang tipis, samar dan tajam.
Kau masih terdiam. Tidak nampak keberatan tetapi juga tidak nampak antusias atas permintaan itu. Timbulah cemas itu. Jangan-jangan aku telah mengajukan permintaan yang bodoh atau tanpa sadar kuajukan hanya sekedar hendak menguji dirimu. kegamangan segera menelusup dan bimbangku merajalela.
"Aku hanya ingin sesuatu yang tak konkrit. sesuatu yang bisa kupahami tanpa harus kuindrai. kulihat, kusentuh atau kurabai. "
Sebuah pembelaan dan pemakluman kukibarkan untuk memecah keheningan
Kau tak bergeming ketika mengajukan pertanyaan
"Mengapa kamu menginginkan hadiah yang begitu rumit, sementara dirimu tak lebih rumit dari orang-orang lain yang meminta boneka atau sepeda?"
Tanpa pikir panjang aku menjawab dengan yakin. Namun yang menjawab bukan aku, tetapi aku yang lain yang berjaga di garis pertahanan diriku."aku selalu merasa lebih rumit, abstrak dan tentunya aku tak ingin sama dengan orang lain. Aku membutuhkan sesuatu yang lebih dari biasa"
"Tetapi kalian semua sama. sama-sama tak ingin sama."
bayang-bayang berbaris menggeser segaris bayang melintas di keningku ketika aku bersandar di ujung meja. Kami semua memang sama, dipenjara oleh jeruji dan terseragami bayang-bayang ini. Tetapi kami masih merdeka memilih hadiah yang kami suka.
dedebuan berarak diantara garis berkas cahaya
"kutarik kembali permintaanku"
"Jangan, bukan itu maksud pertanyaanku. Jangan undur dari apapun yang sungguh kau inginkan."
"tidak, aku berubah pikiran. aku tak menginginkan sesuatu yang sudah aku punya."
"Jadi kau sudah memiliki itu? substansi hati? Sesuatu yang tidak konkrit itu?"
"lupakan itu."
"Jadi?"
"Berikan aku boneka saja"
"Aku tak bermaksud mempertanyakanmu. Tugasku hanya mengabulkan. mungkin sedikit penasaran. Tapi Jangan pertanyaanku sesaat lalu mengusik pilihanmu."
"Berikan aku boneka."
kembali bergeser jeruji-jeruji waktu dan bayangnya berbaris laju, menit berlalu, ia tertelan senyap dalam air muka yang masih sama.
Aku kali ini sabar menunggu.
"Baiklah. Boneka adalah tiruan wujud berbagai rupa. boneka apa yang kau kehendaki?"
Aku terhenyak dalam pecah kalimatnya. Aku tak pernah bepikir untuk menginginkan boneka apapun seumur hidupku aku tak pernah memiliki boneka sendiri. Tidak ketika kanak-kanak, tidak juga ketika dewasa. Berkelebat berbagai bentuk rupa dalam bayang berbaris beriringan dalam sel benakku. mana yang hendak kupilih untuk kumintakan wujud sebuah boneka. Wajah-wajah terkasih, binatang yang lucu, tokoh-tokoh dalam kisah dongeng.
aku meraih gelas dan meneguk teh yang sudah mendingin. menemukan dedebuan basah di dalamnya.
beberapa bayang garis jeruji berlalu ketika aku terdiam di depan dedebuan itu
"boneka tungau untuk ulang tahunku"
aku masih mendengar denging permintaanku diantara jeruji dan derap bayang-bayangnya juga gejolak gesa dedebuan terbang ketika kau berlalu. Ritusku genap tersimpul di pengabulan itu.
Di bangkumu tertinggal Boneka empuk berkaki enam, bersungut dan bermata hitam seperti tungau-tungau kecil yang tak sanggup kulihat sesaat lalu di dasar gelasku.
3/22/04
Friday, August 08, 2008
secangkir catatan kental yang hangat manis
aku tahu aku masih menyimpan letupan batu mendidih seperti gunung api resah yang tak kunjung tuntas walau lavanya telah dialirkan ke dalam begitu banyak saluran dan tanggul-tanggul kokoh yang telah kudirikan. aku pun tahu aku tidak akan meletus kemudian mencelakai diriku atau siapapun yang berada di sekitarku, mereka yang mengorbit di lereng-lerengku. Aku akan baik baik saja.
golak batu mendidih tak pernah cepat mendingin. jadi aku akan melahap waktu dengan amat lapar sebelum kelak sungguh menjadi beku.
Dini hari begitu riuh seperti metropolitan dalam kamarku. diriku yang lain hendak tidur dan melupakan. diriku yang lain rindu menuliskan. diriku yang lain masih menggebu,mengklakson, berkelip, bising menyimpan letupan batu mendidih, diriku yang lain bersyukur karena kami semua kokoh tanpa menjadi kebas hati. diantara kami hampir selalu ada cangkir hangat sedih yang diedarkan untuk dibagi. hangat sedih yang kental manis. dicicip bersama. Jatah kami malam itu. Karena kami tengah berdamai. Tak ada yang menolak atau melewatkan gilirannya mencicip. Karena itu rasanya hangat kental dan manis walaupun isinya semata cair sedih yang tak penting buat kami tanggung. Tetapi aku mengatakan ini kepada aku yang lain bukan tentang cangkir sedih itu. Tetapi tentang kami yang jarang berdamai. Kami yang saling menyabot satu sama lain. Kami yang marah karena cangkir itu selalu dibawa datang oleh salah satu dari kami untuk kami semua habiskan. aku yang selalu membawa cangkir itu. aku yang kadang menolak untuk mencicipnya bersama yang lain. aku yang selalu berusaha menggiring aku yang lain beserta cangkir itu untuk manghadapi acaranya cicip mencicip hingga tuntas semua cair kental itu. aku tahu aku tengah berdamai karena cangkir sedih itu terasa hangat dan manis. aku tahu aku tengah berseteru dengan aku yang lain bila cangkir itu terasa getir, langu atau membara didih melukai.
aku lega. ada setetes bahagia. cukup. walau bukan deras air terjun niagara. karena kami saling bicara. aku yang rindu menuliskanmu. aku yang hendak tidur dan melupakan. kami tak sungguh sepakat. tetapi setidaknya tidak saling menjambak. di sini aku tidak tidur dan tidak melupakan, tidak juga menuliskanmu. kami menulis tentang kami. hangat saling mengedarkan cangkir itu. manis setitik demi setitik membuntuti waktu.
golak batu mendidih tak pernah cepat mendingin. jadi aku akan melahap waktu dengan amat lapar sebelum kelak sungguh menjadi beku.
Dini hari begitu riuh seperti metropolitan dalam kamarku. diriku yang lain hendak tidur dan melupakan. diriku yang lain rindu menuliskan. diriku yang lain masih menggebu,mengklakson, berkelip, bising menyimpan letupan batu mendidih, diriku yang lain bersyukur karena kami semua kokoh tanpa menjadi kebas hati. diantara kami hampir selalu ada cangkir hangat sedih yang diedarkan untuk dibagi. hangat sedih yang kental manis. dicicip bersama. Jatah kami malam itu. Karena kami tengah berdamai. Tak ada yang menolak atau melewatkan gilirannya mencicip. Karena itu rasanya hangat kental dan manis walaupun isinya semata cair sedih yang tak penting buat kami tanggung. Tetapi aku mengatakan ini kepada aku yang lain bukan tentang cangkir sedih itu. Tetapi tentang kami yang jarang berdamai. Kami yang saling menyabot satu sama lain. Kami yang marah karena cangkir itu selalu dibawa datang oleh salah satu dari kami untuk kami semua habiskan. aku yang selalu membawa cangkir itu. aku yang kadang menolak untuk mencicipnya bersama yang lain. aku yang selalu berusaha menggiring aku yang lain beserta cangkir itu untuk manghadapi acaranya cicip mencicip hingga tuntas semua cair kental itu. aku tahu aku tengah berdamai karena cangkir sedih itu terasa hangat dan manis. aku tahu aku tengah berseteru dengan aku yang lain bila cangkir itu terasa getir, langu atau membara didih melukai.
aku lega. ada setetes bahagia. cukup. walau bukan deras air terjun niagara. karena kami saling bicara. aku yang rindu menuliskanmu. aku yang hendak tidur dan melupakan. kami tak sungguh sepakat. tetapi setidaknya tidak saling menjambak. di sini aku tidak tidur dan tidak melupakan, tidak juga menuliskanmu. kami menulis tentang kami. hangat saling mengedarkan cangkir itu. manis setitik demi setitik membuntuti waktu.
Sunday, July 27, 2008
aspergillus
semua bermula dari keindahan. nama yang seperti rasi bintang. kerapuhan yang seperti bayi baru dibersihkan.
kedap seperti dalam bola kaca diamati dari luar. jalan yang basah, bara yang padam, abu yang lembab.
nafas yang seperti belenggu, nyeri dalam setiap tarikan, demam atau suhu tubuh yang terlalu rendah hingga belulang mengejan dalam gigil. ruang terlalu senyap yang menyulut bising benak hingga melumpuhkanku berhari-hari dari menuliskanmu. kadang jantung di kali lain, paru-paru.
keindahan tidak meminta dirinya. parasit akan mati jika tidak memakan inangnya seperti bayi akan mati tanpa susu ibunya. tanpa dibiarkan mengambil sesuatu sebelum ia pergi. parasit yang indah dan inang yang megah.
entah mengapa kerapuhan selalu lebih indah daripada kekuatan megah yang menakjubkan. kita menonton hari-hari gugurku menjelma secantik sel sel nekrotik. layu menyerahkan diri pada parasitnya yang setia. bertebar mekar seperti rasi bintang. untuk setiap genap kematian bersinarlah satu sel dan langit-langit semakin terang. Ia tak pernah meminta dirinya menjadi pembunuh inangnya. tetapi ia akan terus membunuhnya karena ia menjadi dirinya. Aku sekonyong setia padamu, kamupun setia pada dirimu. kita bercermin sebelum sel-sel itu berlongsoran dan kekuatan itu mencemaskan.
aku yang tepagut keindahan dan perlahan gugur di dalamnya, kamu bermekar kian indah dan puncakmu adalah lenyapku. setelahnya kamu pun perlahan gugur karena tak ada lagi yang tinggal menyusui keindahanmu. kita berdua kalah dan barangkali aku yang pertama menundanya juga yang pertama akan memeluknya.
kedap seperti dalam bola kaca diamati dari luar. jalan yang basah, bara yang padam, abu yang lembab.
nafas yang seperti belenggu, nyeri dalam setiap tarikan, demam atau suhu tubuh yang terlalu rendah hingga belulang mengejan dalam gigil. ruang terlalu senyap yang menyulut bising benak hingga melumpuhkanku berhari-hari dari menuliskanmu. kadang jantung di kali lain, paru-paru.
keindahan tidak meminta dirinya. parasit akan mati jika tidak memakan inangnya seperti bayi akan mati tanpa susu ibunya. tanpa dibiarkan mengambil sesuatu sebelum ia pergi. parasit yang indah dan inang yang megah.
entah mengapa kerapuhan selalu lebih indah daripada kekuatan megah yang menakjubkan. kita menonton hari-hari gugurku menjelma secantik sel sel nekrotik. layu menyerahkan diri pada parasitnya yang setia. bertebar mekar seperti rasi bintang. untuk setiap genap kematian bersinarlah satu sel dan langit-langit semakin terang. Ia tak pernah meminta dirinya menjadi pembunuh inangnya. tetapi ia akan terus membunuhnya karena ia menjadi dirinya. Aku sekonyong setia padamu, kamupun setia pada dirimu. kita bercermin sebelum sel-sel itu berlongsoran dan kekuatan itu mencemaskan.
aku yang tepagut keindahan dan perlahan gugur di dalamnya, kamu bermekar kian indah dan puncakmu adalah lenyapku. setelahnya kamu pun perlahan gugur karena tak ada lagi yang tinggal menyusui keindahanmu. kita berdua kalah dan barangkali aku yang pertama menundanya juga yang pertama akan memeluknya.
Saturday, July 12, 2008
seorang yang duduk tak jauh dariku
berjam-jam bahkan mungkin berhari-hari sudah ia duduk tak jauh dariku. Tak bersama namun juga bukan orang asing. aku mengenalnya. Tak semata mengetahui nama dalam sekali jabat, atau seasing tahu ia siapa dari membaca kartu identitas pegawai atau supir taksi.
ia angin yang dingin. diamnya membuat gigil, sementara kata dalam cerita-ceritanya runcing. sudah berjam-jam mungkin berhari-hari. cahaya di jendela tempatnya duduk tak jauh dariku sudah berubah terang dan redup seperti cerah dan mendung berulang barangkali juga beberapa siang atau malam dan sepertinya pernah hujan. Ia tak pernah menanyakan namaku, ia pun sudah mengenalku walau aku tak mengingat sejak kapan. Aku memperhatikan rautnya yang tak mirip satupun teman yang kukenal. aku berusaha mendengarkannya. tidak sulit awalnya.
ia bercerita tentang punggung-punggung yang menjauh, ia bercerita tentang perempuan, lalu tentang perempuan berikutnya, bercerita tentang kamar, tentang jalan-jalan rusak , seorang ibu dibawah lampu jalan yang penuh laron, lalu tentang perempuan lain lagi yang baru lalu. Awalnya tak sulit mendengarkannya, bahkan kutawarkan pula beberapa cerita tentang laki-laki, tentang kamu dan punggungmu. tentang sigaret di atap. tentang jendela pada pukul lima, entah barangkali ada harap yang jauh usai ku menukar ceritaku dengan ceritanya kami bisa tersenyum ketika meninggalkan jam-jam atau hari-hari itu.
ia tak pernah pergi sejak itu. aku sudah tersesat dalam hitungan kapan dan berapa lama, arlojiku lenyap dan yang tinggal hanya bekas lingkarnya di kulit yang lebih putih warnanya di lenganku.
Aku merasa demam dan ingin sendirian, namun ia menjajah hingga ke dalam mimpi-mimpiku tiap aku lari ke dalam tidur bahkan ketika kupalingkan muka berpura-pura lelap, ia di sana berhembus dalam seluruh sadarku seperti angin dingin.
tahukah kamu apa yang orang bilang ketika kita lupa cara untuk berhenti dari sesuatu? "pergi, pergilah, pergi" katanya dalam suatu pura-pura tidurku
tetapi ia yang tak mau pergi kataku dalam hati. Aku yang menahannya di sini katanya. Tetapi aku tidak mendengarnya. aku mengigau dalam demam dan ia tetap duduk tak jauh dariku. mengirimkan debar dan kata-kata itu sekali lagi ke dalam mimpi dan peluh dingin di kening. "pergi" aku mendengarnya samar seperti kata "pagi" yang duduk tak jauh dariku. embun-embun kemudian bermunculan di kepalaku. aku yang merekakan, lucid selagi ia masih duduk tak jauh dari ku. Sekali lagi alasannya bertimbun dalam lapis-lapis yang harus kubongkar satu persatu.
ia membangunkanku, tak peduli pada demamku, bercerita lagi, menghapus pagi di mimpiku. keningku terasa membara. kukatakan padanya aku memahaminya.
sesaat setelahnya kuihat punggungnya sendiri pergi meninggalkan kami. ia masih duduk tak jauh dariku.
ia angin yang dingin. diamnya membuat gigil, sementara kata dalam cerita-ceritanya runcing. sudah berjam-jam mungkin berhari-hari. cahaya di jendela tempatnya duduk tak jauh dariku sudah berubah terang dan redup seperti cerah dan mendung berulang barangkali juga beberapa siang atau malam dan sepertinya pernah hujan. Ia tak pernah menanyakan namaku, ia pun sudah mengenalku walau aku tak mengingat sejak kapan. Aku memperhatikan rautnya yang tak mirip satupun teman yang kukenal. aku berusaha mendengarkannya. tidak sulit awalnya.
ia bercerita tentang punggung-punggung yang menjauh, ia bercerita tentang perempuan, lalu tentang perempuan berikutnya, bercerita tentang kamar, tentang jalan-jalan rusak , seorang ibu dibawah lampu jalan yang penuh laron, lalu tentang perempuan lain lagi yang baru lalu. Awalnya tak sulit mendengarkannya, bahkan kutawarkan pula beberapa cerita tentang laki-laki, tentang kamu dan punggungmu. tentang sigaret di atap. tentang jendela pada pukul lima, entah barangkali ada harap yang jauh usai ku menukar ceritaku dengan ceritanya kami bisa tersenyum ketika meninggalkan jam-jam atau hari-hari itu.
ia tak pernah pergi sejak itu. aku sudah tersesat dalam hitungan kapan dan berapa lama, arlojiku lenyap dan yang tinggal hanya bekas lingkarnya di kulit yang lebih putih warnanya di lenganku.
Aku merasa demam dan ingin sendirian, namun ia menjajah hingga ke dalam mimpi-mimpiku tiap aku lari ke dalam tidur bahkan ketika kupalingkan muka berpura-pura lelap, ia di sana berhembus dalam seluruh sadarku seperti angin dingin.
tahukah kamu apa yang orang bilang ketika kita lupa cara untuk berhenti dari sesuatu? "pergi, pergilah, pergi" katanya dalam suatu pura-pura tidurku
tetapi ia yang tak mau pergi kataku dalam hati. Aku yang menahannya di sini katanya. Tetapi aku tidak mendengarnya. aku mengigau dalam demam dan ia tetap duduk tak jauh dariku. mengirimkan debar dan kata-kata itu sekali lagi ke dalam mimpi dan peluh dingin di kening. "pergi" aku mendengarnya samar seperti kata "pagi" yang duduk tak jauh dariku. embun-embun kemudian bermunculan di kepalaku. aku yang merekakan, lucid selagi ia masih duduk tak jauh dari ku. Sekali lagi alasannya bertimbun dalam lapis-lapis yang harus kubongkar satu persatu.
ia membangunkanku, tak peduli pada demamku, bercerita lagi, menghapus pagi di mimpiku. keningku terasa membara. kukatakan padanya aku memahaminya.
sesaat setelahnya kuihat punggungnya sendiri pergi meninggalkan kami. ia masih duduk tak jauh dariku.
Saturday, March 29, 2008
tentang hilang
rapuh adalah hilang yang tak penuh. hilang yang bertahan. sementara kita cenderung mencintai segala yang hilang walau tak seperti mencintainya ketika yang hilang itu ada atau ketika sungguh kembali. segala yang hilang selalu sempurna, setidaknya sempurna hilang dan yang bertahan sempurna adalah ingatan. karena ia telah sempurna, maka genaplah hilang.
ilusi perjalanan
Bebangunan peristiwa tak selalu berdiri untuk dikisahkan. Walau bangunan peristiwa disusun oleh bata waktu. Sementara waktu sertamerta berjalan. Dalam kisah ada keniscayaan perjalanan, awal dan akhir, alur dan jalinan, sementara sesuatu "ada" seringkali jauh melampaui peristiwa atau alasan. melampaui sebab akibat dan urutan. "ada" karena ada bukan karena sebab, atau perjalanan.
Disini segala hal yang ditentukan sejak awal, atau kata determinisme bukan suatu pandangan muram akan hidup yang seakan tanpa pilihan. Pilihan hanya ilusi bayang-bayang yang terproyeksi dari gagasan akan perjalanan dan jalan-jalan serta simpangan dari kurvatur waktu.
suatu kesertamertaan alur, proses dan jalinan. Dan awal akhir perjalanan, peristiwa, waktu, semuanya bergerak dalam satu bingkai "ada". Bukan lagi kisah atau rantai sebab akibat. Bukan sesuatu yang berjalan atau perjalanan. Peristiwa yang tak bisa dikisahkan karena mungkin tak bisa disebut lagi peristiwa.
Disini segala hal yang ditentukan sejak awal, atau kata determinisme bukan suatu pandangan muram akan hidup yang seakan tanpa pilihan. Pilihan hanya ilusi bayang-bayang yang terproyeksi dari gagasan akan perjalanan dan jalan-jalan serta simpangan dari kurvatur waktu.
suatu kesertamertaan alur, proses dan jalinan. Dan awal akhir perjalanan, peristiwa, waktu, semuanya bergerak dalam satu bingkai "ada". Bukan lagi kisah atau rantai sebab akibat. Bukan sesuatu yang berjalan atau perjalanan. Peristiwa yang tak bisa dikisahkan karena mungkin tak bisa disebut lagi peristiwa.
silent talks
i overheard some talks that weren't there
some talks that weren't there again when you're here
words that drench all over the drapes and sheets
infatuated the air
talks of some hollow's lost as consonants choked and vowels sored
Longing is such a self centered hungriness,
gloriously beautiful in its greed
some talks that weren't there again when you're here
words that drench all over the drapes and sheets
infatuated the air
talks of some hollow's lost as consonants choked and vowels sored
Longing is such a self centered hungriness,
gloriously beautiful in its greed
Friday, March 21, 2008
Catatan dalam "Stendhal Syndrome"
ini adalah catatan ketika ku sekonyong bangun dari tidur.
Waktu yang amat panjang untuk tidur dan terjaga lalu hidup dalam tidur dan terjaga itu seringkali menyamarkan batas keduanya.
Sering aku tak sungguh terjaga ketika bangun atau hidup. Sering aku lari dari hidup yang terjaga dengan tidur ketika bangun.
Tidur dalam larut kerja berkepanjangan, tidur dalam memilih pengabaian, bermimpi sambil hidup sehari-hari atau semata memejamkan mata dari sadar dan hidup, untuk lari, untuk jeda, untuk kemalasan menghadapi. Karena sesekali berjalan hidup sambil memejamkan mata terhadap segala lebih mudah daripada bangun dan menghadapi hari. seperti kanak-kanak yang memejamkan mata ketika takut atau sedih lalu mengucap permohonan atau sekedar menangis mengusir segala yang ofensif dari keterjagaan hidup, atau memejamkan mata menanti kejutan atau memejamkan mata ketika mata mengirimkan pesan bahwa ia telah kelimpahan sensasi keindahan dan kita memejamkan mata untuk menikmati puncak-puncak indah yang menyambut hangat seperti teduhan siang. Terjaga, dimana mimpi buruk atau mimpi indah tak sekedar lenyap ketika bangun tapi harus dihadapi. Bangun dalam jujur, bangun hidup dan sungguh hidup dalam bangun.
Tidur yang terjeda itu sarat dengan dirinya. ketika kutemukan aku tengah terjaga. Sebuah terjaga yang sempurna ketika ia masih lelap, sementara pagi jelang siang cukup teduh di jendela kamar. aku bisa memandanginya cukup lama untuk mengguratkan dia dalam ingatan. Cukup untuk mampu bertahan berpuluh tahun lamanya. Ia dan beberapa ia lain yang lelap di kasurnya, ia yang antara pejam tidurnya dan jejak bincang sebelum lelapnya genap membuatku melihatnya seperti bukan ia yang kukenal. aku melihat laki-laki, perempuan, dan kanak-kanak yang semua adalah dirinya bertahun silam. Tahun-tahun sebelum aku mengenalnya. Dalam lelap itu ia bersilih lebur antara gelora dan keteduhan, laki-laki dan perempuan dan ketika aku memalingkan pandang yang tertinggal di citraan tidurmu adalah kanak-kanak yang ramping bertulang jenjang, seperti bertahun silam telah tidur dengan celana pendeknya, lelap dengan kaki tangan lentang ke segala arah, lelah seperti habis main di luar rumah seharian. Sebuah genap terjaga yang membuatku memandangnya sekilas namun sanggup merekamnya di benak seakan dalam durasi berjam-jam. Tetapi aku tak hanya memandangnya berlama-lama, aku menginderai hadirnya. mendengar nafasnya yang teratur di kulitku dan ringkuknya di punggungku, debar jantungnya yang menggetarkan pelan helaian buku yang kubaca sembari menunggui ujung pejam nya. Aku mengalami lelap tubuhnya dan mengintip ia yang lain yang apung terbebas dalam tidurnya.
Sebuah terjaga bisa demikian jernihnya hingga aku tersedak oleh teduh yang deras dan indah yang berkepanjangan. Aku tidak tahu persis apa yang membawaku terjaga ke ruang-ruangnya, menemukan tidurnya, karena aku memejamkan mata dalam perjalananku ke sana. Memejamkan mata karena pesimisme akut akan hidup, atau sejenis amarah atas harapan yang mulai tanpa ampun menyusup seperti alir kapiler.
Memejamkan mata dalam tidur yang tak kunjung datang. Lalu aku tiba-tiba terjaga walau aku tak pernah sungguh tidur dalam pejam, terjaga jernih dan gemetar. Karena aku juga yang membiarkan diriku datang ke ruang-ruangnya di mana kutemukan hatiku telah lama mendahuluiku di sana. Bercerita seperti air terjun tentang segala. Bercerita seperti gambar lelap tidur yang kulihat di kasurnya, hatiku dan wajah-wajah itu, wajah yang hatiku kenal terlebih dulu, wajah kanak-kanak itu, perempuan itu, laki-laki penuh gelora itu, wajah-wajah darimana semula aku berusaha lari, karena kutahu ia akan menawanku dan dalam tawanannya aku akan kehilangan hasrat untuk melawan atau meloloskan diri. hatiku mendahuluiku dan kami bertemu kembali dalam keterjagaan itu. terjaga yang sempurna ketika tidurnya masih lelap sementara pagi jelang siang cukup teduh di jendela kamar...
Waktu yang amat panjang untuk tidur dan terjaga lalu hidup dalam tidur dan terjaga itu seringkali menyamarkan batas keduanya.
Sering aku tak sungguh terjaga ketika bangun atau hidup. Sering aku lari dari hidup yang terjaga dengan tidur ketika bangun.
Tidur dalam larut kerja berkepanjangan, tidur dalam memilih pengabaian, bermimpi sambil hidup sehari-hari atau semata memejamkan mata dari sadar dan hidup, untuk lari, untuk jeda, untuk kemalasan menghadapi. Karena sesekali berjalan hidup sambil memejamkan mata terhadap segala lebih mudah daripada bangun dan menghadapi hari. seperti kanak-kanak yang memejamkan mata ketika takut atau sedih lalu mengucap permohonan atau sekedar menangis mengusir segala yang ofensif dari keterjagaan hidup, atau memejamkan mata menanti kejutan atau memejamkan mata ketika mata mengirimkan pesan bahwa ia telah kelimpahan sensasi keindahan dan kita memejamkan mata untuk menikmati puncak-puncak indah yang menyambut hangat seperti teduhan siang. Terjaga, dimana mimpi buruk atau mimpi indah tak sekedar lenyap ketika bangun tapi harus dihadapi. Bangun dalam jujur, bangun hidup dan sungguh hidup dalam bangun.
Tidur yang terjeda itu sarat dengan dirinya. ketika kutemukan aku tengah terjaga. Sebuah terjaga yang sempurna ketika ia masih lelap, sementara pagi jelang siang cukup teduh di jendela kamar. aku bisa memandanginya cukup lama untuk mengguratkan dia dalam ingatan. Cukup untuk mampu bertahan berpuluh tahun lamanya. Ia dan beberapa ia lain yang lelap di kasurnya, ia yang antara pejam tidurnya dan jejak bincang sebelum lelapnya genap membuatku melihatnya seperti bukan ia yang kukenal. aku melihat laki-laki, perempuan, dan kanak-kanak yang semua adalah dirinya bertahun silam. Tahun-tahun sebelum aku mengenalnya. Dalam lelap itu ia bersilih lebur antara gelora dan keteduhan, laki-laki dan perempuan dan ketika aku memalingkan pandang yang tertinggal di citraan tidurmu adalah kanak-kanak yang ramping bertulang jenjang, seperti bertahun silam telah tidur dengan celana pendeknya, lelap dengan kaki tangan lentang ke segala arah, lelah seperti habis main di luar rumah seharian. Sebuah genap terjaga yang membuatku memandangnya sekilas namun sanggup merekamnya di benak seakan dalam durasi berjam-jam. Tetapi aku tak hanya memandangnya berlama-lama, aku menginderai hadirnya. mendengar nafasnya yang teratur di kulitku dan ringkuknya di punggungku, debar jantungnya yang menggetarkan pelan helaian buku yang kubaca sembari menunggui ujung pejam nya. Aku mengalami lelap tubuhnya dan mengintip ia yang lain yang apung terbebas dalam tidurnya.
Sebuah terjaga bisa demikian jernihnya hingga aku tersedak oleh teduh yang deras dan indah yang berkepanjangan. Aku tidak tahu persis apa yang membawaku terjaga ke ruang-ruangnya, menemukan tidurnya, karena aku memejamkan mata dalam perjalananku ke sana. Memejamkan mata karena pesimisme akut akan hidup, atau sejenis amarah atas harapan yang mulai tanpa ampun menyusup seperti alir kapiler.
Memejamkan mata dalam tidur yang tak kunjung datang. Lalu aku tiba-tiba terjaga walau aku tak pernah sungguh tidur dalam pejam, terjaga jernih dan gemetar. Karena aku juga yang membiarkan diriku datang ke ruang-ruangnya di mana kutemukan hatiku telah lama mendahuluiku di sana. Bercerita seperti air terjun tentang segala. Bercerita seperti gambar lelap tidur yang kulihat di kasurnya, hatiku dan wajah-wajah itu, wajah yang hatiku kenal terlebih dulu, wajah kanak-kanak itu, perempuan itu, laki-laki penuh gelora itu, wajah-wajah darimana semula aku berusaha lari, karena kutahu ia akan menawanku dan dalam tawanannya aku akan kehilangan hasrat untuk melawan atau meloloskan diri. hatiku mendahuluiku dan kami bertemu kembali dalam keterjagaan itu. terjaga yang sempurna ketika tidurnya masih lelap sementara pagi jelang siang cukup teduh di jendela kamar...
Wednesday, March 12, 2008
tentang lautan kecil tempat aku terbenam
embun, nafas yang tahan menggantung
seperti sekali waktu sebuah andai
aku terbangun di lautan
tetapi seperti malam kesekian aku hanya bangun tersedu
lautan itu kecil
hanya bercak dingin di seprai
langit yang beranjak terang menguapkannya jadi amarah
di tanganku pernah dituliskan rencana
rencana yang kuminasinya pengap dari malam ke malam
di rahim ku, terbunuh mimpi, tak akan ada hidup lahir
karena aku yang melarang kesedihan datang
sekalipun ia datang bersama kehidupan
seperti sekali waktu sebuah andai
aku terbangun di lautan
tetapi seperti malam kesekian aku hanya bangun tersedu
lautan itu kecil
hanya bercak dingin di seprai
langit yang beranjak terang menguapkannya jadi amarah
di tanganku pernah dituliskan rencana
rencana yang kuminasinya pengap dari malam ke malam
di rahim ku, terbunuh mimpi, tak akan ada hidup lahir
karena aku yang melarang kesedihan datang
sekalipun ia datang bersama kehidupan
Monday, March 03, 2008
Sehelai Bulu di Perairan Pasang
Kesedihan berkibaran di temali jemur angin mendung.
noda getah nya mengering di hembus yang sejuk. sejuk yang mendahului jutaan partikel air yang segera limpah terjatuh dari langit ketika mereka menghambur pulang ke tanah.
Seperti dorongan samar aku yang hendak pulang. bukan lagi padamu tetapi darimu.
langkah yang kuayun menyejukkan namun tak terelakkan dingin getir menyurup pelan.
Sejuk dan getir seperti mendung. Jenuh risau yang jatuh berdebam memercik dingin seperti ingatan akan rerintikan pertama.
Aku terdiam ketika kita berhadap bincang di ruang hari berawan. Bukan karena habis kataku atau tak tersisa ruang untukku. Aku tiba-tiba ingin kau yang mengisinya dengan dirimu setelah sekian lama garis hidup kita menyilang. Seperti ruang-ruang yang pernah kita endapkan bertahun lamanya. Aku terdiam bukan karena hilang kata.
Bicaraku selalu tandas dalam berisik dialog yang tak kau baca.
Bukan karena kau buta aksaraku namun karena kau sibuk membacai dirimu.
Kamu masih saja banyak bicara seperti terakhir kita berbincang dan aku masih saja damai terdiam di naung gelombang riak-riak ceritamu, di bebangunan epik hidupmu, yang kaudirikan, kaubongkar dan kau bangun lagi di atas kepulan asap rokok putihmu dan geming poci-poci chinese tea.
“Chinese tea.”
kita pernah mengucapnya bersamaan tanpa sepakat. ketika serentangan tunggu berdenting diatara gemericik air dan sofa lunak oase metropolis itu. Dan itu terulang tak hanya sesekali atau dua. kerap kita menginginkan hal sama tanpa sengaja. Seperti kanak-kanak bersaing akan kepemilikan sekaligus saling berbagi kegemaran. ketika tarik ulur tipis antara bersaing atau mengalah dan ketika kuat, saling menyenangkan hati. seperti warna gaun, seperti juga buku, seperti banyak hal yang sama kita inginkan untuk impian yang berbeda walaupun kita seakan-akan sama.
Sepanjang perjalanan kendara kita di peranginan itu, kau putarkan le jour de la cotê, bukan buatku. Dan aku tak keberatan mengapung dalam irama hatimu. Tak keberatan ritmemu menarikku mundur pada layar waktu semenjak terakhir aku berkendara denganmu. Kau putarkan musik itu buat dirimu yang selalu bermimpi untuk tinggal jauh dari sini, di sebuah pesisir dengan empat musim yang belum pernah kau kunjungi. Dan aku menikmati khayalmu yang serupa kanak-kanak itu. jernih dan lugu seakan tak sungguh tahu. Impianmu yang tumbuh terajut karena kau selalu larut dalam bayanganmu sendiri akan romantisme yang kita lihat di film-film atau di jendela-jendela berdebu dekat rak bukumu dan aku tak pernah mencelanya atau mengoloknya seperti aku mengolok diriku ketika menjadi seperti dirimu.
Aku selalu memahamimu nyaris seperti membaca diriku sendiri. Karenanya aku tak perlu banyak bicara. Dan kamu pun tahu ucapan-ucapanmu tidak pernah membentur tembok atau pagar-pagarku dan kamu selalu dapatkan waktu-waktu bicara kepada diriku bukan hanya padaku.
Kamu tidak pernah takut debur emosimu itu jadi olok-olok di benakku. Atau kamu tidak peduli cibiran orang akan kecengengan romantisme. karena kita naif, karena kamu bersemangat, karena kamu pecinta, karena kamu semua hal yang aku ingkari dalam diriku.
"Aku ingin mie kangkung dan segelas jahe”
(lalu menyeruputnya hangat seperti menikmati cair rindu yang leleh di perutku)
Kau terhukum dalam penjara melankoli sejak dilahirkan dengan limpahan ninabobok rasa nyalang itu. Sementara dalam dekam kita, aku mahirkan diri untuk lolos. Tetapi kau justru mencintai penjara itu. kau terlalu mencintainya. Menikmati nya seakan tempat itu rumahmu. Aku membiarkan pilihanmu terlebih lagi aku tak tahu apakah untukmu, tanah datar lebih baik daripada penjara melankoli ataukah justru sebaliknya? Itu bagian dari perjalananmu yang tak bisa kubanding dengan jalan-jalanku. Yang jelas aku selalu disini mendengarkan catatan-catatanmu yang tak kau susun runut, spontan dan berdegub hidup. Aku telah belajar untuk tidak buta aksara dirimu. Aku pun perlahan tumbuh menikmati kemampuanku membacamu dan bicara dengan bahasamu.
"Semangkuk mie kangkung dan segelas jahe, keduanya sama hangat seperti dua macam rindu."
(rindu-rindu yang terlalu hangat untuk kuizinkan terampas salah satu)
Wajahmu yang lapar mencerah, Letupmu naik dan turun, ritme semangatmu dan golak lonjak benakmu kau ucap tanpa terbata, walau sesekali kamu melupakan kata, Dalam sendat itu aku yang selalu mendahului mulutmu menangkap benakmu dan tanpa ragu mengisikan ruang kata yang hilang di medan bincang kita itu untukmu.
Melihat arusmu aku melihat arus diriku sendiri dibawah permukaan datarku. Semua jadi nyala dan bersuara di letupmu, aku melihat diriku. Diriku yang tanpa pagar, tanpa pertahanan.
Seperti aku yang tanpa perlawanan terseret arus ke dasar legam seorang asing. pusaran arus yang terlalu kuat dan tak kulepaskan karena keinginanku pun demikian kuat untuk hanyut. Walau hanyutku itu memar karena aku tak bisa larut ataupun surut serupa pusaran atau arus-arus itu, mememarkan karena memar adalah harga yang harus kubayar untuk tetap menjadi aku.
Aku yang terus terseret pusar arus yang merampasku dari tuturan cairmu tanpa kau tahu.
Kau juga tidak tahu yang beruntuhan di bawah cerita-ceritamu tentang masa lalu dan masa depan. Ketika langlangmu ranum tentang yang tidak kau ketahui tentang dirimu yang kini dan apa yang kau harapkan dari masa depan ketika kau tidak tahu tentang masa kini. Seperti kau tidak tahu yang diam-diam bergerilya di langit benakku, yang bergerilya di bawah untai untai katamu, dan yang bergerilya di balik terik pedih mataku yang lepaskan kembaranya sendiri kadang jauh meninggalkan celoteh narasi karibmu. Aku terkadang seakan berkhianat pada curah kisah-kisahmu. duh, maafkan aku, tapi andai kamu tahu, kamu pun akan memahami itu seperti aku terbiasa membacaimu huruf huruf di matamu lebih dari ocehan bibir cangkir kita bernoda lipstik yang lelah karena kau tak henti mengurai dirimu, bentangan bicara yang serupa diriku yang kusembunyi.
"wajahmu seperti sore dan aku semangkuk mie kangkung hangat yang beranjak menjadi dingin di peranginan bekumu yang menghantui"
ceguk hangat lagi seiring getir itu meleleh diantara dengarku akan celotehmu. Bukan karena hadirmu atau kata-katamu yang sesekali menusuk ke rusuk ku seperti gelagap, penuh ruah kejujuranmu. kau selalu jadi juru bicara kejujuran dengan kepolosan letupmu yang tanpa suara menamparku ketika aku mulai menutup telinga dari mendengar suaranya di hatiku sendiri, kau selalu yang menyaringkannya tanpa kau sadari. Dan aku disana selalu tercenung dan tergagap akan cermin diriku sendiri yang berusaha kupecahkan karena takut. karena gelisah. karena pagar pertahanan yang kubangun untuk melindungi diri. aku begitu pengecut di bawah suar kata-kata mu yang nyaring. Tegak, lantang dan sembrono. aku mengagumi sekaligus memprotesmu berulang kali dalam diriku. Tetapi tak pernah terselip jedamu membiarkan kata-kataku menetes ke keningmu yang mengelupas kering itu dan aku menunggu, menyimpannya buatmu.
"aku haus.."
"kamu tak perlu segelas jahe"
"berikan padaku sisa-sisa teh di poci"
"poci itu tandas di cangkirku"
"cangkirmu dan noda lipstick itu, tadi pagi aku tidak memulas bibirku"
dibawah frekuensi suaramu, aku berperang dalam getar getir alir bayang benakku sendiri.
frekuensi yang barangkali kau tangkap samar di selaput dadamu. ketika aku merasa menjadi seperti hantu dan aku menggapaimu diam-diam untuk menolongku walau tak sepatah katapun keluar dari bibirku.
aku tidak pernah memilih menjadi seperti fantom yang dilupakan oleh masa ketika berlalu.
Tetapi aku bersedia menjadi hantu-hantu itu demi satu hal yang barangkali hanya kau yang naif dan aku yang bodoh membiarkannya baranya erat tergenggam dan melepuhkan.
Kita selalu kehilangan diri karenanya dan kita merelakan diri-diri yang hilang itu demi kenaifan yang tidak pernah remeh untuk kita.
aku tersenyum. Sembunyi dibalik punggung narasimu dari sekelebat kebanggaan yang membuatku terlalu angkuh untuk mengakui lututku yang lemah di arus pusaran yang membawaku terbenam jauh ke dasar mendung. Membiarkan pengakuanku diam-diam menjarah sadarku dari keluh-keluh karibmu dan hanya kamu yang tidak akan mentertawakan cinta. Ketika itu yang kutuduhkan sebagai jawab alasan segala kebodohanku.
Kau tidak pernah peduli menghitung harga kebanggaan dari tidak menjadi seorang pandir.
Harga terantuk bebatuan dan melenyapkan diri menjadi seolah bayang-bayang.
Batu-batu di jalan yang kemudian tersusun bangun menjadi rumah kehidupan. Sementara kutemukan rumahku sendiri di gaung fantom nadirku pada sudut-sudutnya. Aku menumpang tinggal dalam ada dan tiada naungnya.
Rumah itu bukan tempatku, Aku diundang tinggal dalam serentangan waktu yang pemiliknya sendiri tak akan tahu. Tinggalku yang sisihkan kenang sebagai hadir yang tak lekang di bebatuan bangunannya. Seperti sebait, dua bait puisi temtasi oleh hantu-hantu hasrat yang mengalir dibawah hidup. Hidup yang terjalin terlalu sempurna untuk bisa kuretas lagi.
kamu pasti tak mengerti. Mengapa aku nanti akan tiba-tiba bicara tentang hantu. Dan aku akan kesulitan mengurainya di tengah deras alir katamu yang menggulung-debur. Dan kikis benakku dihempas oleh ombakmu dan ombak bathinku sendiri yang menangis penuh gairah oleh badai-badai emosi kita yang berduet dalam nir jeda.
Aku memilih menyimpan bincang itu sekali lagi dibawah frekuensi dengarmu, dibawah arus deras kata-katamu, bergerilya diantara sirat bibir dan air mukaku yang tak membeku mendengarkanmu. aku terbiasa menggantikanmu bercakap untuk diriku sendiri, menjadi dialog hantu yang tak pernah terjadi namun meninggalkan jejak gema dan getarnya seperti sentak trauma yang manis ketika aku dikejutkan oleh kejujurannya.
"Bermangkuk-mangkuk Mie kangkung tak akan pernah mengenyangkanmu."
"Dan kelaparan tak pernah surut menggentayangi malam”
"seperti kita.."
(sejenak ruang itu terbuka untuk gelak tawa yang tak kunjung terisi bunyi).
Aku menunggu, kau menungguiku menunggu. Sekali lagi kita tiba di insiden itu.
Seperti dua poci chinese tea dipesan bersamaan di atas meja ruang hari yang berawan.
Jemuran berkibar-kibar seperti kesedihan. Menggelepak tersedak deras angin tanpa teduhan.
kamu telah menumpahkan sisa chinese tea kita di lanskap mendung. Kemudian aku mulai merasakan kosongnya membawaku ringan dalam lepas tanpa pedulikan hembus sejuk yang resah. Seperti bayang itu buatmu. seperti hantu atau semata mahluk tanpa preposisi. Seorang hantu? seekor hantu? atau sekedar hantu? hantu yang dibicarakan semua orang namun hanya disapa oleh segelintir yang dilahirkan untuk menyapanya. Tetapi barangkali hantu-hantu pula yang memilih segelintir mereka..
"aku harus pulang, mengapa hari tak kunjung malam?"
Kamu pergi di setandasnya cangkir, sebelum aku sempat luruhkan padat awan di dadaku itu ke tanah-tanahmu. Kemudian mendung seolah tak akan pecah, dan rotasi henti dalam langit yang selamanya menunggu, siang atau malam yang kehilangan rupa di permukaan teh kita yang mengampas. Tetapi kau masih saja bicara ketika kau tiada.
Hingga aku rindukan tanya atas celoteh yang masih bersahut di kepala. Sungguhkah dirimu atau aku mendengar riak-riakku sendiri yang kukuburkan dari jalan-jalan kita, dari tubuh yang kubawa dan kuseret dihadapan segala. Rapat menyembunyikan ceruk sedih yang lepuh beerupsi seperti percik dirimu di sepanjang suatu jelang.
Jejak lipstikmu kuusap ketika membilas cangkir kosong dengan ampasnya di peranginan jelang hujan yang tak kunjung datang. Aku terjaga telah mengabaikan bicara-bicaramu dan membangun narasiku sendiri diatasnya, menjadikan kata-katamu pijak sebelum aku beterbangan meninggalkan beranda sadar kita, mengundur diri ke ruangku sendiri.
Surut dari bayangku akan kecewamu sejak aku meninggalkanmu terlebih dulu walau tubuhku masih tinggal mendengarmu.
"aku tak mendengar kalimatmu yang terakhir"
"aku tak mau mendengarku mengucapnya lagi"
Kau pun mengering dan aku menguap. Kita barangkali terlalu banyak bicara. Kamu dan segala ucap bibirmu, aku dalam riuh rendah di kebisuanku. Kita jadi terlalu berat dan penat oleh kata. Gerah ditekan Jutaan butir air yang masif dan menjenuh pengap jauh diatas ubun-ubun kita. Mereka tak tahan lagi oleh gerah keinginan menghambur jatuh memeluk tanah. jutaan mereka yang mengeluh padaku akan uap chinese tea kita, menyerakan serpih kata-katamu dan catatan golak dibawah permukaanku.
Mereka terlalu sarat akan masif jutaan serpih yang seperti kita. Mereka terhukum oleh sisa chinese tea yang menuturkan lagi pikiranku, pikiran kita. Mereka renta, tertempa masif cerita dari cair berjuta cangkir atau percik aksara. Aksara bakal embun yang endapnya genang dalam menunggu jatuhnya. jutaan mereka yang haus rindukan rebahnya kembali ke talang-talang berdentingan, rindukan pulangnya ke langit, bahkan sebelum habis rindunya terjatuh ke liang-liang bumi. Namun raksasa waktu tak murah hati biarkan rontoknya tuntas dan basah. Menyudahi dialog demi dialog tak berujung antara aku, aku dan kamu, kita yang terlampau telah, terlalu banyak bicara dalam bahasa masing-masing. Tanpa banyak berpaling, punggungi memar cecar kerinduan dan kepulangan. Merintikkan kata yang kucerap darimu di suatu waktu:
“Pulang pada ku, bukan pulang dari ku.”
Desember 2003-2005
noda getah nya mengering di hembus yang sejuk. sejuk yang mendahului jutaan partikel air yang segera limpah terjatuh dari langit ketika mereka menghambur pulang ke tanah.
Seperti dorongan samar aku yang hendak pulang. bukan lagi padamu tetapi darimu.
langkah yang kuayun menyejukkan namun tak terelakkan dingin getir menyurup pelan.
Sejuk dan getir seperti mendung. Jenuh risau yang jatuh berdebam memercik dingin seperti ingatan akan rerintikan pertama.
Aku terdiam ketika kita berhadap bincang di ruang hari berawan. Bukan karena habis kataku atau tak tersisa ruang untukku. Aku tiba-tiba ingin kau yang mengisinya dengan dirimu setelah sekian lama garis hidup kita menyilang. Seperti ruang-ruang yang pernah kita endapkan bertahun lamanya. Aku terdiam bukan karena hilang kata.
Bicaraku selalu tandas dalam berisik dialog yang tak kau baca.
Bukan karena kau buta aksaraku namun karena kau sibuk membacai dirimu.
Kamu masih saja banyak bicara seperti terakhir kita berbincang dan aku masih saja damai terdiam di naung gelombang riak-riak ceritamu, di bebangunan epik hidupmu, yang kaudirikan, kaubongkar dan kau bangun lagi di atas kepulan asap rokok putihmu dan geming poci-poci chinese tea.
“Chinese tea.”
kita pernah mengucapnya bersamaan tanpa sepakat. ketika serentangan tunggu berdenting diatara gemericik air dan sofa lunak oase metropolis itu. Dan itu terulang tak hanya sesekali atau dua. kerap kita menginginkan hal sama tanpa sengaja. Seperti kanak-kanak bersaing akan kepemilikan sekaligus saling berbagi kegemaran. ketika tarik ulur tipis antara bersaing atau mengalah dan ketika kuat, saling menyenangkan hati. seperti warna gaun, seperti juga buku, seperti banyak hal yang sama kita inginkan untuk impian yang berbeda walaupun kita seakan-akan sama.
Sepanjang perjalanan kendara kita di peranginan itu, kau putarkan le jour de la cotê, bukan buatku. Dan aku tak keberatan mengapung dalam irama hatimu. Tak keberatan ritmemu menarikku mundur pada layar waktu semenjak terakhir aku berkendara denganmu. Kau putarkan musik itu buat dirimu yang selalu bermimpi untuk tinggal jauh dari sini, di sebuah pesisir dengan empat musim yang belum pernah kau kunjungi. Dan aku menikmati khayalmu yang serupa kanak-kanak itu. jernih dan lugu seakan tak sungguh tahu. Impianmu yang tumbuh terajut karena kau selalu larut dalam bayanganmu sendiri akan romantisme yang kita lihat di film-film atau di jendela-jendela berdebu dekat rak bukumu dan aku tak pernah mencelanya atau mengoloknya seperti aku mengolok diriku ketika menjadi seperti dirimu.
Aku selalu memahamimu nyaris seperti membaca diriku sendiri. Karenanya aku tak perlu banyak bicara. Dan kamu pun tahu ucapan-ucapanmu tidak pernah membentur tembok atau pagar-pagarku dan kamu selalu dapatkan waktu-waktu bicara kepada diriku bukan hanya padaku.
Kamu tidak pernah takut debur emosimu itu jadi olok-olok di benakku. Atau kamu tidak peduli cibiran orang akan kecengengan romantisme. karena kita naif, karena kamu bersemangat, karena kamu pecinta, karena kamu semua hal yang aku ingkari dalam diriku.
"Aku ingin mie kangkung dan segelas jahe”
(lalu menyeruputnya hangat seperti menikmati cair rindu yang leleh di perutku)
Kau terhukum dalam penjara melankoli sejak dilahirkan dengan limpahan ninabobok rasa nyalang itu. Sementara dalam dekam kita, aku mahirkan diri untuk lolos. Tetapi kau justru mencintai penjara itu. kau terlalu mencintainya. Menikmati nya seakan tempat itu rumahmu. Aku membiarkan pilihanmu terlebih lagi aku tak tahu apakah untukmu, tanah datar lebih baik daripada penjara melankoli ataukah justru sebaliknya? Itu bagian dari perjalananmu yang tak bisa kubanding dengan jalan-jalanku. Yang jelas aku selalu disini mendengarkan catatan-catatanmu yang tak kau susun runut, spontan dan berdegub hidup. Aku telah belajar untuk tidak buta aksara dirimu. Aku pun perlahan tumbuh menikmati kemampuanku membacamu dan bicara dengan bahasamu.
"Semangkuk mie kangkung dan segelas jahe, keduanya sama hangat seperti dua macam rindu."
(rindu-rindu yang terlalu hangat untuk kuizinkan terampas salah satu)
Wajahmu yang lapar mencerah, Letupmu naik dan turun, ritme semangatmu dan golak lonjak benakmu kau ucap tanpa terbata, walau sesekali kamu melupakan kata, Dalam sendat itu aku yang selalu mendahului mulutmu menangkap benakmu dan tanpa ragu mengisikan ruang kata yang hilang di medan bincang kita itu untukmu.
Melihat arusmu aku melihat arus diriku sendiri dibawah permukaan datarku. Semua jadi nyala dan bersuara di letupmu, aku melihat diriku. Diriku yang tanpa pagar, tanpa pertahanan.
Seperti aku yang tanpa perlawanan terseret arus ke dasar legam seorang asing. pusaran arus yang terlalu kuat dan tak kulepaskan karena keinginanku pun demikian kuat untuk hanyut. Walau hanyutku itu memar karena aku tak bisa larut ataupun surut serupa pusaran atau arus-arus itu, mememarkan karena memar adalah harga yang harus kubayar untuk tetap menjadi aku.
Aku yang terus terseret pusar arus yang merampasku dari tuturan cairmu tanpa kau tahu.
Kau juga tidak tahu yang beruntuhan di bawah cerita-ceritamu tentang masa lalu dan masa depan. Ketika langlangmu ranum tentang yang tidak kau ketahui tentang dirimu yang kini dan apa yang kau harapkan dari masa depan ketika kau tidak tahu tentang masa kini. Seperti kau tidak tahu yang diam-diam bergerilya di langit benakku, yang bergerilya di bawah untai untai katamu, dan yang bergerilya di balik terik pedih mataku yang lepaskan kembaranya sendiri kadang jauh meninggalkan celoteh narasi karibmu. Aku terkadang seakan berkhianat pada curah kisah-kisahmu. duh, maafkan aku, tapi andai kamu tahu, kamu pun akan memahami itu seperti aku terbiasa membacaimu huruf huruf di matamu lebih dari ocehan bibir cangkir kita bernoda lipstik yang lelah karena kau tak henti mengurai dirimu, bentangan bicara yang serupa diriku yang kusembunyi.
"wajahmu seperti sore dan aku semangkuk mie kangkung hangat yang beranjak menjadi dingin di peranginan bekumu yang menghantui"
ceguk hangat lagi seiring getir itu meleleh diantara dengarku akan celotehmu. Bukan karena hadirmu atau kata-katamu yang sesekali menusuk ke rusuk ku seperti gelagap, penuh ruah kejujuranmu. kau selalu jadi juru bicara kejujuran dengan kepolosan letupmu yang tanpa suara menamparku ketika aku mulai menutup telinga dari mendengar suaranya di hatiku sendiri, kau selalu yang menyaringkannya tanpa kau sadari. Dan aku disana selalu tercenung dan tergagap akan cermin diriku sendiri yang berusaha kupecahkan karena takut. karena gelisah. karena pagar pertahanan yang kubangun untuk melindungi diri. aku begitu pengecut di bawah suar kata-kata mu yang nyaring. Tegak, lantang dan sembrono. aku mengagumi sekaligus memprotesmu berulang kali dalam diriku. Tetapi tak pernah terselip jedamu membiarkan kata-kataku menetes ke keningmu yang mengelupas kering itu dan aku menunggu, menyimpannya buatmu.
"aku haus.."
"kamu tak perlu segelas jahe"
"berikan padaku sisa-sisa teh di poci"
"poci itu tandas di cangkirku"
"cangkirmu dan noda lipstick itu, tadi pagi aku tidak memulas bibirku"
dibawah frekuensi suaramu, aku berperang dalam getar getir alir bayang benakku sendiri.
frekuensi yang barangkali kau tangkap samar di selaput dadamu. ketika aku merasa menjadi seperti hantu dan aku menggapaimu diam-diam untuk menolongku walau tak sepatah katapun keluar dari bibirku.
aku tidak pernah memilih menjadi seperti fantom yang dilupakan oleh masa ketika berlalu.
Tetapi aku bersedia menjadi hantu-hantu itu demi satu hal yang barangkali hanya kau yang naif dan aku yang bodoh membiarkannya baranya erat tergenggam dan melepuhkan.
Kita selalu kehilangan diri karenanya dan kita merelakan diri-diri yang hilang itu demi kenaifan yang tidak pernah remeh untuk kita.
aku tersenyum. Sembunyi dibalik punggung narasimu dari sekelebat kebanggaan yang membuatku terlalu angkuh untuk mengakui lututku yang lemah di arus pusaran yang membawaku terbenam jauh ke dasar mendung. Membiarkan pengakuanku diam-diam menjarah sadarku dari keluh-keluh karibmu dan hanya kamu yang tidak akan mentertawakan cinta. Ketika itu yang kutuduhkan sebagai jawab alasan segala kebodohanku.
Kau tidak pernah peduli menghitung harga kebanggaan dari tidak menjadi seorang pandir.
Harga terantuk bebatuan dan melenyapkan diri menjadi seolah bayang-bayang.
Batu-batu di jalan yang kemudian tersusun bangun menjadi rumah kehidupan. Sementara kutemukan rumahku sendiri di gaung fantom nadirku pada sudut-sudutnya. Aku menumpang tinggal dalam ada dan tiada naungnya.
Rumah itu bukan tempatku, Aku diundang tinggal dalam serentangan waktu yang pemiliknya sendiri tak akan tahu. Tinggalku yang sisihkan kenang sebagai hadir yang tak lekang di bebatuan bangunannya. Seperti sebait, dua bait puisi temtasi oleh hantu-hantu hasrat yang mengalir dibawah hidup. Hidup yang terjalin terlalu sempurna untuk bisa kuretas lagi.
kamu pasti tak mengerti. Mengapa aku nanti akan tiba-tiba bicara tentang hantu. Dan aku akan kesulitan mengurainya di tengah deras alir katamu yang menggulung-debur. Dan kikis benakku dihempas oleh ombakmu dan ombak bathinku sendiri yang menangis penuh gairah oleh badai-badai emosi kita yang berduet dalam nir jeda.
Aku memilih menyimpan bincang itu sekali lagi dibawah frekuensi dengarmu, dibawah arus deras kata-katamu, bergerilya diantara sirat bibir dan air mukaku yang tak membeku mendengarkanmu. aku terbiasa menggantikanmu bercakap untuk diriku sendiri, menjadi dialog hantu yang tak pernah terjadi namun meninggalkan jejak gema dan getarnya seperti sentak trauma yang manis ketika aku dikejutkan oleh kejujurannya.
"Bermangkuk-mangkuk Mie kangkung tak akan pernah mengenyangkanmu."
"Dan kelaparan tak pernah surut menggentayangi malam”
"seperti kita.."
(sejenak ruang itu terbuka untuk gelak tawa yang tak kunjung terisi bunyi).
Aku menunggu, kau menungguiku menunggu. Sekali lagi kita tiba di insiden itu.
Seperti dua poci chinese tea dipesan bersamaan di atas meja ruang hari yang berawan.
Jemuran berkibar-kibar seperti kesedihan. Menggelepak tersedak deras angin tanpa teduhan.
kamu telah menumpahkan sisa chinese tea kita di lanskap mendung. Kemudian aku mulai merasakan kosongnya membawaku ringan dalam lepas tanpa pedulikan hembus sejuk yang resah. Seperti bayang itu buatmu. seperti hantu atau semata mahluk tanpa preposisi. Seorang hantu? seekor hantu? atau sekedar hantu? hantu yang dibicarakan semua orang namun hanya disapa oleh segelintir yang dilahirkan untuk menyapanya. Tetapi barangkali hantu-hantu pula yang memilih segelintir mereka..
"aku harus pulang, mengapa hari tak kunjung malam?"
Kamu pergi di setandasnya cangkir, sebelum aku sempat luruhkan padat awan di dadaku itu ke tanah-tanahmu. Kemudian mendung seolah tak akan pecah, dan rotasi henti dalam langit yang selamanya menunggu, siang atau malam yang kehilangan rupa di permukaan teh kita yang mengampas. Tetapi kau masih saja bicara ketika kau tiada.
Hingga aku rindukan tanya atas celoteh yang masih bersahut di kepala. Sungguhkah dirimu atau aku mendengar riak-riakku sendiri yang kukuburkan dari jalan-jalan kita, dari tubuh yang kubawa dan kuseret dihadapan segala. Rapat menyembunyikan ceruk sedih yang lepuh beerupsi seperti percik dirimu di sepanjang suatu jelang.
Jejak lipstikmu kuusap ketika membilas cangkir kosong dengan ampasnya di peranginan jelang hujan yang tak kunjung datang. Aku terjaga telah mengabaikan bicara-bicaramu dan membangun narasiku sendiri diatasnya, menjadikan kata-katamu pijak sebelum aku beterbangan meninggalkan beranda sadar kita, mengundur diri ke ruangku sendiri.
Surut dari bayangku akan kecewamu sejak aku meninggalkanmu terlebih dulu walau tubuhku masih tinggal mendengarmu.
"aku tak mendengar kalimatmu yang terakhir"
"aku tak mau mendengarku mengucapnya lagi"
Kau pun mengering dan aku menguap. Kita barangkali terlalu banyak bicara. Kamu dan segala ucap bibirmu, aku dalam riuh rendah di kebisuanku. Kita jadi terlalu berat dan penat oleh kata. Gerah ditekan Jutaan butir air yang masif dan menjenuh pengap jauh diatas ubun-ubun kita. Mereka tak tahan lagi oleh gerah keinginan menghambur jatuh memeluk tanah. jutaan mereka yang mengeluh padaku akan uap chinese tea kita, menyerakan serpih kata-katamu dan catatan golak dibawah permukaanku.
Mereka terlalu sarat akan masif jutaan serpih yang seperti kita. Mereka terhukum oleh sisa chinese tea yang menuturkan lagi pikiranku, pikiran kita. Mereka renta, tertempa masif cerita dari cair berjuta cangkir atau percik aksara. Aksara bakal embun yang endapnya genang dalam menunggu jatuhnya. jutaan mereka yang haus rindukan rebahnya kembali ke talang-talang berdentingan, rindukan pulangnya ke langit, bahkan sebelum habis rindunya terjatuh ke liang-liang bumi. Namun raksasa waktu tak murah hati biarkan rontoknya tuntas dan basah. Menyudahi dialog demi dialog tak berujung antara aku, aku dan kamu, kita yang terlampau telah, terlalu banyak bicara dalam bahasa masing-masing. Tanpa banyak berpaling, punggungi memar cecar kerinduan dan kepulangan. Merintikkan kata yang kucerap darimu di suatu waktu:
“Pulang pada ku, bukan pulang dari ku.”
Desember 2003-2005
in a lap of luxury, a luxury of grief
a home in the luxury of grief. a warm resting place for broken creatures,
creatures like you, human and i, a creature in the absence of you, and what seems left in your void is anguish. an idyllic anger as all i was. Worse than sadness yet stangely suits better.
but the truth is, who were falsely at peace is locked between myself and i, danggling in a fine thread of hope. nay, a graveless hope. crawling, flying, dusting over this shiny overrated thingy called life
.....
sebuah pesan membanjirkan debar silam. sebuah hadir lalu selautan sepi yang gamang. kesempatan bertemu yang terlalu mahal lalu kulewatkan, ilusi tentang ruang-ruang tunggu yang semakin nyaman. bunyi detik waktu di dinding yang memabukkan.
ruang tunggu yang kuperdebatkan, ruang tunggu yang mungkin hanya harap-harap kosong dari kata-kata yang telah pergi jauh hingga sesuatu bernama kejauhan hilang tertelan. konspirasi kosmik yang keji dalam serentangan waktu yang belum bergegas usai, menggali paksa kekosongan senyap yang lebih mirip sebuah ketidakberdayaan. keluhan manja berkepanjangan, kepentingan hidup yang dilebih-lebihkan, lalu simpul amarah lagi. amarah atas lemah. lalu pendamaian. keniscayaan mekanisme perlindungan. kenaifan yang sepeti kutukan.
Lalu sertamerta sebuah jeda sebelum gapaian. kadang sejenak kadang berkepanjangan. lalu gapai untuk imbang itu datang bertubi-tubi. Gapai yang seperti kecemasan yang mencari kelegaan atau pertolongan kepada kamar-kamar yang tenang di masa silam atau semata seseorang yang lain, awalnya seperti kenangan, gambar seyuman, wajah yang masih karib, seperti sedak hangat yang lalu leleh mencekam. gapai jemari ke pesan-pesan singkat yang sering tak pernah dikirimkan. karena pesan-pesan itu hanya gapaian. kadang sebuah ketuk di pintu, kadang jeritan yang terbungkus sebuah ketikan.."hi" atau ":)", kadang bermacam gamang yang hanya disederhanakan dalam sebutan rindu, kadang gejolak hingar bingar yang begitu cemas menjadi picisan hingga ia tak pernah dikirimkan atau dibicarakan. kadang terkirim dan tak bersambut kadang tak terkirim karena ketakutan akan gapaian yang tak bersambut lebih memerihkan daripada akar gapaian itu sendiri.
tapi aku tak berdaya tak menuliskan gapai-gapai itu, di-permisi-kan pada tiap jendela taxi dan kendara-kendara malam yang panjang, di setiap keterdiaman, di setiap bantal dalam remang sebelum lelap lepas berlayar, pada langit di atap-atap kota dan balet layang-layang. bukan dengan kode sandi, bahasa rahasia yang akan dipecahkan ketika ditemukan. gapai-gapai itu debu. lenyap tersesat sehabis penebangan emosi yang terasa megah terartikulasi.
3/26/07
creatures like you, human and i, a creature in the absence of you, and what seems left in your void is anguish. an idyllic anger as all i was. Worse than sadness yet stangely suits better.
but the truth is, who were falsely at peace is locked between myself and i, danggling in a fine thread of hope. nay, a graveless hope. crawling, flying, dusting over this shiny overrated thingy called life
.....
sebuah pesan membanjirkan debar silam. sebuah hadir lalu selautan sepi yang gamang. kesempatan bertemu yang terlalu mahal lalu kulewatkan, ilusi tentang ruang-ruang tunggu yang semakin nyaman. bunyi detik waktu di dinding yang memabukkan.
ruang tunggu yang kuperdebatkan, ruang tunggu yang mungkin hanya harap-harap kosong dari kata-kata yang telah pergi jauh hingga sesuatu bernama kejauhan hilang tertelan. konspirasi kosmik yang keji dalam serentangan waktu yang belum bergegas usai, menggali paksa kekosongan senyap yang lebih mirip sebuah ketidakberdayaan. keluhan manja berkepanjangan, kepentingan hidup yang dilebih-lebihkan, lalu simpul amarah lagi. amarah atas lemah. lalu pendamaian. keniscayaan mekanisme perlindungan. kenaifan yang sepeti kutukan.
Lalu sertamerta sebuah jeda sebelum gapaian. kadang sejenak kadang berkepanjangan. lalu gapai untuk imbang itu datang bertubi-tubi. Gapai yang seperti kecemasan yang mencari kelegaan atau pertolongan kepada kamar-kamar yang tenang di masa silam atau semata seseorang yang lain, awalnya seperti kenangan, gambar seyuman, wajah yang masih karib, seperti sedak hangat yang lalu leleh mencekam. gapai jemari ke pesan-pesan singkat yang sering tak pernah dikirimkan. karena pesan-pesan itu hanya gapaian. kadang sebuah ketuk di pintu, kadang jeritan yang terbungkus sebuah ketikan.."hi" atau ":)", kadang bermacam gamang yang hanya disederhanakan dalam sebutan rindu, kadang gejolak hingar bingar yang begitu cemas menjadi picisan hingga ia tak pernah dikirimkan atau dibicarakan. kadang terkirim dan tak bersambut kadang tak terkirim karena ketakutan akan gapaian yang tak bersambut lebih memerihkan daripada akar gapaian itu sendiri.
tapi aku tak berdaya tak menuliskan gapai-gapai itu, di-permisi-kan pada tiap jendela taxi dan kendara-kendara malam yang panjang, di setiap keterdiaman, di setiap bantal dalam remang sebelum lelap lepas berlayar, pada langit di atap-atap kota dan balet layang-layang. bukan dengan kode sandi, bahasa rahasia yang akan dipecahkan ketika ditemukan. gapai-gapai itu debu. lenyap tersesat sehabis penebangan emosi yang terasa megah terartikulasi.
3/26/07
Saturday, January 26, 2008
Pengakuan Pencuri
Apakah kamu pencuri? apakah kamu mencuri karena lapar sepi? ataukah kamu mencuri karena tak punya hati? sendirian itu mudah, menjaga keseimbangannya tidak. sendirian itu rumah yang hangat, penuh, terkunci. kokoh menjulang tinggi. Penghuninya tak perlu lagi pergi, atau menyeberang jalan ke halaman-halaman asing. Begitu angkuhnya ia menjadi rapuh. segala yang rapuh selalu indah segala yang indah karena rapuh itu sedih. demikian amat sedihnya ia menghancurkan hati. Lalu selalu ada dahaga sepi yang menjulang semahal hati. Karena rumah itu tak lagi membuka pintu untuk penghuninya keluar ke jalan atau ke pasar dan penghuninya tak selalu punya hati. Di dalam rumah hangat terkunci itu aku lapar, maka aku keluar mencuri. bukan mencuri hati, mencuri penawar dahaga sepi yang harusnya dibayar dengan hati. Aku pencuri menyelinap ke rumah-rumah dan halamanmu. Tak pernah tawar lapar itu karena aku hanya selalu mencuri. Apa yang membedakanku dengan pencuri roti? mereka tak punya uang sementara aku tak punya hati. tetapi kami sama lapar dan ingin memiliki.
Wednesday, January 09, 2008
pot di depan jendela
terlalu banyak puisi yang ditanam setiap pot depan jendela
entah kering atau berbunga
sejenis bahasa kode planet-planet kecil dibalik tirai renda
dan pengurai sandi, embun kaca
pintu-pintu terkunci bertulis "vakansi"
kotak posnya, satelitku beralamat jarak
mengorbit dalam senyap yang tersisih
tak ada bercak rindu, atau haru biru
hanya debar berkeping yang jatuhnya tak kunjung sampai ke tanah
berbulan, berpanjang-panjang
dalam rentang yang kutempuh ketika jatuh itu ada pemandangan
jendela-jendela berpot dan penghuni yang sama
:melambai, "aku tak berhasrat pulang"
entah kering atau berbunga
sejenis bahasa kode planet-planet kecil dibalik tirai renda
dan pengurai sandi, embun kaca
pintu-pintu terkunci bertulis "vakansi"
kotak posnya, satelitku beralamat jarak
mengorbit dalam senyap yang tersisih
tak ada bercak rindu, atau haru biru
hanya debar berkeping yang jatuhnya tak kunjung sampai ke tanah
berbulan, berpanjang-panjang
dalam rentang yang kutempuh ketika jatuh itu ada pemandangan
jendela-jendela berpot dan penghuni yang sama
:melambai, "aku tak berhasrat pulang"
kerlip
Sebuah pertemuan, barangkali dengan sedikit perbincangan, pergi meninggalkan karib, manis, apung, lalu arus degub asing dibawah bayang-bayang ingatan yang segar akan pertemuan yang baru lalu itu. arus menderas degub asing yang mirip sejenis nyeri. seperti warung yang nyala di malam buta memajang rupa-rupa nyeri yang bukan sedih dengan label merk warna warni bertuliskan bahasa yang tak kupahami. nyeri akan jarak yang tak habis dibakar dengan berbatang-batang kretek atau nyeri akan tercecernya banyak kata-kata sebelum mencapai pengungkapannya. nyeri akan gemetar yang riuh tanpa diundang. nyeri yang tidak menyakiti, hanya semacam rasa disorientasi. Nyeri yang berkelip-kelip ketika pemandangan perjalananku setelahnya menjelma redup. nyeri ganjil tanpa alasan ataupun luka. hanya nyala terbalik kegelapan, dan terang yang bergerak kelam. seperti klise film. kerlip yang membuatku menemukan diriku yang lelah, menerangi jengah yang mirip amarah atau barangkali semata-mata lelah. nyeri yang berkerlip tidak hanya seperti cahaya tapi juga bergerak seperti suara. suara yang berkerlip mengedapkan telinga. kerlip yang merampas bunyi sikat gigi dan kucur air di wastafel, bunyi tv menyala, motor di jalan, kipas angin, jendela yang dikunci, lampu yang menyala, kunci yang diletakkan di meja, gelas yang dituangi air.
kerlip yang melelahkan. kadang meletup memualkan, namun sesaat hanya melelahkan lagi, lalu menenangkan, lalu kembali memualkan atau melelahkan. semacam lelah menemukan diri atau kehilangan lagi. lelah terjaga dan lelah tertidur, lelah beranjak pergi dan lelah beristirahat dalam ingatan-angatan lampau, lelah menjadi perempuan, lelah menjadi laki-laki, lelah memiliki kelamin dan lelah meniadakannya, lelah memanjangkan rambut, lelah mencukurnya, lelah dihantui kata, lelah menuliskannya, lelah menjadi hari, lelah menjadi sebuah tunggu.
Tetapi tak ada satu pun lelah yang cukup untuk jadi sebuah kerlip nyeri hari itu.
nyeri usai pertemuan manis, barangkali usai perbincangan akan pertemuan itu di dalam kedap jendela taksi yang bergerak tanpa hujan di musimnya. tanpa gerah, tanpa alasan yang cukup untuk keluh kesah. tanpa sedih tanpa luka. hanya nyeri yang tidak menyakiti ketika ada degub pada ingatan seusainya. tanpa keistimewaan namun juga tak biasa untuk jadi sekedar biasa. ada sebuah kematian dalam keterasingannya, kematian dalam nyeri. begitu lazim dan terasa asing. datar dan sempurna. terang dan gelap terjungkir, lalu kelabu biasa yang membuat gila.
kerlip yang melelahkan. kadang meletup memualkan, namun sesaat hanya melelahkan lagi, lalu menenangkan, lalu kembali memualkan atau melelahkan. semacam lelah menemukan diri atau kehilangan lagi. lelah terjaga dan lelah tertidur, lelah beranjak pergi dan lelah beristirahat dalam ingatan-angatan lampau, lelah menjadi perempuan, lelah menjadi laki-laki, lelah memiliki kelamin dan lelah meniadakannya, lelah memanjangkan rambut, lelah mencukurnya, lelah dihantui kata, lelah menuliskannya, lelah menjadi hari, lelah menjadi sebuah tunggu.
Tetapi tak ada satu pun lelah yang cukup untuk jadi sebuah kerlip nyeri hari itu.
nyeri usai pertemuan manis, barangkali usai perbincangan akan pertemuan itu di dalam kedap jendela taksi yang bergerak tanpa hujan di musimnya. tanpa gerah, tanpa alasan yang cukup untuk keluh kesah. tanpa sedih tanpa luka. hanya nyeri yang tidak menyakiti ketika ada degub pada ingatan seusainya. tanpa keistimewaan namun juga tak biasa untuk jadi sekedar biasa. ada sebuah kematian dalam keterasingannya, kematian dalam nyeri. begitu lazim dan terasa asing. datar dan sempurna. terang dan gelap terjungkir, lalu kelabu biasa yang membuat gila.
Monday, December 03, 2007
kebiasaan menuliskan hujan
Sebuah kebiasaan lama menuliskan hujan. seperti dorongan untuk menyalakan rokok di bawah tampias. semacam kesenangan. hobi yang sudah terkikis ketekunannya jadi semata kenikmatan kosong. menuliskan hujan ataupun kertas-kertas dinding dan sofa yang basah oleh deras, tanpa catatan bahwa padahal pintu dan jendela tak pernah kubuka. menuliskan jutaan senar di peranginan, sebuah beranda tanpa pijakan, sebatang kretek pada tampias arakan. terpaan manis angin dan berlewatan kerajaan hujan. klise.
cerita lama, serigala yang kehujanan. gemeritik asap dan bara setarikan demi setarikan. menkatalogkan tiap abu gugur setiap habis beberapa gemeretik nyala. padam dalam angin sebelum basah. debu yang lembab, cikal becek yang masih panjang dalam megah. bukan lelah, untai pertanyaan, debar yang diterima damai sebagai keniscayaan atau kesertamertaan.
lalu sejenis rindu, sebuah penutup yang paling klise. Lebih klise dari tiramisu, atau puding coklat di setiap makan prasmanan. lebih membosankan dari diskusi-diskusi dan istilah dikotomi.
apakah kamu menyalakan rokokmu? membakar gemeritik kanopi jarak dari sisi sebelah sana? seperti aku membakarnya berjam-jam supaya jarak itu habis? kita tak pernah merokok di depan tirai hujan. Hanya aku yang melakukannya setiap menunggui jarak, menonton ketidak hadiran. menikmati semacam kesenangan sendirian, hobi yang sudah terkikis ketekunannya jadi semata kenikmatan kosong. klise. seperti menuliskan hujan setiap kali hujan turun.
karena hujan itu membangunkan kelelapan tertentu, atau malah melenakan sebuah keterjagaan? karena hujan indah dan keindahaan adalah yang hal yang sulit disikapi. sulit dihadapi. menghabiskan kata. membuat gugup.
Tidak begitu jelas kebiasaan ini, menuliskan hujan, atau menuliskanmu dengan hujan sebagai alasan? kenikmatan yang kosong. sekosong abu keretek gugur yang padam oleh angin sebelum disentuh basah, lalu sejenis kerinduan, klise.
cerita lama, serigala yang kehujanan. gemeritik asap dan bara setarikan demi setarikan. menkatalogkan tiap abu gugur setiap habis beberapa gemeretik nyala. padam dalam angin sebelum basah. debu yang lembab, cikal becek yang masih panjang dalam megah. bukan lelah, untai pertanyaan, debar yang diterima damai sebagai keniscayaan atau kesertamertaan.
lalu sejenis rindu, sebuah penutup yang paling klise. Lebih klise dari tiramisu, atau puding coklat di setiap makan prasmanan. lebih membosankan dari diskusi-diskusi dan istilah dikotomi.
apakah kamu menyalakan rokokmu? membakar gemeritik kanopi jarak dari sisi sebelah sana? seperti aku membakarnya berjam-jam supaya jarak itu habis? kita tak pernah merokok di depan tirai hujan. Hanya aku yang melakukannya setiap menunggui jarak, menonton ketidak hadiran. menikmati semacam kesenangan sendirian, hobi yang sudah terkikis ketekunannya jadi semata kenikmatan kosong. klise. seperti menuliskan hujan setiap kali hujan turun.
karena hujan itu membangunkan kelelapan tertentu, atau malah melenakan sebuah keterjagaan? karena hujan indah dan keindahaan adalah yang hal yang sulit disikapi. sulit dihadapi. menghabiskan kata. membuat gugup.
Tidak begitu jelas kebiasaan ini, menuliskan hujan, atau menuliskanmu dengan hujan sebagai alasan? kenikmatan yang kosong. sekosong abu keretek gugur yang padam oleh angin sebelum disentuh basah, lalu sejenis kerinduan, klise.
Saturday, November 24, 2007
of some glorious years
Berdiri di sebuah plaza yang tak menyisakan tempat duduk, aku minum sehabis mendentingkan gelas dengan seperempat isi di gelasmu yang penuh. "for our glorious years", kataku. Kamu menjulang tinggi dan tersenyum, atau mungkin juga tertawa sedikit, aku tak mengigatnya tepat, karena bulan penuh di atas kepalamu sekonyong benderang seperti senter yang membongkar pojok-pojok ingatan bertahun lalu di kepalaku. it was indeed some glorious years. Seperti frekuensi khusus denting sebuah gelas dengan seperempat isi pada gelasmu yang selalu penuh. Aku menemukan perayaan yang ternyata sudah berlangsung agak lama di dalamku dan untuk mendentingkan gelasku di gelasmu, aku tak secuilpun risau walau mempertaruhkan reaksi alergi gatal-gatal kemerahan di kulit dengan seperempat saja isi gelasku. Aku alergi terhadap alkohol seperti bertahun lalu masih, sementara gelasmu selalu penuh and it has always been glorious bahkan untuk gatal-gatal alergi dan gelas yang tak penuh.
parfum lama yang terabaikan itu yang membongkar ingatanmu. ingatan yang begitu sempit akan ruang. Bahkan mungkin tak diingat lagi sebagaimana mestinya karena telah tergilas-gilas dengan apa yang begitu kokoh kita percayai hari ini.Wasn't it glorious? Hari itu aku memakainya lagi hanya untuk menyembunyikan bau baju baru, obral 80%, kubeli tadi siang dengan sedikit alasan untuk tidak mandi. Aspek bau, katamu, karena visual telah sering menjadi kebas, kerap berebutan kait dengan banyak hal dalam ingatan. Kebas walau dikemas spesifik bersama bunyi. Parfum yang sama yang terakhir kupakai bertahun lalu, barangkali ketika aku masih memakainya dengan sedikit alasan untukmu and it had been indeed some glorious moments.
our glorious years, ketika perubahan begitu galak dan menghempas-hempas sementara ada hal-hal yang tipis dan sublim tak tersentuh gilasan apapun. some glorious moments yang amat jarang kita lalui bersama, kompetisi for making up excusesuntuk rasa atau semata justifikasi logika, ketika aku bisa mengarang sepuluh atau duapuluh alasan untuk sebuah ciuman pada secangkir kopi setelah itu terjadi, dan kamu mungkin sepuluh atau duapuluh alasan sebelum semuanya terjadi. Atau kita, masing-masing menuliskan tigapuluh alasan agar ciuman dan secangkir kopi itu terjadi lagi. Alasan mungkin hal yang paling murah hati yang bisa kita temui ketika mencari atau kehilangan apapun juga. Sementara aku jadi membangun kompulsi untuk mengkoleksi alasan-alasan kitsch yang barangkali tanpa faedah, semacam guilty pleasure, dan alasan kadang seperti facade bangunan yang tak memiliki bangunan, dibangun hanya untuk menutupi gorong-gorong dan lubang angin kereta-kereta bawah tanah, dimegah megahkan hanya untuk ditinggalkan. Tak pernah penting atau sungguh terdengar karena tak pernah benar-benar tersampaikan atau dibicarakan.
some glorious years yang kita hadapi bersama secara nyaris terpisah, cinta pejal, gelak tawa, perbincangan yang berselisih waktu, perih di kelamin, gunjingan keji, gunjingan asyik, kalimat-kalimat yang gagal menyeberang, sijingkat, rasa sayang tanpa birahi, rasa sayang dengan birahi, kelumpuhan empati, kesendirian yang sebelah, inkonsistensi, orang-orang baru, artikulasi emosi, kegagalan kronis artikulasi, desir hangat di hati suatu hari, tikaman dingin yang asing di suatu bulan, hilang, bersama, lalu dinding, lalu pelukan kawan, lalu ciuman yang sabit, purnama lalu hilang tanpa rupa, lalu kembali sabit, lalu dinding lagi, rekonsiliasi diri, kontestasi yang sembunyi, kekariban itu lagi, kehangatan, keteduhan, memori fantom akan celah-celah, cinta majal, persahabatan, inkonsistensi lagi, alasan-alasan... lalu denting pada gelas bir. yang satu seperempat isi yang satu lagi penuh seperti adanya. glorious.
Sungguh luas kelegaan, barangkali sungguh-sungguh perayaan kemenangan tak hanya untukku, buatmu, tetapi juga untukmu buatku. our glorious years berdenting terpisah. aku dan gelasku, gelasmu dan kamu, ketika waktu membuat kita mendentingkan keduanya, dengan isinya yang seperempat atau penuh atau luber atau kosong, mendetingkannya sebelum teguk, denting yang entah kemudian tercatat dengan bau gelas atau parfumku, there will be always a certain glorious pitch meresonan pada nafas di setiap tegukan di jeda perjalanan dan kejutan of our many glorious years to come
parfum lama yang terabaikan itu yang membongkar ingatanmu. ingatan yang begitu sempit akan ruang. Bahkan mungkin tak diingat lagi sebagaimana mestinya karena telah tergilas-gilas dengan apa yang begitu kokoh kita percayai hari ini.Wasn't it glorious? Hari itu aku memakainya lagi hanya untuk menyembunyikan bau baju baru, obral 80%, kubeli tadi siang dengan sedikit alasan untuk tidak mandi. Aspek bau, katamu, karena visual telah sering menjadi kebas, kerap berebutan kait dengan banyak hal dalam ingatan. Kebas walau dikemas spesifik bersama bunyi. Parfum yang sama yang terakhir kupakai bertahun lalu, barangkali ketika aku masih memakainya dengan sedikit alasan untukmu and it had been indeed some glorious moments.
our glorious years, ketika perubahan begitu galak dan menghempas-hempas sementara ada hal-hal yang tipis dan sublim tak tersentuh gilasan apapun. some glorious moments yang amat jarang kita lalui bersama, kompetisi for making up excusesuntuk rasa atau semata justifikasi logika, ketika aku bisa mengarang sepuluh atau duapuluh alasan untuk sebuah ciuman pada secangkir kopi setelah itu terjadi, dan kamu mungkin sepuluh atau duapuluh alasan sebelum semuanya terjadi. Atau kita, masing-masing menuliskan tigapuluh alasan agar ciuman dan secangkir kopi itu terjadi lagi. Alasan mungkin hal yang paling murah hati yang bisa kita temui ketika mencari atau kehilangan apapun juga. Sementara aku jadi membangun kompulsi untuk mengkoleksi alasan-alasan kitsch yang barangkali tanpa faedah, semacam guilty pleasure, dan alasan kadang seperti facade bangunan yang tak memiliki bangunan, dibangun hanya untuk menutupi gorong-gorong dan lubang angin kereta-kereta bawah tanah, dimegah megahkan hanya untuk ditinggalkan. Tak pernah penting atau sungguh terdengar karena tak pernah benar-benar tersampaikan atau dibicarakan.
some glorious years yang kita hadapi bersama secara nyaris terpisah, cinta pejal, gelak tawa, perbincangan yang berselisih waktu, perih di kelamin, gunjingan keji, gunjingan asyik, kalimat-kalimat yang gagal menyeberang, sijingkat, rasa sayang tanpa birahi, rasa sayang dengan birahi, kelumpuhan empati, kesendirian yang sebelah, inkonsistensi, orang-orang baru, artikulasi emosi, kegagalan kronis artikulasi, desir hangat di hati suatu hari, tikaman dingin yang asing di suatu bulan, hilang, bersama, lalu dinding, lalu pelukan kawan, lalu ciuman yang sabit, purnama lalu hilang tanpa rupa, lalu kembali sabit, lalu dinding lagi, rekonsiliasi diri, kontestasi yang sembunyi, kekariban itu lagi, kehangatan, keteduhan, memori fantom akan celah-celah, cinta majal, persahabatan, inkonsistensi lagi, alasan-alasan... lalu denting pada gelas bir. yang satu seperempat isi yang satu lagi penuh seperti adanya. glorious.
Sungguh luas kelegaan, barangkali sungguh-sungguh perayaan kemenangan tak hanya untukku, buatmu, tetapi juga untukmu buatku. our glorious years berdenting terpisah. aku dan gelasku, gelasmu dan kamu, ketika waktu membuat kita mendentingkan keduanya, dengan isinya yang seperempat atau penuh atau luber atau kosong, mendetingkannya sebelum teguk, denting yang entah kemudian tercatat dengan bau gelas atau parfumku, there will be always a certain glorious pitch meresonan pada nafas di setiap tegukan di jeda perjalanan dan kejutan of our many glorious years to come
Monday, November 19, 2007
catatan suatu labuh
perjumpaan kita di suatu kali, ketika aku mengunjungi ingatanku lagi, tengah bermain seperti selang air yang terbuka di hari cerah, ada matahari bersinar hangat, tidak terik dan sejuknya butiran air seperti gerimis sejuk yang membuatku lembab nyaman namun tak kuyub, membuatku membuka telapak tangan, merentangkannya, membuka pelukan yang tak menunggu sambutan, membuka pelukan seperti membuka segalaku di detik itu untuk kejernihan, untuk teduhan untuk sebuah lapang yang tak ingin kututup tergesa.
suatu jumpa yang bukan pertama kali. Bukan juga yang paling indah atau berkesan hingga aku mencatatnya dengan segera. Suatu jumpa yang baru membuatku berpikir tentang kata, sempurna, justru ketika lewat berbulan dan aku mengunjunginya lagi dalam ingatan. Tetapi mungkin semua yang sudah genap tersimpan di dalam ingatan selalu telah sempurna. sempurna terlewati, sempurna dialami, sempurna tersimpan.
barangkali memang aku tak mampu melihat kesempurnaan ketika datang pertama, walau waktu kita itu amatlah jauh dari sempurna. tak ada matahari atau selang air. hanya malam dan bangku bangku di jalan, beberapa mangkuk bekas makan malam juga beberapa orang. ada potret-potret, ada lensa dan kamera, lalu dirimu yang membawa segala yang tersisa dalam ingatan itu, butiran air sejuk selang air, matahari yang hangat yang semuanya akan hilang jika tak ada hadirmu di bingkai malam di trotoar jalan dengan bangku-bangku dan beberapa mangkuk dan beberapa orang itu. perjumpaan yang tidak kunamai karena aku apung tanpa tujuan di hari-hari itu, dan berpikir peduli setan akan perjumpaan atau bangku di jalan dan mangkuk dan beberapa orang.
Ketika aku mengunjungi ingatanku lagi aku masih apung tanpa tujuan, apung diam-diam karena aku malu akan hilangnya tujuanku, dan demikian aku mengunjungi ingatan akan kita dengan apung, seperti apung dari satu situs ke situs dan link ke link pada dunia maya, aku apung memasuki situs-situs ingatanku dan menemukan perjumpaan kita di suatu kali.
tetapi mungkin juga aku tak sepenuhnya apung ketika mengunjungimu. Aku mungkin memang mencarimu dan menemukan ingatan itu. sempurna.
suatu jumpa yang bukan pertama kali. Bukan juga yang paling indah atau berkesan hingga aku mencatatnya dengan segera. Suatu jumpa yang baru membuatku berpikir tentang kata, sempurna, justru ketika lewat berbulan dan aku mengunjunginya lagi dalam ingatan. Tetapi mungkin semua yang sudah genap tersimpan di dalam ingatan selalu telah sempurna. sempurna terlewati, sempurna dialami, sempurna tersimpan.
barangkali memang aku tak mampu melihat kesempurnaan ketika datang pertama, walau waktu kita itu amatlah jauh dari sempurna. tak ada matahari atau selang air. hanya malam dan bangku bangku di jalan, beberapa mangkuk bekas makan malam juga beberapa orang. ada potret-potret, ada lensa dan kamera, lalu dirimu yang membawa segala yang tersisa dalam ingatan itu, butiran air sejuk selang air, matahari yang hangat yang semuanya akan hilang jika tak ada hadirmu di bingkai malam di trotoar jalan dengan bangku-bangku dan beberapa mangkuk dan beberapa orang itu. perjumpaan yang tidak kunamai karena aku apung tanpa tujuan di hari-hari itu, dan berpikir peduli setan akan perjumpaan atau bangku di jalan dan mangkuk dan beberapa orang.
Ketika aku mengunjungi ingatanku lagi aku masih apung tanpa tujuan, apung diam-diam karena aku malu akan hilangnya tujuanku, dan demikian aku mengunjungi ingatan akan kita dengan apung, seperti apung dari satu situs ke situs dan link ke link pada dunia maya, aku apung memasuki situs-situs ingatanku dan menemukan perjumpaan kita di suatu kali.
tetapi mungkin juga aku tak sepenuhnya apung ketika mengunjungimu. Aku mungkin memang mencarimu dan menemukan ingatan itu. sempurna.
Monday, November 12, 2007
atap, badai dan marguerite duras
ada bidang kosong yang luas yang tak terusik deru pompa, atau bunyi kereta lewat yang mengarsir kesenyapan kelam dan lanskap malam dari badai yang tertahan. di ramalan cuaca ada badai. namun tadi hanya angin angin tak beraturan yang lemah di atapku. barangkali ramalan badai itu memicu tubuhku memimik badai tertahan untuk memberi artikulasi bagi sejenis gelora kacau ke dalam memoriku. supaya nanti aku yang kelak bisa mendatanginya lagi dan meretas apakah itu yang kunamai badai dalam folder ingatanku di suatu waktu. aku menghias foldernya dengan menambahkan ornamen kata kunci, "marguerite Duras". alasannya karena aku mengingat lanskap dan tempo moderato cantabile di atap atap tadi. lengkap dengan arsir deburan bunyinya. bunyi kereta mengganti bunyi kapal lewat di jendela. walau aku yang lain mencemooh ornamen ini terlalu genit, berbelit dan sok puitik untuk semata catatan kegelisahan yang lama tidak lagi kukunjungi untuk di catatkan. Marguerite Duras itu keren, sementara aku cuma berkhayal dan mengait-ngaitkan Duras untuk memanjakan diri dalam keindahan kegelisahan. kesedihan itu kemewahan kadang kita memilihnya untuk kenikmatan pribadi atau alasan yang lebih payah lagi, demi inspirasi. ya kesedihan itu kemewahan. karena aku memilih untuk menjadi sosoknya, kesedihan yang berjalan-jalan, merokok di atap lanskap malam, menghirup badai yang tertahan, tergilas oleh bunyi kereta dan merasa nyeri oleh secuil saja gerak gesekan dengan malam, kepak kelelawar dan gesek angin di kabel-kabel listrik. mengamati kegelapan dari kegelapan yang sejujurnya semuanya tak kurang dari keindahan. Dan semuanya itu kunikmati. lalu apa jadinya segala yang bernama kesedihan ketika aku barangkali hanya terlalu manja untuk mengakui bahwa aku bahagia menikmati keindahan dalam rasa sakitnya.
Friday, September 28, 2007
Kutowinangun
: untuk Idaman andarmosoko di hari ulang tahunnya
Pernah, di suatu terang jendela, aku mengirimkan sms yang berisi nama sebuah stasiun yang barusan kubaca dari balik jendela. Nama yang segera berubah menjadi kode-kode biner yang pada akhirnya menjadi kode-kode emosi atau sekedar perayaan memori buat kita, paling tidak buatku.
Nama stasiun yang ini mungkin tak akan pernah berbunyi di ingatanku walau aku pernah mendengarnya. Tetapi di suatu terang jendela hari itu aku sengaja memetik nama itu dari sekian banyak stasiun yang kutahu akan kulewati di perjalanan ini. aku tahu benar sebuah sms bertuliskan satu nama itu saja akan cukup untuk sesuatu, atau sekedar cukup untukmu.
Aku tak pernah mengingat atau memperhatikan nama stasiun-stasiun kecil antara jakarta dan Yogya. Sampai suatu ketika ia membuat sajak dalam nama sebuah stasiun yang terdengar seperti sebuah nama dari Jawa Barat. Nama yang terdengar bagus selayaknya puisi. "Kertasemaya" sebuah stasiun dekat Kerawang. Dari nama itu ia menuliskan sajak panjang tentang keberangkatan, kadang aku mencurinya diam-diam dan menjadikan nama stasiun di puisi itu rumah pulang ingatanku, atau setidaknya batu penanda, titik singgah perjalanan. Sejak itu, aku tak pernah lupa nama stasiun itu. Kamu memilihnya terlebih dulu, lalu pada terang jendela hari itu aku hendak memilih nama stasiun yang lain.
Salah satu hal yang hadir di perbincangan pertama kita beberapa tahun silam adalah jumlah 748 persimpangan rel yang dilewati kereta dari jakarta menuju Yogya. Ya, ia menghitungnya Juga menghafal nama-nama stasiun kecil yang dilewati sepanjang 748 persimpangan itu. Bahkan Search engines manapun belum mendata informasi itu kecuali barangkali jika kita menghitungnya sendiri lewat google earth. Sejak perbincangan pertama itu perjalanan kereta apiku tak pernah sama, tetapi kami ternyata adalah penumpang di kereta perjalanan yang sama. Baru saling kenal mengobrol di suatu gerbong perjumpaan. Memang sudah saatnya saling berbincang walau sama-sama asing berhubung tujuan kereta perjalanan kami masih sebuah teka-teki. Konon jika gerak perjalanan itu konstan, kita tidak akan merasa bergerak kemana-mana. walau pemandangan sawah, pipit dan motor berkendara diantara lanskap liuk ladang yang menghampar tak putus itu menunjukan suatu pergerakan pasti di balik bingkai jendelaku. Kadang teka-teki semakin melebar dan kompleks--dimana national grographic investigate supposed to step in tapi itu tak terjadi--kadang aku ragu apakah dia bersamaku di kereta yang sama ataukah ia di keretanya sendiri, bersisian tapi menuju ujung yang entah barangkali berbeda. karena deru kereta selau terdengar lamat ketika langkah langkahnya dekat
Masih di dalam kereta, entah sama atau berbeda, kadang kami menunggu taksi, keledai, mengendarai kereta atau pesawat untuk pergi dan pulang dari banyak tempat, berpisah, rendevouz, hingga tinggal seatap menggulirkan hari-hari dengan pekerjaan, kesibukan, kebersamaan, dan dulu sekali waktu, dengan puisi.
Puisi sedang vakansi, demikian kami sependapat menjelaskan kemacetan kami menulis. Walau diam-diam tak masalah baginya karena ia mengerti termodinamika. Tetapi ia tak pernah absen menuliskan puisi untuk ulang tahun sahabatnya. Walau imannya kepada puisi pelan-pelan memudar seiring ia menyaksikan orang menyapu di sebuah galeri lalu tertawan oleh puitisnya performance art. Demikian untuk tetap menulis puisi-puisi ulang tahun itu ia harus berjuang seperti anak muda memaklumi orang tuanya yang renta dan rewel. Setelah itu semua ditaklukan, puisi-puisi tetap vakansi, setidaknya untuk aku.
Di jendela terang kereta hari itu aku sengaja mencari satu nama stasiun. Sebuah kode sandi efektif yang akan menyampaikan pesan bahwa aku tengah dalam perjalanan ke Yogya dan tak sempat menitipkan rumah atau tagihan listriknya, Juga bila dipecahkan dalam metode lain bisa berbunyi "aku mencolek bahumu dari sebuah jarak yang tak ada artinya, mengingat perbincangan kita sejak pertama hingga kertasemaya, Mengingat bahwa hari sebelumnya kamu harus berjuang untuk menelponku ditengah pekerjaan. Mengingatmu merespon sms curhat hal tak penting tentang fantom-fantom cinta lama. Mengingatmu peduli, mengingat puisi-puisi ulang tahun, mengingat pancake, mengingat yahoo messenger, mengingat tangis bintang di atas sprei, mengingat asuransi kematian, mengingat Al dan teori relativitas, Wolfgang Pauli dan schrodinger, mengingat kuanta-kuanta yang tak selesai yang sulit sekali kucerna, mengingat kompleks dan berwarnanya pemandangan jendela kereta-kereta kita yang belum kelihatan datang."
Kalau waktu sungguh akan berhenti tatkala kita bergerak dalam kecepatan cahaya, satu nama stasiun yang kuambil acak itulah kejadiannya. kejadianmu yang tiba-tiba menghentikan macet, walau terpatah aku berhasil mencatat lagi sedikit benak-benakku, setidaknya untuk bekal kereta menuju ulang tahunmu. walau puisi lagi-lagi masih bertahun cahaya jauhnya. Tetapi di suatu jarak tempuh pasti yang kulalui, nama stasiun apapun yang kubaca acak untuk kukirimkan dalam sms itu pada akhirnya juga tempatku singgah, berlabuh tanpa jemu. Stasiun yang bukan lagi "kertasemaya" dan tak akan lagi "kutawinangun" melainkan perhentian kereta-kereta yang menemukan namanya bukanlah semata sebuah singgah, namun sepenuhnya, anugerah. Stasiun yang kokoh yang bertuliskan sebuah cita-cita untuk menanggung tegak dharma, dan sangat fasih mengamalkan namanya. Berdirinya tajam tak berdebu, persisten "like a turd that won't flush" seperti katamu berulang-ulang, terbuat dari karang yang cukup kokoh ketika pasang, stasiun itu, kamu. Bahkan di perjalanan denganmu itu aku pelan belajar membangun stasiunku dari sejenis karang yang walau tak sekokoh konstruk bangunmu, aku berjanji tak akan lagi kurobohkan sendiri.
kamu sungguh teman perjalanan yang ajaib. bukan di kereta ini namun di kereta kita semua yang maha panjang hingga ke chandrasekar limit itu. Kamu penumpang sekaligus stasiun, secarik tiket menuju banyak tempat sekaligus seorang paman yang membelikannya merangkap juga pemeriksa tiket yang menyobeknya. Kamu salah satu jawaban paling nyata dari permohonan-permohonan ulang tahunku yang bertahun-tahun itu, sekaligus juga seorang yang ternyata bisa pula berulang tahun, walau ulang tahun hanya berlaku pada manusia mortal dan kamu bukan sembarang mortal. Lebih mirip seorang highlander atau jangan-jangan Gusti Dharma itu sendiri yang tengah menyamar jadi anjing kampung. Walau aku sama sekali bukan Yudhistira. Kamu barangkali sedang berjalan dengan Yudhistiramu yang aku tidak kenal atau pahami, tapi aku cukup beruntung berpapasan denganmu dalam suatu gerbong waktu. bicara soal nama-nama stasiun, dan jumlah persimpangan-persimpangan yang kamu lalui amat jauh sebelum aku memulai perjalanan apapun. aku bahagia berbagi pesimpangan dan persilangan jalan bahkan bersisian denganmu. tak bisa dikatakan senasib namun setidaknya sesama dalam banyak waktu. sesama anjing, walau kamu jelmaan Dharma dan aku hanya anjing saja. Dari sedikit hal yang aku syukuri, juga dari seekor anjing kampung ke anjing kampung lain yang lebih tua dan buduk, ini semua demi kukirimkan lagi nama stasiun seperti pada smsku waktu itu, barangkali terlalu panjang dengan bumbu omong kosong yang berkelindan dengan semata ingatan atas sms remeh. Kode sandi kita tetap sama, sebuah nama stasiun apa saja antara Jakarta dan Yogya, pesannya sedikit berbeda: kali ini berisi gonggongan dan lolongan kepada bulan demi merayakan hidup di stasiun kita yang hari ini
Pernah, di suatu terang jendela, aku mengirimkan sms yang berisi nama sebuah stasiun yang barusan kubaca dari balik jendela. Nama yang segera berubah menjadi kode-kode biner yang pada akhirnya menjadi kode-kode emosi atau sekedar perayaan memori buat kita, paling tidak buatku.
Nama stasiun yang ini mungkin tak akan pernah berbunyi di ingatanku walau aku pernah mendengarnya. Tetapi di suatu terang jendela hari itu aku sengaja memetik nama itu dari sekian banyak stasiun yang kutahu akan kulewati di perjalanan ini. aku tahu benar sebuah sms bertuliskan satu nama itu saja akan cukup untuk sesuatu, atau sekedar cukup untukmu.
Aku tak pernah mengingat atau memperhatikan nama stasiun-stasiun kecil antara jakarta dan Yogya. Sampai suatu ketika ia membuat sajak dalam nama sebuah stasiun yang terdengar seperti sebuah nama dari Jawa Barat. Nama yang terdengar bagus selayaknya puisi. "Kertasemaya" sebuah stasiun dekat Kerawang. Dari nama itu ia menuliskan sajak panjang tentang keberangkatan, kadang aku mencurinya diam-diam dan menjadikan nama stasiun di puisi itu rumah pulang ingatanku, atau setidaknya batu penanda, titik singgah perjalanan. Sejak itu, aku tak pernah lupa nama stasiun itu. Kamu memilihnya terlebih dulu, lalu pada terang jendela hari itu aku hendak memilih nama stasiun yang lain.
Salah satu hal yang hadir di perbincangan pertama kita beberapa tahun silam adalah jumlah 748 persimpangan rel yang dilewati kereta dari jakarta menuju Yogya. Ya, ia menghitungnya Juga menghafal nama-nama stasiun kecil yang dilewati sepanjang 748 persimpangan itu. Bahkan Search engines manapun belum mendata informasi itu kecuali barangkali jika kita menghitungnya sendiri lewat google earth. Sejak perbincangan pertama itu perjalanan kereta apiku tak pernah sama, tetapi kami ternyata adalah penumpang di kereta perjalanan yang sama. Baru saling kenal mengobrol di suatu gerbong perjumpaan. Memang sudah saatnya saling berbincang walau sama-sama asing berhubung tujuan kereta perjalanan kami masih sebuah teka-teki. Konon jika gerak perjalanan itu konstan, kita tidak akan merasa bergerak kemana-mana. walau pemandangan sawah, pipit dan motor berkendara diantara lanskap liuk ladang yang menghampar tak putus itu menunjukan suatu pergerakan pasti di balik bingkai jendelaku. Kadang teka-teki semakin melebar dan kompleks--dimana national grographic investigate supposed to step in tapi itu tak terjadi--kadang aku ragu apakah dia bersamaku di kereta yang sama ataukah ia di keretanya sendiri, bersisian tapi menuju ujung yang entah barangkali berbeda. karena deru kereta selau terdengar lamat ketika langkah langkahnya dekat
Masih di dalam kereta, entah sama atau berbeda, kadang kami menunggu taksi, keledai, mengendarai kereta atau pesawat untuk pergi dan pulang dari banyak tempat, berpisah, rendevouz, hingga tinggal seatap menggulirkan hari-hari dengan pekerjaan, kesibukan, kebersamaan, dan dulu sekali waktu, dengan puisi.
Puisi sedang vakansi, demikian kami sependapat menjelaskan kemacetan kami menulis. Walau diam-diam tak masalah baginya karena ia mengerti termodinamika. Tetapi ia tak pernah absen menuliskan puisi untuk ulang tahun sahabatnya. Walau imannya kepada puisi pelan-pelan memudar seiring ia menyaksikan orang menyapu di sebuah galeri lalu tertawan oleh puitisnya performance art. Demikian untuk tetap menulis puisi-puisi ulang tahun itu ia harus berjuang seperti anak muda memaklumi orang tuanya yang renta dan rewel. Setelah itu semua ditaklukan, puisi-puisi tetap vakansi, setidaknya untuk aku.
Di jendela terang kereta hari itu aku sengaja mencari satu nama stasiun. Sebuah kode sandi efektif yang akan menyampaikan pesan bahwa aku tengah dalam perjalanan ke Yogya dan tak sempat menitipkan rumah atau tagihan listriknya, Juga bila dipecahkan dalam metode lain bisa berbunyi "aku mencolek bahumu dari sebuah jarak yang tak ada artinya, mengingat perbincangan kita sejak pertama hingga kertasemaya, Mengingat bahwa hari sebelumnya kamu harus berjuang untuk menelponku ditengah pekerjaan. Mengingatmu merespon sms curhat hal tak penting tentang fantom-fantom cinta lama. Mengingatmu peduli, mengingat puisi-puisi ulang tahun, mengingat pancake, mengingat yahoo messenger, mengingat tangis bintang di atas sprei, mengingat asuransi kematian, mengingat Al dan teori relativitas, Wolfgang Pauli dan schrodinger, mengingat kuanta-kuanta yang tak selesai yang sulit sekali kucerna, mengingat kompleks dan berwarnanya pemandangan jendela kereta-kereta kita yang belum kelihatan datang."
Kalau waktu sungguh akan berhenti tatkala kita bergerak dalam kecepatan cahaya, satu nama stasiun yang kuambil acak itulah kejadiannya. kejadianmu yang tiba-tiba menghentikan macet, walau terpatah aku berhasil mencatat lagi sedikit benak-benakku, setidaknya untuk bekal kereta menuju ulang tahunmu. walau puisi lagi-lagi masih bertahun cahaya jauhnya. Tetapi di suatu jarak tempuh pasti yang kulalui, nama stasiun apapun yang kubaca acak untuk kukirimkan dalam sms itu pada akhirnya juga tempatku singgah, berlabuh tanpa jemu. Stasiun yang bukan lagi "kertasemaya" dan tak akan lagi "kutawinangun" melainkan perhentian kereta-kereta yang menemukan namanya bukanlah semata sebuah singgah, namun sepenuhnya, anugerah. Stasiun yang kokoh yang bertuliskan sebuah cita-cita untuk menanggung tegak dharma, dan sangat fasih mengamalkan namanya. Berdirinya tajam tak berdebu, persisten "like a turd that won't flush" seperti katamu berulang-ulang, terbuat dari karang yang cukup kokoh ketika pasang, stasiun itu, kamu. Bahkan di perjalanan denganmu itu aku pelan belajar membangun stasiunku dari sejenis karang yang walau tak sekokoh konstruk bangunmu, aku berjanji tak akan lagi kurobohkan sendiri.
kamu sungguh teman perjalanan yang ajaib. bukan di kereta ini namun di kereta kita semua yang maha panjang hingga ke chandrasekar limit itu. Kamu penumpang sekaligus stasiun, secarik tiket menuju banyak tempat sekaligus seorang paman yang membelikannya merangkap juga pemeriksa tiket yang menyobeknya. Kamu salah satu jawaban paling nyata dari permohonan-permohonan ulang tahunku yang bertahun-tahun itu, sekaligus juga seorang yang ternyata bisa pula berulang tahun, walau ulang tahun hanya berlaku pada manusia mortal dan kamu bukan sembarang mortal. Lebih mirip seorang highlander atau jangan-jangan Gusti Dharma itu sendiri yang tengah menyamar jadi anjing kampung. Walau aku sama sekali bukan Yudhistira. Kamu barangkali sedang berjalan dengan Yudhistiramu yang aku tidak kenal atau pahami, tapi aku cukup beruntung berpapasan denganmu dalam suatu gerbong waktu. bicara soal nama-nama stasiun, dan jumlah persimpangan-persimpangan yang kamu lalui amat jauh sebelum aku memulai perjalanan apapun. aku bahagia berbagi pesimpangan dan persilangan jalan bahkan bersisian denganmu. tak bisa dikatakan senasib namun setidaknya sesama dalam banyak waktu. sesama anjing, walau kamu jelmaan Dharma dan aku hanya anjing saja. Dari sedikit hal yang aku syukuri, juga dari seekor anjing kampung ke anjing kampung lain yang lebih tua dan buduk, ini semua demi kukirimkan lagi nama stasiun seperti pada smsku waktu itu, barangkali terlalu panjang dengan bumbu omong kosong yang berkelindan dengan semata ingatan atas sms remeh. Kode sandi kita tetap sama, sebuah nama stasiun apa saja antara Jakarta dan Yogya, pesannya sedikit berbeda: kali ini berisi gonggongan dan lolongan kepada bulan demi merayakan hidup di stasiun kita yang hari ini
Thursday, May 10, 2007
Shades of Scarlet Conquering*
ada dinding di apungan bincang, tebal transparan kian menebal, kokoh walau nampak tiada, dinding yang membuat bicara yang sarat itu seperti senyap, tak ada lafal yang mengendarai udara.
getar dinding yang membawa dialog ganjil kita ke tahun yang masih belum datang, sementara di waktu yang jauh itu aku akan menemukanmu tinggal di masa lalu
mendengarkan bukan lagi bincang melainkan sejenis amarah atau sejenis haru yang mengalir panjang di perairan detik yang memburu.
waktu masih nyata beterjangan tergesa namun bincang yang keseratus sekian kita malah bergugur mundur melampaui bincang kita yang pertama kali. Melampaui waktu sebelum sijingkat pertama dua debar asing yang bahkan belum saling berkenalan. melewati nol menuju keganjilan yang minus. seperti kaset yang telah habis diputar balik hingga awal yang kosong namun putaran balik itu persisten untuk terus mundur walau ujung awal itu sudah terlewat habis.
tiada kita sudah lewat. yang ada kemudian sebuah entah yang lebih mirip dinding tebal daripada sebuah jarak. Dinding yang bernafas dari paru-paruku, melahap hampir semua kata-kataku. Padahal kita telah sampai saling mengerti tanpa harus berkata di suatu waktu, namun segalanya berjalan mundur dengan cepat dan masif.
Lalu diantara hembus nafas yang makin menebalkan dinding-dinding ini, berurai panjang kata-kataku menjangkaumu, tak satupun yang sampai padamu dalam maksudku. Sapaanku terdengar olehmu seperti cemooh selamat tinggal setelah melewati dinding itu, Kenyamananmu dalam diam tanpa kata denganku terbaca seperti keengganan untuk menyia-nyiakan kata lagi denganku, sementara aku terlalu ingin memelukmu karib dengan lega tetapi ingin itu kau baca sebagai punggungku yang tergesa hendak pergi dari bincang itu.
sekali aku ingin bicara tentang temali jemuran yang terputus ketika dirimu berlalu namun kamu bertanya mengapa kamu tidak mempercayaiku untuk memahami mu?
lalu berkepanjanganlah bincang ganjil yang saling mengembang imbang dalam spektrum paradoks yang perih. Patah dari rentang maksudku ke selisih pemahamanmu, dan vice versa
aku kehilangan semua cara untuk bicara atau membaca, segalanya mundur dan aku mengingat bahasa dalam ingatan yang katatonik. patahan suku kata yang hambur itu jadi komposisi nonsense. kuhirup dalam absen benak yang lumpuh oleh mampat maksud-maksud yang beterbangan namun semuanya kembali padaku lagi sia-sia.
maksud itu adalah aku yang kukirim ke alamat waktumu yang kelak.
dinding itu barangkali juga aku mengganjal pintumu yang membuka aku yang lalu. dinding itu perselisihan kita pada diri masing-masing,
aku bicara padamu, namun aku yang kau ajak bicara barangkali bukan aku yang kini.
debarku dan kalimatmu sepertinya mengapung pelan dalam sungai waktunya masing-masing menuju diri kita yang tepat untuk tiap kata. Melelahkan memang. kamu terengah, aku telah tumbang di kemunduran yang jauh dari jarakmu terjatuh lelah. barangkali aku akan menangis, barangkali aku hanya akan menulis lebih lagi. dinding itu akan membeku jika saja kita menuliskannya, lalu barangkali kita bisa memutarinya, walau aku tahu kamu tak mendengar maksudku, aku akan tetap mengatakannya.
maafkan dirimu. kita, dinding itu pasti mereda.
aku mendengarku mengatakannya bukan padamu tapi padaku yang di balik pengap transparan memelar dari nafas itu.
tetapi tentu saja kamu tak mendengarnya.
*Sementara meminjam salah satu judul lagu Joni Mitchell di album "The Hissing of Summer Lawn"
getar dinding yang membawa dialog ganjil kita ke tahun yang masih belum datang, sementara di waktu yang jauh itu aku akan menemukanmu tinggal di masa lalu
mendengarkan bukan lagi bincang melainkan sejenis amarah atau sejenis haru yang mengalir panjang di perairan detik yang memburu.
waktu masih nyata beterjangan tergesa namun bincang yang keseratus sekian kita malah bergugur mundur melampaui bincang kita yang pertama kali. Melampaui waktu sebelum sijingkat pertama dua debar asing yang bahkan belum saling berkenalan. melewati nol menuju keganjilan yang minus. seperti kaset yang telah habis diputar balik hingga awal yang kosong namun putaran balik itu persisten untuk terus mundur walau ujung awal itu sudah terlewat habis.
tiada kita sudah lewat. yang ada kemudian sebuah entah yang lebih mirip dinding tebal daripada sebuah jarak. Dinding yang bernafas dari paru-paruku, melahap hampir semua kata-kataku. Padahal kita telah sampai saling mengerti tanpa harus berkata di suatu waktu, namun segalanya berjalan mundur dengan cepat dan masif.
Lalu diantara hembus nafas yang makin menebalkan dinding-dinding ini, berurai panjang kata-kataku menjangkaumu, tak satupun yang sampai padamu dalam maksudku. Sapaanku terdengar olehmu seperti cemooh selamat tinggal setelah melewati dinding itu, Kenyamananmu dalam diam tanpa kata denganku terbaca seperti keengganan untuk menyia-nyiakan kata lagi denganku, sementara aku terlalu ingin memelukmu karib dengan lega tetapi ingin itu kau baca sebagai punggungku yang tergesa hendak pergi dari bincang itu.
sekali aku ingin bicara tentang temali jemuran yang terputus ketika dirimu berlalu namun kamu bertanya mengapa kamu tidak mempercayaiku untuk memahami mu?
lalu berkepanjanganlah bincang ganjil yang saling mengembang imbang dalam spektrum paradoks yang perih. Patah dari rentang maksudku ke selisih pemahamanmu, dan vice versa
aku kehilangan semua cara untuk bicara atau membaca, segalanya mundur dan aku mengingat bahasa dalam ingatan yang katatonik. patahan suku kata yang hambur itu jadi komposisi nonsense. kuhirup dalam absen benak yang lumpuh oleh mampat maksud-maksud yang beterbangan namun semuanya kembali padaku lagi sia-sia.
maksud itu adalah aku yang kukirim ke alamat waktumu yang kelak.
dinding itu barangkali juga aku mengganjal pintumu yang membuka aku yang lalu. dinding itu perselisihan kita pada diri masing-masing,
aku bicara padamu, namun aku yang kau ajak bicara barangkali bukan aku yang kini.
debarku dan kalimatmu sepertinya mengapung pelan dalam sungai waktunya masing-masing menuju diri kita yang tepat untuk tiap kata. Melelahkan memang. kamu terengah, aku telah tumbang di kemunduran yang jauh dari jarakmu terjatuh lelah. barangkali aku akan menangis, barangkali aku hanya akan menulis lebih lagi. dinding itu akan membeku jika saja kita menuliskannya, lalu barangkali kita bisa memutarinya, walau aku tahu kamu tak mendengar maksudku, aku akan tetap mengatakannya.
maafkan dirimu. kita, dinding itu pasti mereda.
aku mendengarku mengatakannya bukan padamu tapi padaku yang di balik pengap transparan memelar dari nafas itu.
tetapi tentu saja kamu tak mendengarnya.
*Sementara meminjam salah satu judul lagu Joni Mitchell di album "The Hissing of Summer Lawn"
Tuesday, March 27, 2007
a song who writes me
we never wrote him a song
a song we conceive when he was broken,
when his pieces were sharp in each shatters
melodies that once silently numbed his maladies
played in our shoulder when he secretly sobs
they're pretty. morbid love like
now he returns intact,
breathing that song we never wrote
it is obscure
of what have cause for all these soreness in our psyche
the dripping crimson like beats
was it the reminiscence of his once a shattered being
or was it the song he's breathing?
it was our song not his
but we may have packed the tunes in his lunch box before he went away
now he returns intact as never ours
a song we conceive when he was broken,
when his pieces were sharp in each shatters
melodies that once silently numbed his maladies
played in our shoulder when he secretly sobs
they're pretty. morbid love like
now he returns intact,
breathing that song we never wrote
it is obscure
of what have cause for all these soreness in our psyche
the dripping crimson like beats
was it the reminiscence of his once a shattered being
or was it the song he's breathing?
it was our song not his
but we may have packed the tunes in his lunch box before he went away
now he returns intact as never ours
Wednesday, February 21, 2007
some certain something
Ada waktu waktu yang bergeser pasti seperti sebuah keniscayaan. Barangkali bukan waktu, ia lebih mirip sesuatu, merayap seperti moluska, padat menyesak, lembut tak terelak. sesuatu dalam geseran waktu.konstan seperti kipas angin, seperti malam buta beringsut diam-diam dalam kelengahan segala lalu dikejutkan oleh deru kereta. sesuatu yang himpitnya membuatku menjangkau-jangkau untuk menyingkir dari libasnya. aku yang menjangkau-jangkau diam-diam tanpa diketahui aku yang lain. aku yang lain yang bekerja, tidur, makan atau yang mengingat nama-nama dan wajah-wajah. aku yang menyusun daftar kepada siapa aku yang lain bisa segera menggapai mereka. satu atau dua orang setiap himpit geseran itu datang. Jika gapai itu tak bersambut, lindasan itu begitu kosong. Terlalu banyak gerowong. Dan aku kehilangan alasan kenapa harus lari dari sesuatu dan menggapai untuk lolos dari sesuatu. sesuatu yang tak kumengerti dan pilihan gapaian yang tak pula kumengerti. Terlalu banyak sesuatu yang membuatku lari. sebanyak kebohongan yang bertabur disetiap hembusan nafas setiap ketika kau lemparkan berbagai "mengapa?" ke dalamnya. ke dalam sesuatu. sesuatu yang tak hanya menggilas dalam geraknya, tapi barangkali juga melahap pelan-pelan atau dengan rakus.
Friday, January 12, 2007
teras
Ruang-ruang malam di bermulanya kita tak kenal dinding selain batas-batas yang berhembus diantaranya. Dinding yang luruh cair dan alir seperti angin. juga tak kenal atap selain redup bintang dan sabit bulan. Aku tidak mengingat ada purnama. barangkali malam yang kuingat bukan malam yang sama. terlalu banyak malam yang pernah kukenal atau sekedar kulihat, terlalu banyak kelam yang sama, terlalu banyak malam yang tidak sama. barangkali aku mengingat malam berhias awan-awan. padahal malam itu awan-awan tiada. barangkali itu adalah malam yang lain ketika kau tidak hadir disitu.
Sepertinya malam itu gelap. redup. seperti ingatan ku akan latarmu. redup, seperti aku ketika pertama kali meraba getarmu dalam sebuah jarak. Bagaimana aku sanggup menghafalkan malam ketika pertama kali aku melihatmu, ketika dirimu sekonyong ombak yang menghantamku. ombak dari laut yang hitam. malam yang mendung. geliat perairan kelam yang pekat dan tak lagi kasat oleh telanjang mata.
Malam itu kuingat semata karena kelamnya. ciri yang terlalu tidak spesifik untuk sebuah malam yang kuat. ruang dan waktu yang terlalu kilas, terlalu lazim untuk hadirmu yang melanda pasang hingga bertahun menghempas dan menggulung aku dalam buih-buih kenang.
Ketika itu hanya malam yang tak kuingat urai dan detilnya. waktupanca inderaku seakan padam dari segala. dan hanya menginderai dirimu. hadir itu. tanpa melihat atau menyentuh. seperti mendengarmu dengan kulitku.
aku menemukanmu pada teras-teras. barangkali kau pun menemukan aku diantara redupnya. paling tidak ingatanku berharap begitu. pada teras-teras yang digores jejak purba yang bersambungan kembali dalam resonan yang gigil hingga ke tulang. mata rantai antara getar, silam dan ingatan, lalu diramu menjadi hari. detik ini. Aku menemukanmu pada teras-teras yang kita hadiri kultus goresnya, mungkin saja jika aku yakin mengingatnya, bisa jadi kita lah pelakunya. kita yang menggoresnya. seperti kita pernah atau selamanya tinggal di teras-teras itu dan tak pernah pergi pada sebuah anjak. pada teras-teras yang bermekar oleh bebangunan bincang, kenang, debar. kepul kopimu samar, mungkin aku mengingat detil yang sesungguhnya tiada. aku tak pernah yakin apakah cangkir kopi itu disana? ia hitam dan ampasnya kasar, rasanya pahit walau aku tak mencicipnya. Ada liuk sigaret kretek dan awan-awan pasti. tetapi aku tak memperhatikan awan selain yang warnanya terjatuh pada baju kita hingga ke semua jahitan, kelim dan jelujurnya, pada benang dan kapiler-kapilernya. setiap serat dan sejarah peluh dalam tenunnya. segalanya telah kuyub bahkan sebelum aku menyadari geseran warna pada langit yang tumpah di atasnya. di atas garmen sadar dan nalar mu, cita dan ingin-ingin ku.
aku mengingat terlalu banyak. ingatan-ingatan yang pintanya menyesak hendak bicara, terlalu banyak yang hendak disampaikan di teras-teras itu,terlalu banyak kata-kata melumpuhkan dan melayukan. Tapi kamu bicara banyak sekali mengisi kosong lubang-lubang yang kubuat dalam kelu lidah berbalut terlalu banyak senyum dan salah ucap. paling tidak demikian aku mengingatnya. Kamu banyak bicara dan aku mengejar kata demi kata seperti menjaring kupu atau kunang. begitu senang. begitu berdebarnya malam. menyusutkan aku jadi balita yang kegirangan namun juga gelisah cemas. kita sekilas begitu serupa, resonan itu sama, ketika kanak-kanak wajah kita pun serupa tapi diam-diam kita teramat berbeda. beda dengan begitu kuatnya hingga kita terus menerus jadi orang asing. walau teras-teras ini banyak menyimpan kita. merekam haus, merekam ingin. inginku akanmu, barangkali juga inginmu akanku yang terlalu samar untuk bisa kuingat. bahkan teras yang kosong itu berisi hadirmu walau kau tak lagi disitu. Tanpa semuanya aku pasti membawa apapun yang tersisa darimu, demi sejenak malam sejuk berangin di akhir dan awal tahun setelah berkepanjangan dalam gerah.
apakah artinya ruang untuk kita kalau waktu sudah menghabisi kesempatan kita berteras lagi? Apakah artinya jarak yang disusun untuk membangun waktu dan kamar yang merenggangkan debar ku dari satu temu, memelar ke rindu yang jauh, ke rindu yang bertahun cahaya, rindu yang kekal ke sebuah hilang. sebuah kehilangan. dirimu ataukah aku yang hilang dalam apapun yang bertinggal di teras-teras itu? hilang yang selalu di damaikan dengan lega penerimaan, senyum dan lapang hati ketulusan yang tak sekekal kerapuhan sedih.tak sekekal rindu. tak sekekal teras itu.
Sepertinya malam itu gelap. redup. seperti ingatan ku akan latarmu. redup, seperti aku ketika pertama kali meraba getarmu dalam sebuah jarak. Bagaimana aku sanggup menghafalkan malam ketika pertama kali aku melihatmu, ketika dirimu sekonyong ombak yang menghantamku. ombak dari laut yang hitam. malam yang mendung. geliat perairan kelam yang pekat dan tak lagi kasat oleh telanjang mata.
Malam itu kuingat semata karena kelamnya. ciri yang terlalu tidak spesifik untuk sebuah malam yang kuat. ruang dan waktu yang terlalu kilas, terlalu lazim untuk hadirmu yang melanda pasang hingga bertahun menghempas dan menggulung aku dalam buih-buih kenang.
Ketika itu hanya malam yang tak kuingat urai dan detilnya. waktupanca inderaku seakan padam dari segala. dan hanya menginderai dirimu. hadir itu. tanpa melihat atau menyentuh. seperti mendengarmu dengan kulitku.
aku menemukanmu pada teras-teras. barangkali kau pun menemukan aku diantara redupnya. paling tidak ingatanku berharap begitu. pada teras-teras yang digores jejak purba yang bersambungan kembali dalam resonan yang gigil hingga ke tulang. mata rantai antara getar, silam dan ingatan, lalu diramu menjadi hari. detik ini. Aku menemukanmu pada teras-teras yang kita hadiri kultus goresnya, mungkin saja jika aku yakin mengingatnya, bisa jadi kita lah pelakunya. kita yang menggoresnya. seperti kita pernah atau selamanya tinggal di teras-teras itu dan tak pernah pergi pada sebuah anjak. pada teras-teras yang bermekar oleh bebangunan bincang, kenang, debar. kepul kopimu samar, mungkin aku mengingat detil yang sesungguhnya tiada. aku tak pernah yakin apakah cangkir kopi itu disana? ia hitam dan ampasnya kasar, rasanya pahit walau aku tak mencicipnya. Ada liuk sigaret kretek dan awan-awan pasti. tetapi aku tak memperhatikan awan selain yang warnanya terjatuh pada baju kita hingga ke semua jahitan, kelim dan jelujurnya, pada benang dan kapiler-kapilernya. setiap serat dan sejarah peluh dalam tenunnya. segalanya telah kuyub bahkan sebelum aku menyadari geseran warna pada langit yang tumpah di atasnya. di atas garmen sadar dan nalar mu, cita dan ingin-ingin ku.
aku mengingat terlalu banyak. ingatan-ingatan yang pintanya menyesak hendak bicara, terlalu banyak yang hendak disampaikan di teras-teras itu,terlalu banyak kata-kata melumpuhkan dan melayukan. Tapi kamu bicara banyak sekali mengisi kosong lubang-lubang yang kubuat dalam kelu lidah berbalut terlalu banyak senyum dan salah ucap. paling tidak demikian aku mengingatnya. Kamu banyak bicara dan aku mengejar kata demi kata seperti menjaring kupu atau kunang. begitu senang. begitu berdebarnya malam. menyusutkan aku jadi balita yang kegirangan namun juga gelisah cemas. kita sekilas begitu serupa, resonan itu sama, ketika kanak-kanak wajah kita pun serupa tapi diam-diam kita teramat berbeda. beda dengan begitu kuatnya hingga kita terus menerus jadi orang asing. walau teras-teras ini banyak menyimpan kita. merekam haus, merekam ingin. inginku akanmu, barangkali juga inginmu akanku yang terlalu samar untuk bisa kuingat. bahkan teras yang kosong itu berisi hadirmu walau kau tak lagi disitu. Tanpa semuanya aku pasti membawa apapun yang tersisa darimu, demi sejenak malam sejuk berangin di akhir dan awal tahun setelah berkepanjangan dalam gerah.
apakah artinya ruang untuk kita kalau waktu sudah menghabisi kesempatan kita berteras lagi? Apakah artinya jarak yang disusun untuk membangun waktu dan kamar yang merenggangkan debar ku dari satu temu, memelar ke rindu yang jauh, ke rindu yang bertahun cahaya, rindu yang kekal ke sebuah hilang. sebuah kehilangan. dirimu ataukah aku yang hilang dalam apapun yang bertinggal di teras-teras itu? hilang yang selalu di damaikan dengan lega penerimaan, senyum dan lapang hati ketulusan yang tak sekekal kerapuhan sedih.tak sekekal rindu. tak sekekal teras itu.
Sunday, December 03, 2006
this pretty landscape of distance
this pretty landscape of distance
so quiet yet not so empty
you're here vanishing with me
as i fall drowsyly in our once a death
sleeping beneath these graveless names,
graveless heart
this vastness of distance
so deniable, not so forgetable
you're here watching us vanish
in a rendered landscape of a vague farewell
horizons, distance
i have lost a slipper a long the boulders
i've lost them on purpose
it was for a graveless hope
being pass around in whispers
and i will watch you watching us
we both in this lovely distance
so quiet yet not so empty
you're here vanishing with me
as i fall drowsyly in our once a death
sleeping beneath these graveless names,
graveless heart
this vastness of distance
so deniable, not so forgetable
you're here watching us vanish
in a rendered landscape of a vague farewell
horizons, distance
i have lost a slipper a long the boulders
i've lost them on purpose
it was for a graveless hope
being pass around in whispers
and i will watch you watching us
we both in this lovely distance
Tuesday, October 03, 2006
Earl Grey
Teh dan setetes minyak bergamot. tak ada musik. hanya dengung.
uap air hangat. bayang berjajar di meja.
jarum jam bergugur. kenangan menjadi awan. arakan dedebuan. geseran cahaya. tak ada jejak lipstik di cangkir. nada sambung. bincang itu tak kunjung ada.
Teh dan setetes minyak bergamot. hangat.
seperti tetes yang bukan gerimis di atas pendar CRT
uap air hangat. bayang berjajar di meja.
jarum jam bergugur. kenangan menjadi awan. arakan dedebuan. geseran cahaya. tak ada jejak lipstik di cangkir. nada sambung. bincang itu tak kunjung ada.
Teh dan setetes minyak bergamot. hangat.
seperti tetes yang bukan gerimis di atas pendar CRT
Monday, September 25, 2006
sigaret dan hujan
sigaret dan hujan pernah sekali waktu begitu manis. Tak ada bincang. Hanya gemeretik asap yang bara dan padam satu-satu. liuk asapnya yang ruah megah tetapi rapuh, seperti kita. sekali waktu.
Barisan hujan belum juga datang tahun ini walau aku telah membakar berpuluh cigaret dibawahnya. mencari lagi manisnya yang tak pernah beranjak pergi tapi tak bisa lagi kutemui.
aku sekonyong mengerti, kata sedih seperti engkau pernah mengucapnya. walau kala itu kita tak bicara dalam bahasa yang identik. ia adalah dirimu yang melihat dirimu yang lain memaksamu pergi ke dalam tutup pintu dan ia adalah aku yang terlalu tak punya apapun untuk takut kehilangan apapun, memaksamu dalam diam untuk tetap bersamaku. Ia adalah ruang-ruang jarak yang dibangun sengaja atau tak sengaja untuk menahan hajaran waktu. mengejar imbang sepi yang kopong dalam hati dengan mengosongkan biliknya yang setengah atau pernah terisi. sedih itu ketika kau membiarkanku menunggu, selagi dirimu berkemas, padamkan bara dan berlalu. sedihmu di punggungku. sedihku menunggu. sigaret-sigaret itu tidak lagi gemeretik jika dibiarkan terbakar tanpa dihisap, tinggal denyar asap-asap putih. demikian sedih itu tak berjejak jika tak dibiarkan terhirup nafas kita. semata indah yang meliuk-liuk di ruang-ruang tunggumu.
Barisan hujan belum juga datang tahun ini walau aku telah membakar berpuluh cigaret dibawahnya. mencari lagi manisnya yang tak pernah beranjak pergi tapi tak bisa lagi kutemui.
aku sekonyong mengerti, kata sedih seperti engkau pernah mengucapnya. walau kala itu kita tak bicara dalam bahasa yang identik. ia adalah dirimu yang melihat dirimu yang lain memaksamu pergi ke dalam tutup pintu dan ia adalah aku yang terlalu tak punya apapun untuk takut kehilangan apapun, memaksamu dalam diam untuk tetap bersamaku. Ia adalah ruang-ruang jarak yang dibangun sengaja atau tak sengaja untuk menahan hajaran waktu. mengejar imbang sepi yang kopong dalam hati dengan mengosongkan biliknya yang setengah atau pernah terisi. sedih itu ketika kau membiarkanku menunggu, selagi dirimu berkemas, padamkan bara dan berlalu. sedihmu di punggungku. sedihku menunggu. sigaret-sigaret itu tidak lagi gemeretik jika dibiarkan terbakar tanpa dihisap, tinggal denyar asap-asap putih. demikian sedih itu tak berjejak jika tak dibiarkan terhirup nafas kita. semata indah yang meliuk-liuk di ruang-ruang tunggumu.
Wednesday, September 20, 2006
Lucida dan Capela
Aku. betina. tetapi itu bukan namaku. Karena namaku sendiri dihapuskan dariku, dari segala yang ada dalamku, berporos padaku dan yang kelak kembali padaku. Tak satupun mengenalku, tidak pula aku selain dari aku yang bicara kini.
Aku tidak mengenal cinta dan tidak pernah mencintai. Bukan karena aku gagah kuat dan dingin hingga ke intisari diriku. Bukan semata karena aku sebuah bintang biru kerdil yang maha padat dan maha terang itu atau semata karena aku manusia berkosmik yin, berporos negatif, berpusar besar hening dan pasif. Bukan karena di dalamku sesekali terbuka gerowong hitam yang menghisap ruang dan waktu atau semata lembab mengkista yang luncur disilih orbitkan uterus kembar pada panggulku.
Aku merahim dan menyusui, aku membuka dekap untuk rumah pulang bintang-bintang sebelum tewasnya padam. Aku menanggung beban pusar masif orbit-orbit beragam semesta sehari-hari. bintang, planet, satelit-satelitku, membran brokat nebulaku, Laki-laki, anak-anak, laki-laki, anak-anak,
laki-lakiku, anak-anakku..
Aku ibu segala mahluk. Segala mahluk yang hingga ketika dewasanya masih saja selalu berlomba-lomba untuk mengejar kembali pintu masuk rumah tempat mereka bermula. lembab hangatnya rahimku, tempat mereka tak pernah menangis dalam kedap cair wangi plasenta. rahimku hingga ke bibir-bibirnya yang memanjakan mereka dengan mimpi di kereta buaian bayi tentang hidup yang ditiadakan. Ruang genjur berdenyut yang konstan memproyeksi ilusi tentang alogaritma diri yang di-undo dengan tombol ctrl-Z pada kibor bentangan rusuk-rusuk dan denyut dadaku
Lembut dan kokohnya rahimku, shuttle ternyaman kehidupan untuk perjalanan dalam posisi fetal ke segala jelajah, ke waktu-waktu yang terpanjang hingga ke keabadian sekalipun. Kelahiran adalah perhentian, janin-janin kehamilan, perjalanan.
Aku adalah aku yang tak melakukan apapun demi apapun selain diriku. Demikian pula bukan seperti yang dipuja-pujikan manusia atas cinta yang dalam bahasanya telah meletakkan segala hidupku sebagai bakti, darma, abdi dan pemberontakan untuk makna sejati. Aku tak pernah mencintai. Walau aku melakukan semua yang dikenal bermuasal dari cinta. Aku hanya menjadi semua yang kulakukan tanpa setetespun dendam atas keniscayaan atau kesertamertaannya.
CInta, kosa kata yang terlalu sederhana dan yang tak relevan yang tak sanggup mengurai bentangan adaku genap dengan segala di suatu ruang dan waktu yang sesekali dijuduli kehidupan.
Waktu dan ruang, hidup dan cinta, mereka semua persis seperti diriku. Mereka adalah aku yang lain yang bukan aku, kembaranku tanpa seorangpun melahirkan kami. Kami tak pernah bersepakat untuk lebur dalam keserupaan karena demikianlah kami yang semata bukan keserupaan. Tak pernah terusik oleh apapun yang terjerat dalam roda-roda mesin perjalanan yang memutuskan keharusan. mereka semua adalah Ia. kembaranku, Capelaku
nov 2005
Aku tidak mengenal cinta dan tidak pernah mencintai. Bukan karena aku gagah kuat dan dingin hingga ke intisari diriku. Bukan semata karena aku sebuah bintang biru kerdil yang maha padat dan maha terang itu atau semata karena aku manusia berkosmik yin, berporos negatif, berpusar besar hening dan pasif. Bukan karena di dalamku sesekali terbuka gerowong hitam yang menghisap ruang dan waktu atau semata lembab mengkista yang luncur disilih orbitkan uterus kembar pada panggulku.
Aku merahim dan menyusui, aku membuka dekap untuk rumah pulang bintang-bintang sebelum tewasnya padam. Aku menanggung beban pusar masif orbit-orbit beragam semesta sehari-hari. bintang, planet, satelit-satelitku, membran brokat nebulaku, Laki-laki, anak-anak, laki-laki, anak-anak,
laki-lakiku, anak-anakku..
Aku ibu segala mahluk. Segala mahluk yang hingga ketika dewasanya masih saja selalu berlomba-lomba untuk mengejar kembali pintu masuk rumah tempat mereka bermula. lembab hangatnya rahimku, tempat mereka tak pernah menangis dalam kedap cair wangi plasenta. rahimku hingga ke bibir-bibirnya yang memanjakan mereka dengan mimpi di kereta buaian bayi tentang hidup yang ditiadakan. Ruang genjur berdenyut yang konstan memproyeksi ilusi tentang alogaritma diri yang di-undo dengan tombol ctrl-Z pada kibor bentangan rusuk-rusuk dan denyut dadaku
Lembut dan kokohnya rahimku, shuttle ternyaman kehidupan untuk perjalanan dalam posisi fetal ke segala jelajah, ke waktu-waktu yang terpanjang hingga ke keabadian sekalipun. Kelahiran adalah perhentian, janin-janin kehamilan, perjalanan.
Aku adalah aku yang tak melakukan apapun demi apapun selain diriku. Demikian pula bukan seperti yang dipuja-pujikan manusia atas cinta yang dalam bahasanya telah meletakkan segala hidupku sebagai bakti, darma, abdi dan pemberontakan untuk makna sejati. Aku tak pernah mencintai. Walau aku melakukan semua yang dikenal bermuasal dari cinta. Aku hanya menjadi semua yang kulakukan tanpa setetespun dendam atas keniscayaan atau kesertamertaannya.
CInta, kosa kata yang terlalu sederhana dan yang tak relevan yang tak sanggup mengurai bentangan adaku genap dengan segala di suatu ruang dan waktu yang sesekali dijuduli kehidupan.
Waktu dan ruang, hidup dan cinta, mereka semua persis seperti diriku. Mereka adalah aku yang lain yang bukan aku, kembaranku tanpa seorangpun melahirkan kami. Kami tak pernah bersepakat untuk lebur dalam keserupaan karena demikianlah kami yang semata bukan keserupaan. Tak pernah terusik oleh apapun yang terjerat dalam roda-roda mesin perjalanan yang memutuskan keharusan. mereka semua adalah Ia. kembaranku, Capelaku
nov 2005
Monday, September 11, 2006
miopia in paper cuts #1
jarak menolong ku untuk memandang. bahkan dalam kerabunan. miopia akan masa lalu. rabun ayam akan esok hari. bahkan dalam kemabukan, seperti berada di suatu ketinggian. altitude adalah jarak, dan ia membantu memandang banyak hal seperti miniatur di balik awan-awan, suatu penerbangan jauh diatas berbagai turbulen yang dilalui dengan keringat di tangan, sabuk pengaman dan kantung-kantung muntah yang tak pernah dipergunakan. Kadang aku tidak bisa melihat indahnya sudut condong matahari yang datang masuk ke kamarku ketika senja tinggal setarikan nafas sebelum padam. karena pada detik-detik itu yang lebih indah adalah gangguan noise dari bunyi pecahnya hati yang ditinggalkan keterpadaman itu. Tetapi dalam bunyi, entah itu bunyi pecahnya hati atau bunyi rekaman bajakan Mp3 selalu ada jarak yang menolongku memandang. jarak dalam getar yang menempuh suatu kejauahan atau kedekatan, turut menggetarkan kursi, jendela, debar jantung hingga membran gendang-gendang telinga.
Dalam jarak panjang jalan bebas hambatan ada lampu berkedip padam dari sekian lampu-lampu berjajar ritmik sepanjang perairan kelam. Bayang-bayang gelap diantara keteraturan terang kendara malam. jajar kemegahan cahaya yang kemudian ompong, seperti batang-batang piano renta yang berdentingan senar tapi juga menderit-derit kayunya.ompong.
Jarak sebatang cigaret kretek dari bara gemeretik hingga hangusnya diinjak padam, seperti jarak bincang diantaranya, dan jarak benak yang berjalan terus setelahnya. jarak waktu mengetik sebuah sms dan jarak panjangnya menunggu hingga tak pernah dikirimkan. jarak penempuhan, jarak penungguan.
detil yang hilang, bentuk besar baru yang ditemukan pandang, bentuk yang semakin jelas dan semakin kabur dalam sebuah jarak. Sebuah waktu yang berjarak. dalam jeli, dalam rabun jauh atau dekat akan waktu. masa lalu, masa aku, masa aku di suatu nanti. Dalam jarak ketika aku tak hadir lagi dari setapak yang kulewati, dari titi jalan kaki kaki, dari naung jajar bayang dan penerang. jarak memelar harap menyusutkan lapar atau kehilangan, menitipkan absen dari jelajahnya sendiri..
Dalam jarak panjang jalan bebas hambatan ada lampu berkedip padam dari sekian lampu-lampu berjajar ritmik sepanjang perairan kelam. Bayang-bayang gelap diantara keteraturan terang kendara malam. jajar kemegahan cahaya yang kemudian ompong, seperti batang-batang piano renta yang berdentingan senar tapi juga menderit-derit kayunya.ompong.
Jarak sebatang cigaret kretek dari bara gemeretik hingga hangusnya diinjak padam, seperti jarak bincang diantaranya, dan jarak benak yang berjalan terus setelahnya. jarak waktu mengetik sebuah sms dan jarak panjangnya menunggu hingga tak pernah dikirimkan. jarak penempuhan, jarak penungguan.
detil yang hilang, bentuk besar baru yang ditemukan pandang, bentuk yang semakin jelas dan semakin kabur dalam sebuah jarak. Sebuah waktu yang berjarak. dalam jeli, dalam rabun jauh atau dekat akan waktu. masa lalu, masa aku, masa aku di suatu nanti. Dalam jarak ketika aku tak hadir lagi dari setapak yang kulewati, dari titi jalan kaki kaki, dari naung jajar bayang dan penerang. jarak memelar harap menyusutkan lapar atau kehilangan, menitipkan absen dari jelajahnya sendiri..
Monday, August 21, 2006
Hantu di ruang Scan
living for you is easy living
for it’s easy to live when you’re in love..
--Easy Living, Billie Holiday
Pada jam-jam yang tidak selalu bisa ditentukan, lagu itu berbunyi di kepalaku atau di kepala salah satu dari orang di ruang ini. Pada jam kerja, atau saat lembur malam atau ketika hening dan hanya keletik kibor atau mouse terdengar. Sekonyong senandung lagu itu keluar dari bibir salah satu dari kami. Di tengah sibuk hari-hari, kami mendengarnya mengalun dalam benak dipicu oleh sesuatu.
Pada jam-jam yang sulit diterka. Kadang saat senja atau pagi yang mendung atau tengah hari yang sekonyong padat berawan. Seperti berkait pada pergantian cahaya langit karena di rona antara satu perubahan ke perubahan ada patahan. tempat lelehan sadar celia masih bergetar merembesi kapiler-kapiler ruang kami, benakku
demikian ketika lagu easy living mulai mengalun ke dalam sadarku disitu ia hadir dan aku mulai mengenali jejak atau tanda hadirnya.
Lagu itu lagu lama, hampir tak ada yang mendengarkannya. Tak seorang pun dari kami yang punya rekaman lagu itu selain Celia. Kami tahu Billie Holiday dari koleksi lagu-lagunya. Hanya dia yang masih saja memutarnya diantara lagu-lagu masa kini dan Top hits indonesia yang secara bergantian kami dengarkan saat bekerja di studio. Aku menemukan rekaman lama itu di dalam bentuk mp3 di playlist itunes komputer yang dulu dipakai oleh Celia. Ia juga punya kasetnya. Ada versi mono maupun versi yang telah di mastering ulang oleh columbia record. Diam-diam aku menyukainya. Tetapi aku hanya memutarnya ketika tidak ada orang lain di studio ini. Orang lain yang tahu sejarah hantu Celia biasanya keberatan dengan rasa cemas yang mudah diterka: takut akan mendatangkan hantu celia. terlebih dengan kehadiran Celia yang masih kental di tempat ini. Tapi sebanyak aku memutarnya ketika sendirian, tak sekalipun Celia bermurah hati datang dalam bentuk sosoknya padaku.
ia hanya datang ketika dalam lengah tiba-tiba lagu itu rasuk ke benak. Dan itu pun aku hanya tahu tanpa sungguh melihat.
Aku sendiri tak pernah melihat sosok Celia selain yang terproyeksi di layar kepalaku berdasarkan deskripsi-deskripsi orang yang pernah mengenalnya atau yang melihat sosok hantunya. Ketika aku masih pegawai baru, kira-kira 2 minggu aku mendengar tentang Celia pertama kali dari seorang kawan desainer yang konon berbakat cenayang dari keluarganya. Ia yang bilang alunan lagu-lagu billie holiday selalu menandai kehadiran celia yang sesekali kelihatan berjalan dengan kertas kertas gambarnya menuju ke ruang scan. Ketika itu hari tengah pukul 3 dan hujan deras membuat langit seakan sudah pukul 6 sore. Sebelumnya aku tiba-tiba menyenandungkan easy living yang masuk pelan-pelan ke benakku dan sempar membuat rekan-rekan satu ruanganku berlomba paling keras menghardikku untuk diam. Sejak itu seperti puzzle pelan-pelan aku membangun sosok Celia dalam hari-hariku di studio ini.
Kata orang yang lama di tempat ini ia seorang ilustrator, juga sesekali menulis untuk dirinya sendiri di sebuah blogspot. orang lama ini juga memberikan alamatnya padaku ketika melihat ketertarikanku akan sejarah celia Orang lama itu bilang Celia sangat periang tetapi juga tak banyak bercerita tentang dirinya. Celia menggambar banyak karakter di waktu luangnya. Aku menemukan banyak karakter yang dia gambarkan di dalam folder ilustrasi di komputernya. Konon ketika ia balita tak ada yang tahu bahwa ia sebetulnya autis dan disleksia, ia punya kesulitan bicara dan lafalnya pelo. Ia baru bisa bicara dengan baik ketika memasuki kelas dua sekolah dasar. Sejak kecil Ia juga kesulitan tidur sebelum lewat tengah malam. Ia banyak menggambar sejak usia 3 tahun, kata orang tuanya hanya itu yang bisa membuatnya fokus. Jika tidak suasana hatinya berubah-ubah sangat cepat dan sulit ditebak ia jadi rewel, hiperaktif dan sulit dibujuk agar tenang. Orang tuanya berkali kali membawanya berkunjung ke psikolog atau pendeta di luar hari-hari ibadah minggu untuk didoakan karena ia dianggap anak yang "sulit". Ia pertama kali mendengar Billie holiday ketika berusia 4 tahun. Entah kenapa ia menjadi jinak jika mendengar rekaman lama itu. Tidak gelisah atau berkerut kerut lagi dahinya. bahkan ia bisa tenang sepanjang piringan itu diputar walau tidak jatuh tertidur.
Pencernaan Celia tidak bisa mencerna laktosa susu, karenanya ia tidak pernah menyukai susu yang selalu membuatnya perutnya mual dan mulas. Ketidak nyamanan di rongga perut dan rasa adrenalin yang tak seimbang membanjir seperti kupu-kupu beterbangan abdomennya membuat ia lebih lagi rentan akan ayun emosi. Ia jadi anak yang gelisah, tak sabaran, pemarah dan penyedih.
3
Aku tak tahu persis penyebab kematiannya. Kata mereka ia memang mengidap semacam kelainan kelenjar
ditemukan tak bernyawa di ruang ini di dekat mesin scan dengan kertas-kertas gambarnya. Tidak ada tanda-tanda ia bunuh diri atau dibunuh atau sakit. Autopsi tidak menemukan penyebab kematian apapun. Jantungnya hanya berhenti berdetak. tubuhnya seperti memadamkan dirinya begitu saja. Seperti sistem komputer yang shut down. Ketika itu ia tengah menscan gambar-gambar terbaru nya
Suatu siang aku menemukan di lacinya buku Night Falls Fast. sebuah buku tentang memahami prilaku bunuh diri. Itulah pertama kali aku berpikir apakah Celia mungkin bunuh diri. Kemudian dari salah satu dari teman dekatnya di studio ini aku tahu Celia memang pernah bicara soal bunuh diri walau bukan berarti ia mati karena itu. Katanya, Ia pernah minta diberikan alasan untuk tidak mundur dari hidup. Ia bilang ia tidak memilih hidup, tapi ia bisa memilih kematian. Tetapi temannya yakin ia tak pernah sungguh hendak bunuh diri, Celia seorang yang cukup positif walau tertutup dan perbincangan tentang subyek itu dengannya ada kaitannya dengan subyek perbincangan sebelumnya yaitu sindrom depresi menjelang datang bulan. Itu jadi satu serpihan baru yang mengisi potongan gambar Celia di kepalaku.
Lagu itu mengalir lagi di benakku. aku yakin semata karena aku juga makin menyukainya. easy living. lagu yang sejuk tentang hidup yang mudah. Tetapi Celia tak lagi hidup. walau hantunya terus dibicarakan dan makin lama makin hidup di kepalaku. Mungkin jadi eksotisme buatku, suatu minat yang terbangun oleh film-film, reality show dan legenda urban di keseharian televisi. Eksotisme yang membelahku dalam perseteruan kutub percaya tidak percaya antara logika dan pikiran yang terbuka akan segala kemungkinan. Kisah-kisah yang terlanjur terbentuk di kepala ku tentang keberadaan Celia membuat imajinasiku berkeliaran dan penasaran. Aku jadi ingin sekali punya indera ke enam supaya aku bisa bertemu dengan Celia sekali saja. mungkin bercakap, mungkin berteman. Aku ingin tahu apa yang merenggut nyawanya dan apa yang membuatnya tetap disini tidak dilahirkan kembali atau pergi ke tempat lain jika ada tempat lain untuk para hantu di kota padat yang sesak ini. tetapi ia tak pernah kutemukan, kecuali jejak jejak lagu itu, mengalir di kepalaku
bersambung
for it’s easy to live when you’re in love..
--Easy Living, Billie Holiday
Pada jam-jam yang tidak selalu bisa ditentukan, lagu itu berbunyi di kepalaku atau di kepala salah satu dari orang di ruang ini. Pada jam kerja, atau saat lembur malam atau ketika hening dan hanya keletik kibor atau mouse terdengar. Sekonyong senandung lagu itu keluar dari bibir salah satu dari kami. Di tengah sibuk hari-hari, kami mendengarnya mengalun dalam benak dipicu oleh sesuatu.
Pada jam-jam yang sulit diterka. Kadang saat senja atau pagi yang mendung atau tengah hari yang sekonyong padat berawan. Seperti berkait pada pergantian cahaya langit karena di rona antara satu perubahan ke perubahan ada patahan. tempat lelehan sadar celia masih bergetar merembesi kapiler-kapiler ruang kami, benakku
demikian ketika lagu easy living mulai mengalun ke dalam sadarku disitu ia hadir dan aku mulai mengenali jejak atau tanda hadirnya.
Lagu itu lagu lama, hampir tak ada yang mendengarkannya. Tak seorang pun dari kami yang punya rekaman lagu itu selain Celia. Kami tahu Billie Holiday dari koleksi lagu-lagunya. Hanya dia yang masih saja memutarnya diantara lagu-lagu masa kini dan Top hits indonesia yang secara bergantian kami dengarkan saat bekerja di studio. Aku menemukan rekaman lama itu di dalam bentuk mp3 di playlist itunes komputer yang dulu dipakai oleh Celia. Ia juga punya kasetnya. Ada versi mono maupun versi yang telah di mastering ulang oleh columbia record. Diam-diam aku menyukainya. Tetapi aku hanya memutarnya ketika tidak ada orang lain di studio ini. Orang lain yang tahu sejarah hantu Celia biasanya keberatan dengan rasa cemas yang mudah diterka: takut akan mendatangkan hantu celia. terlebih dengan kehadiran Celia yang masih kental di tempat ini. Tapi sebanyak aku memutarnya ketika sendirian, tak sekalipun Celia bermurah hati datang dalam bentuk sosoknya padaku.
ia hanya datang ketika dalam lengah tiba-tiba lagu itu rasuk ke benak. Dan itu pun aku hanya tahu tanpa sungguh melihat.
Aku sendiri tak pernah melihat sosok Celia selain yang terproyeksi di layar kepalaku berdasarkan deskripsi-deskripsi orang yang pernah mengenalnya atau yang melihat sosok hantunya. Ketika aku masih pegawai baru, kira-kira 2 minggu aku mendengar tentang Celia pertama kali dari seorang kawan desainer yang konon berbakat cenayang dari keluarganya. Ia yang bilang alunan lagu-lagu billie holiday selalu menandai kehadiran celia yang sesekali kelihatan berjalan dengan kertas kertas gambarnya menuju ke ruang scan. Ketika itu hari tengah pukul 3 dan hujan deras membuat langit seakan sudah pukul 6 sore. Sebelumnya aku tiba-tiba menyenandungkan easy living yang masuk pelan-pelan ke benakku dan sempar membuat rekan-rekan satu ruanganku berlomba paling keras menghardikku untuk diam. Sejak itu seperti puzzle pelan-pelan aku membangun sosok Celia dalam hari-hariku di studio ini.
Kata orang yang lama di tempat ini ia seorang ilustrator, juga sesekali menulis untuk dirinya sendiri di sebuah blogspot. orang lama ini juga memberikan alamatnya padaku ketika melihat ketertarikanku akan sejarah celia Orang lama itu bilang Celia sangat periang tetapi juga tak banyak bercerita tentang dirinya. Celia menggambar banyak karakter di waktu luangnya. Aku menemukan banyak karakter yang dia gambarkan di dalam folder ilustrasi di komputernya. Konon ketika ia balita tak ada yang tahu bahwa ia sebetulnya autis dan disleksia, ia punya kesulitan bicara dan lafalnya pelo. Ia baru bisa bicara dengan baik ketika memasuki kelas dua sekolah dasar. Sejak kecil Ia juga kesulitan tidur sebelum lewat tengah malam. Ia banyak menggambar sejak usia 3 tahun, kata orang tuanya hanya itu yang bisa membuatnya fokus. Jika tidak suasana hatinya berubah-ubah sangat cepat dan sulit ditebak ia jadi rewel, hiperaktif dan sulit dibujuk agar tenang. Orang tuanya berkali kali membawanya berkunjung ke psikolog atau pendeta di luar hari-hari ibadah minggu untuk didoakan karena ia dianggap anak yang "sulit". Ia pertama kali mendengar Billie holiday ketika berusia 4 tahun. Entah kenapa ia menjadi jinak jika mendengar rekaman lama itu. Tidak gelisah atau berkerut kerut lagi dahinya. bahkan ia bisa tenang sepanjang piringan itu diputar walau tidak jatuh tertidur.
Pencernaan Celia tidak bisa mencerna laktosa susu, karenanya ia tidak pernah menyukai susu yang selalu membuatnya perutnya mual dan mulas. Ketidak nyamanan di rongga perut dan rasa adrenalin yang tak seimbang membanjir seperti kupu-kupu beterbangan abdomennya membuat ia lebih lagi rentan akan ayun emosi. Ia jadi anak yang gelisah, tak sabaran, pemarah dan penyedih.
3
Aku tak tahu persis penyebab kematiannya. Kata mereka ia memang mengidap semacam kelainan kelenjar
ditemukan tak bernyawa di ruang ini di dekat mesin scan dengan kertas-kertas gambarnya. Tidak ada tanda-tanda ia bunuh diri atau dibunuh atau sakit. Autopsi tidak menemukan penyebab kematian apapun. Jantungnya hanya berhenti berdetak. tubuhnya seperti memadamkan dirinya begitu saja. Seperti sistem komputer yang shut down. Ketika itu ia tengah menscan gambar-gambar terbaru nya
Suatu siang aku menemukan di lacinya buku Night Falls Fast. sebuah buku tentang memahami prilaku bunuh diri. Itulah pertama kali aku berpikir apakah Celia mungkin bunuh diri. Kemudian dari salah satu dari teman dekatnya di studio ini aku tahu Celia memang pernah bicara soal bunuh diri walau bukan berarti ia mati karena itu. Katanya, Ia pernah minta diberikan alasan untuk tidak mundur dari hidup. Ia bilang ia tidak memilih hidup, tapi ia bisa memilih kematian. Tetapi temannya yakin ia tak pernah sungguh hendak bunuh diri, Celia seorang yang cukup positif walau tertutup dan perbincangan tentang subyek itu dengannya ada kaitannya dengan subyek perbincangan sebelumnya yaitu sindrom depresi menjelang datang bulan. Itu jadi satu serpihan baru yang mengisi potongan gambar Celia di kepalaku.
Lagu itu mengalir lagi di benakku. aku yakin semata karena aku juga makin menyukainya. easy living. lagu yang sejuk tentang hidup yang mudah. Tetapi Celia tak lagi hidup. walau hantunya terus dibicarakan dan makin lama makin hidup di kepalaku. Mungkin jadi eksotisme buatku, suatu minat yang terbangun oleh film-film, reality show dan legenda urban di keseharian televisi. Eksotisme yang membelahku dalam perseteruan kutub percaya tidak percaya antara logika dan pikiran yang terbuka akan segala kemungkinan. Kisah-kisah yang terlanjur terbentuk di kepala ku tentang keberadaan Celia membuat imajinasiku berkeliaran dan penasaran. Aku jadi ingin sekali punya indera ke enam supaya aku bisa bertemu dengan Celia sekali saja. mungkin bercakap, mungkin berteman. Aku ingin tahu apa yang merenggut nyawanya dan apa yang membuatnya tetap disini tidak dilahirkan kembali atau pergi ke tempat lain jika ada tempat lain untuk para hantu di kota padat yang sesak ini. tetapi ia tak pernah kutemukan, kecuali jejak jejak lagu itu, mengalir di kepalaku
bersambung
Thursday, August 03, 2006
i love walking home to a moment, but not to watch them take shifts
i came home to an afternoon that falls gently on my room
the warm air march over between shadows and tilted beams
with faintly flickering dust like microfairies flying by my windows
i never found such beauties whenever i was there all day watching the day leaving me by. Maybe because whenever i watch their departing rears,
what's most beautiful are the quiet sounds of my heart breaking over those lefts
i came home to an afternoon that falls gently on my room
the warm air march over between shadows and tilted beams
with faintly flickering dust like microfairies flying by my windows
i never found such beauties whenever i was there all day watching the day leaving me by. Maybe because whenever i watch their departing rears,
what's most beautiful are the quiet sounds of my heart breaking over those lefts
Monday, July 24, 2006
Viridian
hatinya itu perunggu dan oksida kobalt, beledu muram tetapi ringan.
selepas tiap degub ia melepaskan dirinya dalam niscaya hampa yang selalu berkejar untuk kembali ada untuk kemudian dilepaskan lagi dalam kembali hilang serupa perih yang samar. jejaknya berlalu dalam dingin padat tanpa pendaran. muram walau ringan. tidur dan terjaganya berkepanjangan. Bangun dan mimpinya berpintu sama, dengan teras dan halaman apung dalam alir yang kosong gelap. bertahun cahaya setiap degubnya mendentumkan semesta-semesta ke dalam orbit kecilnya.
"engkau adalah cahaya" kata segala orbit,dan kongregasi pendar yang apung sepanjang jalan berbayang itu, Tetapi, hati perunggu dan oksida kobalt itu terlalu jauh dalam perairan pendarnya untuk bisa mendengar apalagi percaya. "aku perunggu dan oksida kobalt yang ringan dan padam, muram namun ringan, terlalu lama mengapung dengan rongga dada yang absen akan denyutnya"
padahal denyut itu ada. Ia melahirkan orbit demi orbit yang pergi mengapung bersama sekaligus membutakannya dalam ombak gas pasang naik yang beranak pinak serupa kabut cahaya dan pasir-pasir membara. Begitu panas hingga gigil, merintihkan kata-kata pertama yang jadi nama-nama mereka; virileae.., ceruleae.., reflectea.. ,violeta, lumina.
Hati yang perunggu dan oksida cobalt itu mati silam dan lahir dalam luas. semakin pendar semakin genap kelam. pendar maha muram itu telah berabad tinggal dalam gemilang kromanya yang sedih karena buta. apung kekal dalam orbit yang ia kira pilihannya.
selepas tiap degub ia melepaskan dirinya dalam niscaya hampa yang selalu berkejar untuk kembali ada untuk kemudian dilepaskan lagi dalam kembali hilang serupa perih yang samar. jejaknya berlalu dalam dingin padat tanpa pendaran. muram walau ringan. tidur dan terjaganya berkepanjangan. Bangun dan mimpinya berpintu sama, dengan teras dan halaman apung dalam alir yang kosong gelap. bertahun cahaya setiap degubnya mendentumkan semesta-semesta ke dalam orbit kecilnya.
"engkau adalah cahaya" kata segala orbit,dan kongregasi pendar yang apung sepanjang jalan berbayang itu, Tetapi, hati perunggu dan oksida kobalt itu terlalu jauh dalam perairan pendarnya untuk bisa mendengar apalagi percaya. "aku perunggu dan oksida kobalt yang ringan dan padam, muram namun ringan, terlalu lama mengapung dengan rongga dada yang absen akan denyutnya"
padahal denyut itu ada. Ia melahirkan orbit demi orbit yang pergi mengapung bersama sekaligus membutakannya dalam ombak gas pasang naik yang beranak pinak serupa kabut cahaya dan pasir-pasir membara. Begitu panas hingga gigil, merintihkan kata-kata pertama yang jadi nama-nama mereka; virileae.., ceruleae.., reflectea.. ,violeta, lumina.
Hati yang perunggu dan oksida cobalt itu mati silam dan lahir dalam luas. semakin pendar semakin genap kelam. pendar maha muram itu telah berabad tinggal dalam gemilang kromanya yang sedih karena buta. apung kekal dalam orbit yang ia kira pilihannya.
Tuesday, June 06, 2006
segelas ingat
aku mengingatmu, walau kau tak pernah memerlukan sebuah ingatan untuk bersikukuh hadir. seperti rindu tak membutuhkan ingatan untuk menggenggam erat sebuah hadir hingga tak sanggup lagi beranjak seperti telah dikabulkan penuh dari sebuah keinginan yang tak sekedar hendak, tetapi tekad.
aku mengingatku, ketika begitu ingin membaca pikiranmu ketika waktu-waktu itu dijilidkan dengan sebuah judul yang barangkali terdengar seperti kata "gamang" atau "haus" walau maknanya lebih serupa dengan rindu atau letup-letupan harap seperti kembang api atau pecah bara petasan. Manis yang menyentak kejutkan debar berlarian serupa janji masa kanak-kanak tentang esok yang akan bermain lagi. petak umpet dan layang-layang, saling mengejutkan, lalu lelah dalam gembira. Kita lelah, memang. usai berkepanjangan bermain petak umpet atau menunggu di pagar, mencuri waktu untuk gembira dalam engah supaya kelak meneguk air es bisa begitu nikmat di depan kulkas rumah kita. aku pun mencari lelah walau tak yakin aku gembira di dalamnya. Satu hal tentang ingatan, ia menghidupkan terlalu banyak rasa hingga aku terlalu lelah untuk merasakannya. bahkan air es dari kulkas itu tak lagi dingin atau suam.
ia hanyalah cair yang aku hauskan ketika aku membuat tubuhku lelah selelah-lelahnya untuk menerima reguk. segelas cair bersih yang baru. bukan lagi sebagaimana aku pernah mengingatmu.
aku mengingatku, ketika begitu ingin membaca pikiranmu ketika waktu-waktu itu dijilidkan dengan sebuah judul yang barangkali terdengar seperti kata "gamang" atau "haus" walau maknanya lebih serupa dengan rindu atau letup-letupan harap seperti kembang api atau pecah bara petasan. Manis yang menyentak kejutkan debar berlarian serupa janji masa kanak-kanak tentang esok yang akan bermain lagi. petak umpet dan layang-layang, saling mengejutkan, lalu lelah dalam gembira. Kita lelah, memang. usai berkepanjangan bermain petak umpet atau menunggu di pagar, mencuri waktu untuk gembira dalam engah supaya kelak meneguk air es bisa begitu nikmat di depan kulkas rumah kita. aku pun mencari lelah walau tak yakin aku gembira di dalamnya. Satu hal tentang ingatan, ia menghidupkan terlalu banyak rasa hingga aku terlalu lelah untuk merasakannya. bahkan air es dari kulkas itu tak lagi dingin atau suam.
ia hanyalah cair yang aku hauskan ketika aku membuat tubuhku lelah selelah-lelahnya untuk menerima reguk. segelas cair bersih yang baru. bukan lagi sebagaimana aku pernah mengingatmu.
Monday, March 06, 2006
Porgy and Bess*
pada suatu jarak aku tidak menunggu atau memandangmu. Aku hanya memandang jarak itu,jarak kita,di suatu kejauhan, di suatu kedekatan.
aku tak menunggu mu, hanya berdiri di pintu dan menjaganya tak terkunci dariku.
Menggambar suatu ketuk yang hangat di sebuah waktu, walau kedua matamu mengibar gugat,
menuduhku hendak mengajakmu masuk dan mengunci kita di balik bayang-bayangnya.
Pintu-pintuku cair dan bayang tubuhku saja sanggup menembusnya.
tak ada tunggu. tak ada yang terkunci, kecuali jarak
dan segala bayang-bayang sesaat sore, tersedak ke dalam ombak pasang malam
amat perlahan
sedikit sesal. Mengapa tak sedari tadi hasrat itu tiba.
hasrat menunggu atau memandangmu saja.
muara segala jarak itu
*borrowed from the title of a folk opera composed by George Gershwin in 1934 based on the novel "Porgy" by DuBose Heyward.
aku tak menunggu mu, hanya berdiri di pintu dan menjaganya tak terkunci dariku.
Menggambar suatu ketuk yang hangat di sebuah waktu, walau kedua matamu mengibar gugat,
menuduhku hendak mengajakmu masuk dan mengunci kita di balik bayang-bayangnya.
Pintu-pintuku cair dan bayang tubuhku saja sanggup menembusnya.
tak ada tunggu. tak ada yang terkunci, kecuali jarak
dan segala bayang-bayang sesaat sore, tersedak ke dalam ombak pasang malam
amat perlahan
sedikit sesal. Mengapa tak sedari tadi hasrat itu tiba.
hasrat menunggu atau memandangmu saja.
muara segala jarak itu
*borrowed from the title of a folk opera composed by George Gershwin in 1934 based on the novel "Porgy" by DuBose Heyward.
Thursday, February 23, 2006
we are fountains
splashing helplessly
surrendering ourself to this longing lands
leaping gracefully high
just a second before
we fall
splashing helplessly
surrendering ourself to this longing lands
leaping gracefully high
just a second before
we fall
Wednesday, February 01, 2006
warna jendela pada pukul 5
Sebuah lapar bisa begitu panjang dan jauh. Menghajar seperti kereta berlari deras tak putus-putus. Lapar yang sesak karena ruah dan memburu, Menghimpit dengan cair masam yang luap hingga ke dada. Seperti kental sepi atau sejenis rindu. Lapar yang perlahan sekaligus tergesa untuk membunuh. Sementara aku telah mati bertubi, sejak hitungan gerak pertama dari punggung kepergianmu atau langkah pergiku usai sebuah temu.
Lalu lapar itu selalu datang menerabas gelap berbulan memburu ingin untuk tinggal lagi di stasiunmu. Lapar yang deru hingga bisingnya menjenuh. Tak satu pun suara terdengar lagi. Lapar akan harap di suatu angka tahun yang terus bergerak. Di segala kelok dan terowongan gelap tanpa sedikitpun tanda akan pastinya hadirmu di ujung rel dingin. Rel-rel yang konstan digilas hingga menjerit-jerit denging resonan yang getar "mati berulang kali untuk hidup sekali.."
lapar yang telah karib, bergerak niscaya pada hati yang lenyap terbawa sebuah kepergian. Kematian atas lapar itu pun terlalu lembut dalam siklus inginnya yang menggebu
jika di suatu entah kau temukan dirimu membaca lapar itu.
kau akan mengenalinya, Ia dituliskan pada medan regang antara dua punggung yang berbalik seusai selamat tinggal dan harap-harap yang lalu dikibarkan dalam diam.
Lalu lapar itu selalu datang menerabas gelap berbulan memburu ingin untuk tinggal lagi di stasiunmu. Lapar yang deru hingga bisingnya menjenuh. Tak satu pun suara terdengar lagi. Lapar akan harap di suatu angka tahun yang terus bergerak. Di segala kelok dan terowongan gelap tanpa sedikitpun tanda akan pastinya hadirmu di ujung rel dingin. Rel-rel yang konstan digilas hingga menjerit-jerit denging resonan yang getar "mati berulang kali untuk hidup sekali.."
lapar yang telah karib, bergerak niscaya pada hati yang lenyap terbawa sebuah kepergian. Kematian atas lapar itu pun terlalu lembut dalam siklus inginnya yang menggebu
jika di suatu entah kau temukan dirimu membaca lapar itu.
kau akan mengenalinya, Ia dituliskan pada medan regang antara dua punggung yang berbalik seusai selamat tinggal dan harap-harap yang lalu dikibarkan dalam diam.
Tuesday, January 03, 2006
fragmented memoir of a happy phantom
Sesekali kita terjaga tengah bercermin pada segala, pada fragmen kalimat yang tidak relevan, pada potongan ingatan akan sebuah kisah atau percakapan lalu tersandung serpih yang ternyata telah jadi sebutir kata kunci. Ia membuka kotak pandora dalam dada lalu menyebarkan polusi di rongga-rongga dengan kental kesedihan dalam udara. Nafas-nafas sarat lalu sesak dan berat.
sebuah sedih yang pada puncaknya sanggup membisukan segenapmu dalam kedap yang sempurna. kedap pepat seperti perangkap kaca tahan peluru atau ruang "airlock" pada pesawat antariksa. Tak ada bunyi yang rambat, tak ada resonan atau hembusan yang rajin mengirimkan jeritan atau isak yang biasanya disandikan diam-diam lalu diurai kode-kodenya oleh radar empati. Hanya khayalan akan getar pita suara yang putus asa yang belum tentu terbukti pula.
masa lalu seperti bangunan yang kita dirikan, lemari yang dipenuh-penuhkan, kamar-kamar yang kita tata dengan begitu pribadi namun tak untuk ditinggali. aku terus berjalan lurus membangun sepetak demi sepetak lahan yang terus menjulang sesekali megah, kadang rapuh, kadang memar tapi semuanya dibangun untuk ditinggalkan. barangkali dikunjungi sesekali dan mereka nampak berbeda dari ketika pertama kita membuatnya. Mereka selalu bangunan-bangunan sempurna yang kosong, dibangun untuk ditinggalkan
sebuah sedih yang pada puncaknya sanggup membisukan segenapmu dalam kedap yang sempurna. kedap pepat seperti perangkap kaca tahan peluru atau ruang "airlock" pada pesawat antariksa. Tak ada bunyi yang rambat, tak ada resonan atau hembusan yang rajin mengirimkan jeritan atau isak yang biasanya disandikan diam-diam lalu diurai kode-kodenya oleh radar empati. Hanya khayalan akan getar pita suara yang putus asa yang belum tentu terbukti pula.
masa lalu seperti bangunan yang kita dirikan, lemari yang dipenuh-penuhkan, kamar-kamar yang kita tata dengan begitu pribadi namun tak untuk ditinggali. aku terus berjalan lurus membangun sepetak demi sepetak lahan yang terus menjulang sesekali megah, kadang rapuh, kadang memar tapi semuanya dibangun untuk ditinggalkan. barangkali dikunjungi sesekali dan mereka nampak berbeda dari ketika pertama kita membuatnya. Mereka selalu bangunan-bangunan sempurna yang kosong, dibangun untuk ditinggalkan
Sunday, January 01, 2006
Tahun Lucida dan Capela
Di suatu genggam yang tak sengaja, dibukalah jalan-jalan telusurmu di pesisir kelok waktu yang jauh, di suatu telapak rajah yang jauh dituturkanlah tafsir bahasa toreh arah perjalanan, disandikan pada carut menyilang dan ceruk-ceruk samar
telapak-telapak dan alir yang deras mengandung diri dalam cairnya.
Pernahkah begitu kau merindui seseorang hingga nafasmu tersesak? Pernahkan ingatan begitu tajam akan sebuah hadir hingga terasa bahkan geseran udara yang sama pada suatu hari yang telah sobek dari penanggalan.
aku begitu haus seperti suatu waktu yang belum pernah. waktu-waktu yang seperti pohon, semakin merindang dan meneduhkan ketika dibiarkan, ketika ditunggui, ketika bercambah bermacam harap.
arakan awan, geliat ruang. senyap adalah sebuah tempat ketinggian dalam sejenis kemabukan. Hamil harap yang jadah. dicemaskan ketika rekah tunas-tunasnya lalu membelenggu perlahan seolah janin menua menuju rindu waktunya dilahirkan. Hawa yang hangat serupa ngilu yang karib. Serupa debar. Seperti berkebat deru padang jemuran di atap-atap, ketika ombak atas helaian ladang sedikit menderas. Pekat cair yang menggelegak dalam dada pun kian berumur. Terhitung hari-hari tergores yang terlanjur absen darinya. Semakin jauh semakin tegas dan tajam ingatan. Memburu dalam gelombang-gelombang yang badai dalam senyapan. Jauh di bawah frekuensi sadar kita yang bercakap tanpa siapa-siapa.
Jarak. Kosong diantaranya apung dalam rambatan cair di kolam-kolamku, menyusur rajah-rajah tangan, hendak kupatah jelajahnya, kujerat jenjang alirnya, lalu kutuliskan ulang.
Yang terbuka di suatu genggam, katamu. yang terburaikan di sebuah dekapan, yang tertuliskan di patahan dan persilangan rajah telapakku kanan. hapus.
Segera, kita menuliskannya ulang.
Sebuah ingin. ingin yang saling. pergi memburu imbang. suatu waktu kita pun hadir satu lalu meregang jauh menyusur jejak serupa imbangan. mendebarkan seiring degub hitung sejak berbalik punggung-punggung bertulis selamat tinggal, meluapkan ketika temunya kembali genap, lalu kembali pusar alir dan lingkar berulang menabur harap sebelum burainya kembali ruah. Meniti temali dalam tetabuhan yang diam menggelisah.
Langit telah berminggu-minggu berlatar malam. Tidur, bangun dan terjagaku berdegub dalam pejam. Haus itu menjadi haus dan lapar. Menjadi tetesan yang kuyub mendingin lalu kopong berdengung dengung. Sebuah rumah beratap tunas dibawah langit yang ingat akan hujan berminggu-minggu silam.
aku melabuh di mezosfer luas tak berawan. tanpa bobot apung. Mengenal celah-celah tawanan kedap itu terbuka lebar menyusupkan percik masa yang jauh di depan ke titik sebelum semula. big bang ternyata setetes air mata yang lahir dari kematian di celah pintu masa yang tuntas dan belum berawal. Sebuah mula dari kesudahan yang belum terangkai datang.
telapak-telapak dan alir yang deras mengandung diri dalam cairnya.
Pernahkah begitu kau merindui seseorang hingga nafasmu tersesak? Pernahkan ingatan begitu tajam akan sebuah hadir hingga terasa bahkan geseran udara yang sama pada suatu hari yang telah sobek dari penanggalan.
aku begitu haus seperti suatu waktu yang belum pernah. waktu-waktu yang seperti pohon, semakin merindang dan meneduhkan ketika dibiarkan, ketika ditunggui, ketika bercambah bermacam harap.
arakan awan, geliat ruang. senyap adalah sebuah tempat ketinggian dalam sejenis kemabukan. Hamil harap yang jadah. dicemaskan ketika rekah tunas-tunasnya lalu membelenggu perlahan seolah janin menua menuju rindu waktunya dilahirkan. Hawa yang hangat serupa ngilu yang karib. Serupa debar. Seperti berkebat deru padang jemuran di atap-atap, ketika ombak atas helaian ladang sedikit menderas. Pekat cair yang menggelegak dalam dada pun kian berumur. Terhitung hari-hari tergores yang terlanjur absen darinya. Semakin jauh semakin tegas dan tajam ingatan. Memburu dalam gelombang-gelombang yang badai dalam senyapan. Jauh di bawah frekuensi sadar kita yang bercakap tanpa siapa-siapa.
Jarak. Kosong diantaranya apung dalam rambatan cair di kolam-kolamku, menyusur rajah-rajah tangan, hendak kupatah jelajahnya, kujerat jenjang alirnya, lalu kutuliskan ulang.
Yang terbuka di suatu genggam, katamu. yang terburaikan di sebuah dekapan, yang tertuliskan di patahan dan persilangan rajah telapakku kanan. hapus.
Segera, kita menuliskannya ulang.
Sebuah ingin. ingin yang saling. pergi memburu imbang. suatu waktu kita pun hadir satu lalu meregang jauh menyusur jejak serupa imbangan. mendebarkan seiring degub hitung sejak berbalik punggung-punggung bertulis selamat tinggal, meluapkan ketika temunya kembali genap, lalu kembali pusar alir dan lingkar berulang menabur harap sebelum burainya kembali ruah. Meniti temali dalam tetabuhan yang diam menggelisah.
Langit telah berminggu-minggu berlatar malam. Tidur, bangun dan terjagaku berdegub dalam pejam. Haus itu menjadi haus dan lapar. Menjadi tetesan yang kuyub mendingin lalu kopong berdengung dengung. Sebuah rumah beratap tunas dibawah langit yang ingat akan hujan berminggu-minggu silam.
aku melabuh di mezosfer luas tak berawan. tanpa bobot apung. Mengenal celah-celah tawanan kedap itu terbuka lebar menyusupkan percik masa yang jauh di depan ke titik sebelum semula. big bang ternyata setetes air mata yang lahir dari kematian di celah pintu masa yang tuntas dan belum berawal. Sebuah mula dari kesudahan yang belum terangkai datang.
Thursday, December 29, 2005
suatu kedap
sebuah kedap yang makin sulit terjamah. merajalela di waktu-waktu aku sendirian. di perjalanan, di tengah kota, di secangkir teh, di absen-absen bicara. Kedap yang pernah mengalir sekali waktu. membunuh ketergesaan dan semua yang memburu dalam berlewatan. tertutup. Mencuriku jadi sandera tanpa seorang pun tahu waktu ku yang hilang lenyap berjam-jam bahkan berbulan-bulan dalam tawanan.
Sebuah kedap yang berkehendak lepas untuk datang dan pergi. Menjadi belenggu tirani lalu pasif membebaskan segala terjadi. Sebuah pulang yang tak ingin ditemui tetapi menemui.
Kedap itu kucari-cari. ia belum bermurah hati
Sebuah kedap yang berkehendak lepas untuk datang dan pergi. Menjadi belenggu tirani lalu pasif membebaskan segala terjadi. Sebuah pulang yang tak ingin ditemui tetapi menemui.
Kedap itu kucari-cari. ia belum bermurah hati
Monday, December 26, 2005
Celah Tengah Malam
Aku mengenali nafasnya walau ia berlalu di seberang ruang. Aku hanya melihatnya pada sejarak panjang bayang tubuh ketika nyala senja tinggal setarikan nafas sebelum padam. Aku mengenali geraknya mengayun seperti kelopak dedaun belimbing ketika gerimis. Seperti rintik yang sekilas bergerak lambat di jendela namun amat tergesa melabur kilap di pinggan-pinggan klorofil muda. Henyak itu pulas di dadaku dalam ritme yang sama menyerbu kelenjar-kelenjar di sekujurku. memacu debar yang melampaui derap dan bergeming getar di setiap dentamnya. Mengalir seakan layukan kedua lututku ketika tungkai tungkainya terbata hendak melarikan aku kepada sisi setapaknya.
Aku mengenali nafasnya. Selalu saja dingin sejuk tanpa uap hangat yang lembab dari paru-parunya.
Ada satu celah menganga di setiap rentang tengah malam. Suatu celah yang hanya bisa ditemukan oleh seseorang yang tahu apa yang dicarinya di rajah-rajah malam. Ia harus cukup haus harap untuk rela menunggu tibanya, menunggu dan berjaga seakan membidan hadirnya semenjak terang tertidur malam.
Celah tempat frekuensi sunyi mengapung jadi tuaian. Sebuah nganga yang hamil berjuta malam, terperah jadi setetesan ekstrak yang pepat. Menitik segetah cerah yang malam.
Celah yang merdeka dari hitungan alur manik kelekangan. Di nganganya sembunyi jawab yang dicari dan dihauskan segala yang tak bisa diucap bibir ataupun mulut ataupun bahasa tetubuhan indera. Jawab apa saja tentang apapun juga. Jawab yang akan menuntas tanpa terurai karena jawab yang terpetik dari celah di rentang tengah malam itu bukan kata, atau bahasa, atau pemahaman namun semata sebuah malam. Malam yang sanggup cair dan resap dalam kapiler spons kehidupan. Celah yang adalah muara segala malam yang pernah ada. Malam yang bukan semata gejala cahaya di atap langit, namun malam yang surup menghirup tandas kolam beriak keinginan, kerinduan, kehausan yang menungggu pemenuhan. Malam yang jika ditadah setetesnya ketika jatuh menjadi teduhan kekal. Menjadi jawab yang lampaui segala tanya.
Malam itu aku bisa mendengar kau bernafas di sisi bahuku. kita berbaring menunggui celah itu seraya mengeja alfabet berkerlip di langit dari bawah atap kamar yang dipenuhi harum sejuk nafasmu. Atap dan eternitnya tembus pandang tak menghalang. Dalam jaraknya yang begitu luang kita gamang. terapung diantara dedebuan cahaya di langit dan atas kasur sembab yang gamang akan apa yang tengah gemuruh.
Kita menunggui tengah malam. berjam-jam kita menunggunya dan celah itu tak kunjung menganga. Kita begitu putus asa mencari makna, dan menunggu celah itu menyelesaikan semua jawabnya. Jawab dari tanya yang tak henti beranak pinak dalam gelisah dan engah yang bercucur sebentangan jarak aku berlari. Sejak kudapati diri yang tiba-tiba telah melimpah ruah dengan darah dan hidup.Hadir dengan tubuh serupa manusia namun tak sama seperti mereka.
Aku seserpih sadar yang menyeruak kasar, lepas dari sebuah peperangan hebat di dalam sebuah dada. Ada yang terbunuh dan yang membunuh pun hidupnya tinggal bersisa raga. Dan aku semacam nyawa angkara yang menyanding cacat lelehan lenyap sebuah perkasa. Dari negri-negri yang tersembunyi di dalam diri. Negri-negri yang tak kuingat lagi. Aku serpih yang gugur, mati dan barangkali tengah menjalani hidupku yang kedua kali setelah mati sebagai bukan aku lagi. Aku berlari lari tak mengerti dan kemudian hari itu aku melihatmu pertama kali.
Aku langsung mengenalimu dari nafas itu. Nafas yang sejuk dingin sesejuk nafas terakhir seorang perempuan sebelum tangisnya terhenti. Sebab dari kesadaran itulah engkau terlahir, hingga kau seperti langit musim yang selalu berakhir. Bergerak seperti gerimis dan pergi sehalus embun yang sesaat saja lalu tiada. Kau bicara dalam bahasa alih udara hangat ke sejuk di usai hujan, seperti beku yang sublim seberlalunya badai, mencengkeram genggam sepekat awan yang menyimpan petir. kau tak tahu apa itu cinta, seperti aku juga tak tahu. karena kita berdua hanya seserpih entah dan bukan manusia walau aku dan kamu pun tak sama.
Kita berdua serpih tak lengkap yang terjatuh dari mereka. Manusia yang terguncang sedemikian atau tertumbuk bentur dan termemar hingga melelehkan sadarnya keluar berceceran. serupa jerit, rintih atau darah, liur, mani ataupun peluh. Kita lahir oleh pecah-pecah kesadaran yang begitu kuat yang sanggup melampaui jasad retak, membangkitkan "manusia" asing yang tak penuh bertubuh. Manusia yang sadarnya menggugur dari wadah raga manusia induknya lalu lepas mandiri mengais-ngais mencari jiwa. Sebagaimana Kita pun begitu haus akan jiwa sesobek dirinya, begitu lapar akan sadar yang melahirkan kita serupa manusia namun membawa waris guguran semata. Kau beranjak dan membeku setipis nafas sejuk dingin dan gerimis. Aku hanya membatu serupa segala yang padam dan mati bertubi.
Malam itu semua suara mati ketika kita begitu sungguh mengucap doa demi celah itu agar membuka. Agar kita dapat masuk ke dalamnya dan malam merasuk sempurna ke dalam kita. barangkali dengan demikian kita sungguh-sungguh berada.
Aku menelan sebutir debu sesaat sebelum kedip membangunkan kelok debarku dari atap-atap yang dibawahnya kita berbaring menunggu. Tengah malam sudah berjam-jam membeku, barangkali karena nafasmu dan pada hitung jam yang entah ke berapa kali kau retas pembilangnya, aku telah kikis dalam ciuman-ciumanmu. Lalu Kau diam-diam menuduhku berkhianat karena tak lagi haus menunggu celah tengah malam itu.
Aku memang kehilangan haus itu dihitungan eja alfabet bintang ke seratus sekian pada kelegaman. Ketika aku terhenyak oleh udara yang kuhirup yang adalah nafas mu. Mendapati segala eja menjadi mantra yang sia-sia. lalu aku mulai menghitungnya dari setiap butir gerimis yang lekat di rambutmu. Tak lagi tengadah pada atap transparan di kamar itu namun menatap tembus pada sisi bahuku, tempat sandar kepalamu di mana semesta berporos dalam nafas sejuk itu. Dan aku melihat nganga yang menjatuhkanku ke dalam ruang maha-tengah-malam yang berlongsoran jawab dalam lenyap rasa hadirku. Genap ke dalam materi-materi gelap angkasa berpusar tenang dalam poros butir-butirmu.
Teduh itu pun turun mendahului kekelaman pejam dan angguk dalam yang memahami, teduh yang teramat teduh berdentingan seperti sehelai demi sehelai senar yang menguap satu persatu ketika terpetik sekali.
kecewa karena tak pernah kau temu celah itu. kau uapkan dirimu di ujung embun ketika pagi. Akan kau cari celah tengah malam itu sendiri, janjimu. Dan aku tak berdaya mengurai jawab yang resap dari celah yang terbuka untukku di malam terakhir kita berbaring menunggu. ketika aku lepaskan haus harapku demi menoleh pada nafas sejukmu. Kutemu celah adaku dan menemukannya kembali setiap kali aku mengenali nafasmu walau dirimu berlalu di seberang ruang atau seberang jalan. Walau aku hanya melihatnya pada sejarak panjang bayang tubuh ketika nyala senja tinggal setarikan nafas sebelum padam.
Aku mengenali nafasnya. Selalu saja dingin sejuk tanpa uap hangat yang lembab dari paru-parunya.
Ada satu celah menganga di setiap rentang tengah malam. Suatu celah yang hanya bisa ditemukan oleh seseorang yang tahu apa yang dicarinya di rajah-rajah malam. Ia harus cukup haus harap untuk rela menunggu tibanya, menunggu dan berjaga seakan membidan hadirnya semenjak terang tertidur malam.
Celah tempat frekuensi sunyi mengapung jadi tuaian. Sebuah nganga yang hamil berjuta malam, terperah jadi setetesan ekstrak yang pepat. Menitik segetah cerah yang malam.
Celah yang merdeka dari hitungan alur manik kelekangan. Di nganganya sembunyi jawab yang dicari dan dihauskan segala yang tak bisa diucap bibir ataupun mulut ataupun bahasa tetubuhan indera. Jawab apa saja tentang apapun juga. Jawab yang akan menuntas tanpa terurai karena jawab yang terpetik dari celah di rentang tengah malam itu bukan kata, atau bahasa, atau pemahaman namun semata sebuah malam. Malam yang sanggup cair dan resap dalam kapiler spons kehidupan. Celah yang adalah muara segala malam yang pernah ada. Malam yang bukan semata gejala cahaya di atap langit, namun malam yang surup menghirup tandas kolam beriak keinginan, kerinduan, kehausan yang menungggu pemenuhan. Malam yang jika ditadah setetesnya ketika jatuh menjadi teduhan kekal. Menjadi jawab yang lampaui segala tanya.
Malam itu aku bisa mendengar kau bernafas di sisi bahuku. kita berbaring menunggui celah itu seraya mengeja alfabet berkerlip di langit dari bawah atap kamar yang dipenuhi harum sejuk nafasmu. Atap dan eternitnya tembus pandang tak menghalang. Dalam jaraknya yang begitu luang kita gamang. terapung diantara dedebuan cahaya di langit dan atas kasur sembab yang gamang akan apa yang tengah gemuruh.
Kita menunggui tengah malam. berjam-jam kita menunggunya dan celah itu tak kunjung menganga. Kita begitu putus asa mencari makna, dan menunggu celah itu menyelesaikan semua jawabnya. Jawab dari tanya yang tak henti beranak pinak dalam gelisah dan engah yang bercucur sebentangan jarak aku berlari. Sejak kudapati diri yang tiba-tiba telah melimpah ruah dengan darah dan hidup.Hadir dengan tubuh serupa manusia namun tak sama seperti mereka.
Aku seserpih sadar yang menyeruak kasar, lepas dari sebuah peperangan hebat di dalam sebuah dada. Ada yang terbunuh dan yang membunuh pun hidupnya tinggal bersisa raga. Dan aku semacam nyawa angkara yang menyanding cacat lelehan lenyap sebuah perkasa. Dari negri-negri yang tersembunyi di dalam diri. Negri-negri yang tak kuingat lagi. Aku serpih yang gugur, mati dan barangkali tengah menjalani hidupku yang kedua kali setelah mati sebagai bukan aku lagi. Aku berlari lari tak mengerti dan kemudian hari itu aku melihatmu pertama kali.
Aku langsung mengenalimu dari nafas itu. Nafas yang sejuk dingin sesejuk nafas terakhir seorang perempuan sebelum tangisnya terhenti. Sebab dari kesadaran itulah engkau terlahir, hingga kau seperti langit musim yang selalu berakhir. Bergerak seperti gerimis dan pergi sehalus embun yang sesaat saja lalu tiada. Kau bicara dalam bahasa alih udara hangat ke sejuk di usai hujan, seperti beku yang sublim seberlalunya badai, mencengkeram genggam sepekat awan yang menyimpan petir. kau tak tahu apa itu cinta, seperti aku juga tak tahu. karena kita berdua hanya seserpih entah dan bukan manusia walau aku dan kamu pun tak sama.
Kita berdua serpih tak lengkap yang terjatuh dari mereka. Manusia yang terguncang sedemikian atau tertumbuk bentur dan termemar hingga melelehkan sadarnya keluar berceceran. serupa jerit, rintih atau darah, liur, mani ataupun peluh. Kita lahir oleh pecah-pecah kesadaran yang begitu kuat yang sanggup melampaui jasad retak, membangkitkan "manusia" asing yang tak penuh bertubuh. Manusia yang sadarnya menggugur dari wadah raga manusia induknya lalu lepas mandiri mengais-ngais mencari jiwa. Sebagaimana Kita pun begitu haus akan jiwa sesobek dirinya, begitu lapar akan sadar yang melahirkan kita serupa manusia namun membawa waris guguran semata. Kau beranjak dan membeku setipis nafas sejuk dingin dan gerimis. Aku hanya membatu serupa segala yang padam dan mati bertubi.
Malam itu semua suara mati ketika kita begitu sungguh mengucap doa demi celah itu agar membuka. Agar kita dapat masuk ke dalamnya dan malam merasuk sempurna ke dalam kita. barangkali dengan demikian kita sungguh-sungguh berada.
Aku menelan sebutir debu sesaat sebelum kedip membangunkan kelok debarku dari atap-atap yang dibawahnya kita berbaring menunggu. Tengah malam sudah berjam-jam membeku, barangkali karena nafasmu dan pada hitung jam yang entah ke berapa kali kau retas pembilangnya, aku telah kikis dalam ciuman-ciumanmu. Lalu Kau diam-diam menuduhku berkhianat karena tak lagi haus menunggu celah tengah malam itu.
Aku memang kehilangan haus itu dihitungan eja alfabet bintang ke seratus sekian pada kelegaman. Ketika aku terhenyak oleh udara yang kuhirup yang adalah nafas mu. Mendapati segala eja menjadi mantra yang sia-sia. lalu aku mulai menghitungnya dari setiap butir gerimis yang lekat di rambutmu. Tak lagi tengadah pada atap transparan di kamar itu namun menatap tembus pada sisi bahuku, tempat sandar kepalamu di mana semesta berporos dalam nafas sejuk itu. Dan aku melihat nganga yang menjatuhkanku ke dalam ruang maha-tengah-malam yang berlongsoran jawab dalam lenyap rasa hadirku. Genap ke dalam materi-materi gelap angkasa berpusar tenang dalam poros butir-butirmu.
Teduh itu pun turun mendahului kekelaman pejam dan angguk dalam yang memahami, teduh yang teramat teduh berdentingan seperti sehelai demi sehelai senar yang menguap satu persatu ketika terpetik sekali.
kecewa karena tak pernah kau temu celah itu. kau uapkan dirimu di ujung embun ketika pagi. Akan kau cari celah tengah malam itu sendiri, janjimu. Dan aku tak berdaya mengurai jawab yang resap dari celah yang terbuka untukku di malam terakhir kita berbaring menunggu. ketika aku lepaskan haus harapku demi menoleh pada nafas sejukmu. Kutemu celah adaku dan menemukannya kembali setiap kali aku mengenali nafasmu walau dirimu berlalu di seberang ruang atau seberang jalan. Walau aku hanya melihatnya pada sejarak panjang bayang tubuh ketika nyala senja tinggal setarikan nafas sebelum padam.
Sunday, December 25, 2005
merry christmas..
bendera keterasingan berkibar kibar, memperdengarkan salam yang sepi itu berulang. sepi yang dihasilkan oleh pengulangan beragam yang begitu masif hingga dalam titik jenuhnya yang terpadat ia menjadi hanya sepi homogen yang luas. Aku berlarian kencang dalam kegelisahan yang sangat telah melewatkan banyak hal yang kemudian hanya kuingat berdenging desing dalam pita rekam benak-benak. Tetapi aku tidak berhenti. Tberlarian menuju entah, menghindari segala yang menggelisahkanku antara tak ingin kulewatkan namun entah bagaimana harus kuhampiri. Tetapi tak hanya aku yang berlari. Kusadari segala pun berlarian mengilasku lebih cepat, lebih kilat hingga tak lagi denging atau desing yang melebihi kecepatan denging itu sendiri, namun hanya jejak gesernya udara yang terkibas seruak dahsyat yang terlalu cepat untuk terdengar bunyi.
Saturday, December 10, 2005
jam
Ada relativitas waktu yang seperti ngarai raksasa antara sadarku dan aku. kadang aku di dalamku dilindasi aku yang terus berjalan dalam siklus sedemikian. semuanya lewat selagi aku mengalami atau mendengar. seperti relativitas waktu yang berbeda antara hidup dan aku. aku memperhatikan berlangsungnya berjam jam sementara hidup itu sendiri hanya sepersekian detik saja sebelum menguap. hidupku yang seperti fantom dan aku tak yakin aku pernah menemui hidup ketika dalam simak ku atasnya dengan penuh ingin tahu, hidup itu telah lenyap berjam-jam sebelumnya. Berjam-jam dari jam dinding siapa? ruang dada yang mana? Karena milyaran jam dinding atau arloji pun berselisih dalam detik dan menit. seperti koor kanon berlapis harmoni. Siapakah yang diam dan siapakah yang melesat dalam kereta relativitas kesadaran itu.
Kesadaran itu menyengat dan mengusik seperti serangga, sementara hidup hanya rontokan sayapnya yang ku punguti dengan padat hasrat memahami selagi penerbangan yang sesungguhnya beranjak pergi dan menyengat-nyegat. Berdiri sesaat kemudian tertidur mati dan kembali berdiri lagi dalam sesaat.
Berjam-jam dari jam siapa?
Aku serangga yang menyengat sehari kemudian esoknya mati, terperangkap jejaring arus bernama hidup atau semesta yang leburkan semua sayapku rontok hancur dan bergugur. sementara aku terhukum untuk terus terbang dan menyengat-nyegat mencari terjaga dari segala yang menabraki.
Aku sebongkah sadar yang bangun tersengat oleh hidup yang kukira hanyalah rontokan sayap yang akan terurai dalam beberapa minggu menjadi tanah atau abu menghambur.
hidup dari aku yang mana? karena aku dan aku pun berselisih dalam balkon nyata dan teras maya di waktu-waktu terjagaku.
Aku dan aku pada hidup yang mana? siapakah aku yang diam dan aku yang di atas kereta hidup itu? atau hidup yang mana yang diam dan yang menumpang di keretaku.
aku dan aku dan hidup selalu lapar dalam niscaya ekuilibrium
Kesadaran itu menyengat dan mengusik seperti serangga, sementara hidup hanya rontokan sayapnya yang ku punguti dengan padat hasrat memahami selagi penerbangan yang sesungguhnya beranjak pergi dan menyengat-nyegat. Berdiri sesaat kemudian tertidur mati dan kembali berdiri lagi dalam sesaat.
Berjam-jam dari jam siapa?
Aku serangga yang menyengat sehari kemudian esoknya mati, terperangkap jejaring arus bernama hidup atau semesta yang leburkan semua sayapku rontok hancur dan bergugur. sementara aku terhukum untuk terus terbang dan menyengat-nyegat mencari terjaga dari segala yang menabraki.
Aku sebongkah sadar yang bangun tersengat oleh hidup yang kukira hanyalah rontokan sayap yang akan terurai dalam beberapa minggu menjadi tanah atau abu menghambur.
hidup dari aku yang mana? karena aku dan aku pun berselisih dalam balkon nyata dan teras maya di waktu-waktu terjagaku.
Aku dan aku pada hidup yang mana? siapakah aku yang diam dan aku yang di atas kereta hidup itu? atau hidup yang mana yang diam dan yang menumpang di keretaku.
aku dan aku dan hidup selalu lapar dalam niscaya ekuilibrium
Sunday, December 04, 2005
cum stella Lucidae
Dari tetes leleh di tepian matanya terpantul sebuah wajah. raut yang serupa belah jiwaku di hadap yang seperti genggaman utuh satu tubuh. Ia yang tepat di hadap wajahku. Lalu satu ia lain yang tengah mendegubkan debarku beratus kilometer dariku dan genggamku atasnya di ruang ini. Satu ia yang berlalu di ketersilaman kamar-kamar pertama yang dibuka dalam diriku. Satu ia yang panjang rambutnya berlalu seperti keterjagaan yang baru saja kehilangan mimpinya. bergetar lenyap di udara pagi. Dan satu ia lagi yang belum lagi kulewati jalannya atau kutemui hadirnya, ia yang belum kutemu, namun seperti halnya aku, ia mengejar satu dirinya terangkai dengan keempat yang lain. Barangkali di genap hadapku, barangkali genap di genggamku. Mengejar keniscayaan imbang yang kehausan selama berabad atau menunggu keterpulasan segala menuntaskan lenyap.
Ia dan aku suatu waktu telah leburkan diri ke segenapnya dan ke segalaku ketika kami sama saling mengingini. Namun dalam sebuah lengkung langit yang ingkar ia terpecah seperti beling beling tajam yang tak bisa satu. Lalu kami terhambur ke dalam penerbangan dedebuan waktu, tergelincir dari gumpalan bangun-bangun event di waktu yang linier. terpayah dan terengah mengejar kembali satu yang terserak.
Di waktu dan ruang ini kutemukan serpihannya yang ke lima dalam genggamku. Genggam dekap yang erat sekeji rindu yang meremas pecahannya hingga berdarah dan dalam ringis sakit itu mataku meneteskan bulat cermin yang memantulkan wajah-wajahnya yang terbelah. pantul yang basah dan hangat dalam distorsi yang sarat akan ingat.
Dalam basah hangatnya akupun mengerti berulang-ulang akan tempatku berasal. Dari suatu bulat cermin tetesan air mata pula semuanya. Kuingat plasenta lahirku sebuah lensa berselaput iris yang tua. jiwa yang tua. jiwa serupa yang selalu menarikku untuk pulang, merindukan awal tempat aku selalu diluncurkan, dijatuhkan, dilepaskan bukan untuk pulang melainkan untuk meninggalkan, untuk memantulkan, menjejakkan, kemudian uap menghilang dalam partikel yang senyap. tak musnah namun hanya terlalu senyap untuk berada. Aku bukan dilahirkan dalam siklus yang berputar, namun jalanan satu arah tanpa putaran berbalik atau tidak pula dengan leher yang cukup lentur untuk menoleh ke belakang.
Aku di suatu waktu adalah setetes raksa yang membara sebelum baraku sendiri menuntasku tanpa jejak ke dalam uap.
Uap yang katung dalam sebuah niscaya yang hasratnya kabur, entahkah hendak naik tinggi pergi atau kelelahan dan terjatuh mengembun.
Aku setetes air mata yang terjatuh dari bara seekor naga. Seribu sembilanratus tujuh puluh delapan usiaku ketika lahirku ringkuk di sisik tapaknya yang menggeliat dalam raung bukan karena luka, namun karena duka. Duka yang seperti kulitnya yang padat sekelu logam namun bernafas, hangat seperti hidup yang telah berabad-abad seakan tak berujung. Hanya sesaat sebelum padamnya aku terjaga menemu nyawanya berkibas dari sisik yang meremang melepaskan segala hangat ke dalam dingin yang menjurang dalam.
Ia dan aku suatu waktu telah leburkan diri ke segenapnya dan ke segalaku ketika kami sama saling mengingini. Namun dalam sebuah lengkung langit yang ingkar ia terpecah seperti beling beling tajam yang tak bisa satu. Lalu kami terhambur ke dalam penerbangan dedebuan waktu, tergelincir dari gumpalan bangun-bangun event di waktu yang linier. terpayah dan terengah mengejar kembali satu yang terserak.
Di waktu dan ruang ini kutemukan serpihannya yang ke lima dalam genggamku. Genggam dekap yang erat sekeji rindu yang meremas pecahannya hingga berdarah dan dalam ringis sakit itu mataku meneteskan bulat cermin yang memantulkan wajah-wajahnya yang terbelah. pantul yang basah dan hangat dalam distorsi yang sarat akan ingat.
Dalam basah hangatnya akupun mengerti berulang-ulang akan tempatku berasal. Dari suatu bulat cermin tetesan air mata pula semuanya. Kuingat plasenta lahirku sebuah lensa berselaput iris yang tua. jiwa yang tua. jiwa serupa yang selalu menarikku untuk pulang, merindukan awal tempat aku selalu diluncurkan, dijatuhkan, dilepaskan bukan untuk pulang melainkan untuk meninggalkan, untuk memantulkan, menjejakkan, kemudian uap menghilang dalam partikel yang senyap. tak musnah namun hanya terlalu senyap untuk berada. Aku bukan dilahirkan dalam siklus yang berputar, namun jalanan satu arah tanpa putaran berbalik atau tidak pula dengan leher yang cukup lentur untuk menoleh ke belakang.
Aku di suatu waktu adalah setetes raksa yang membara sebelum baraku sendiri menuntasku tanpa jejak ke dalam uap.
Uap yang katung dalam sebuah niscaya yang hasratnya kabur, entahkah hendak naik tinggi pergi atau kelelahan dan terjatuh mengembun.
Aku setetes air mata yang terjatuh dari bara seekor naga. Seribu sembilanratus tujuh puluh delapan usiaku ketika lahirku ringkuk di sisik tapaknya yang menggeliat dalam raung bukan karena luka, namun karena duka. Duka yang seperti kulitnya yang padat sekelu logam namun bernafas, hangat seperti hidup yang telah berabad-abad seakan tak berujung. Hanya sesaat sebelum padamnya aku terjaga menemu nyawanya berkibas dari sisik yang meremang melepaskan segala hangat ke dalam dingin yang menjurang dalam.
Thursday, December 01, 2005
halte
sekonyong orang di sisiku itu asing
kelam jalanan malam pecah
mengeping di rongga antara perut dan dada
dingin bukan seperti beku namun seperti hembusan
kulitnya bernafas digandeng tangan kami
dan dengus nafasku terengah dikejar malam
menyamakan langkah ke halte karat
di peranginan bulan renggang panggulku terasa sungsang
boleh kuminta sebatang rokokmu?
orang asing itu meminjamkan pantik api
dan sejulur paru-paruku yang berasap
kuhirup dalam-dalam jejaknya
dalam rongga dada yang perih karena dingin yang bukan malam
berusaha lupakan keterasingan
karena aku yakin kami karib sebelum malam ini memecah lantak
sebelum aku membeku hembus gigil di halte berkarat
sepanjang hidup asing tempat sekali waktu aku mengenal dia.
kelam jalanan malam pecah
mengeping di rongga antara perut dan dada
dingin bukan seperti beku namun seperti hembusan
kulitnya bernafas digandeng tangan kami
dan dengus nafasku terengah dikejar malam
menyamakan langkah ke halte karat
di peranginan bulan renggang panggulku terasa sungsang
boleh kuminta sebatang rokokmu?
orang asing itu meminjamkan pantik api
dan sejulur paru-paruku yang berasap
kuhirup dalam-dalam jejaknya
dalam rongga dada yang perih karena dingin yang bukan malam
berusaha lupakan keterasingan
karena aku yakin kami karib sebelum malam ini memecah lantak
sebelum aku membeku hembus gigil di halte berkarat
sepanjang hidup asing tempat sekali waktu aku mengenal dia.
Wednesday, November 09, 2005
langit dari jendelaku tak lagi jernih. padahal bintang itu semakin
membengkak terik di hitam malam dan aku ingin sekali melihatnya.
aku ingin sekali melihat bintang itu jelas tanpa kabut atau polusi cahaya kota. dengan hadirmu atau tanpa hadirmu. sesungguhnya itu jadi pilihanmu. Karena akan
sama indah bagiku.
tanpa hadirmu, aku dan aku akan miliki langit seorang diri. Bersandar di istana sepiku yang manis melafalkan lelehan puisi dari setiap satu persatu pendar
temaram di atap malam.
Di hadirmu aku akan berbagi bicara, barangkali meremas jemarimu sambil
tengadah, menutur fiksi kita sendiri atau kita bangun narasi yang lain sama sekali dengan bergantian saling menimpali untai-untai alur kisahnya, tentang sebuah bintang yang datang mampir ke bumi beberapa malam lalu berkelana lagi jauh dalam setapak yang melingkar dikemudikan waktu
untuk kembali lagi ketika kita tak mengingat ingatan.
Bintang itu pernah sekali lambaikan jubahnya merah di hari lahirku, dan ia tahu aku mencarinya, ia menungguiku di dermaga orbitnya.
Karenanya aku pasti datang melihatnya lagi sebelum pelayarannya lepas
labuhan dan aku harus menunggunya tiba lagi sampai habis umurku. aku pasti
datang. Tengadah di suatu langit bersih tanpa kabut atau polusi cahaya.
denganmu atau tanpamu.
membengkak terik di hitam malam dan aku ingin sekali melihatnya.
aku ingin sekali melihat bintang itu jelas tanpa kabut atau polusi cahaya kota. dengan hadirmu atau tanpa hadirmu. sesungguhnya itu jadi pilihanmu. Karena akan
sama indah bagiku.
tanpa hadirmu, aku dan aku akan miliki langit seorang diri. Bersandar di istana sepiku yang manis melafalkan lelehan puisi dari setiap satu persatu pendar
temaram di atap malam.
Di hadirmu aku akan berbagi bicara, barangkali meremas jemarimu sambil
tengadah, menutur fiksi kita sendiri atau kita bangun narasi yang lain sama sekali dengan bergantian saling menimpali untai-untai alur kisahnya, tentang sebuah bintang yang datang mampir ke bumi beberapa malam lalu berkelana lagi jauh dalam setapak yang melingkar dikemudikan waktu
untuk kembali lagi ketika kita tak mengingat ingatan.
Bintang itu pernah sekali lambaikan jubahnya merah di hari lahirku, dan ia tahu aku mencarinya, ia menungguiku di dermaga orbitnya.
Karenanya aku pasti datang melihatnya lagi sebelum pelayarannya lepas
labuhan dan aku harus menunggunya tiba lagi sampai habis umurku. aku pasti
datang. Tengadah di suatu langit bersih tanpa kabut atau polusi cahaya.
denganmu atau tanpamu.
Wednesday, October 26, 2005
Bincang
di meja benderang aku dan kesedihan kembali berbincang. Seperti lama sekali kami tak saling pulang. padahal kami selalu bersisian.
seperti ingatan akan Lelehan cocoa hangat dan mentega, karib dan cair rindu itu kental menghangat di rongga antara perut dan dada. Tak ada keterasingan. seperti biasa teduh perjumpaan kita.
di hadap ini lagi tadi siang, setelah sekian lama kita bersisian tanpa berjanji. Berjalan tanpa sekilaspun saling pandang tanpa kita pernah sepakati.
kesedihan begitu berbeda dari terakhir kali aku melihatnya. ia semakin serupa denganku ataukah aku yang makin serupa dengannya?. Barangkali aku terlalu keras meniadakan diriku supaya aku menjadi seperti segala kecuali dirinya? karena itukah ia kembali bicara di suatu siang walau kita diam-diam berjanji tak akan saling menemui dalam serentangan waktu. Serentangan waktu yang tiba-tiba habis tandas digilas suatu terang.
Kupikir aku telah mengucapkan salam sebelum pertama kali kenang itu berbingkai dalam segarnya anjak yang baru berlalu, dan punggung-punggungku membekukan "selamat tinggal".
sejak itu aku dan kesedihan akan selalu baik-baik saja, tak lagi terdorong untuk saling hadap atau mulai bercakap. Walau selalu bersisian. Kami tak lagi bersama.
Kemudian kutemukan diriku pergi berenang, mengejar dingin hujan, membakar kepul-kepul kretek di bawah payung ketika deras. Menjadikan diriku sendiri asap yang meliuk pecah, tenang dalam keniscayaan hilang.
terapung oleh hari-hari, menjala debu warna ketika gelap, menunggui jendela kamar berubah cahaya di pesisir pagi.
Tak sengaja menemu diri hilang dalam mengejar benang-benang tipis yang atasnya aku meniti setapak. Semua yang hilang dan yang kuhilangkan, semua yang perih dan kusingkirkan, semuanya membawaku pulang kepada satu bincang. Aku dan kesedihan. tanpanya aku hilang imbang dan jatuh berbohong bertubi tentang kebahagiaan. Tentang harapan yang tak lagi kuacuhkan supaya tak harus aku bicara lagi dengan nada bicara yang seperti dirinya. Tentang sebuah kelegaan yang ternyata hanya ketakutan yang diredam sijingkat penyangkalan. Tentang perjalanan ke segala yang kupikir telah akhirnya kulakukan tanpa hadirnya.
Disinilah kami. kembali berbincang tidak seperti terakhir kali kami berbincang. Sosoknya berbeda walau ia tetap dirinya. Seperti aku, sesuatu telah hilang dari sadarnya, seperti aku, ia pun mencari atau menunggui kembalinya. Tetapi yang hilang dari jalan-jalan adalah hadap bincang kita semata. Di tiap malam yang haus akan kantuk yang lenyap, di setiap kolam dan tetesan air tempat aku menjangkarkan kekosongan untuk lepas golak. Bincang ini yang belaka kutunggui. Aku dan kesedihan saling pulang dan berdamai walau kami tak pernah sungguh berseteru.
hangat rindu kami seperti teduhan.
Sepecah saja tangisan, sedenyaran sedu lalu kami akan baik-baik saja
seperti ingatan akan Lelehan cocoa hangat dan mentega, karib dan cair rindu itu kental menghangat di rongga antara perut dan dada. Tak ada keterasingan. seperti biasa teduh perjumpaan kita.
di hadap ini lagi tadi siang, setelah sekian lama kita bersisian tanpa berjanji. Berjalan tanpa sekilaspun saling pandang tanpa kita pernah sepakati.
kesedihan begitu berbeda dari terakhir kali aku melihatnya. ia semakin serupa denganku ataukah aku yang makin serupa dengannya?. Barangkali aku terlalu keras meniadakan diriku supaya aku menjadi seperti segala kecuali dirinya? karena itukah ia kembali bicara di suatu siang walau kita diam-diam berjanji tak akan saling menemui dalam serentangan waktu. Serentangan waktu yang tiba-tiba habis tandas digilas suatu terang.
Kupikir aku telah mengucapkan salam sebelum pertama kali kenang itu berbingkai dalam segarnya anjak yang baru berlalu, dan punggung-punggungku membekukan "selamat tinggal".
sejak itu aku dan kesedihan akan selalu baik-baik saja, tak lagi terdorong untuk saling hadap atau mulai bercakap. Walau selalu bersisian. Kami tak lagi bersama.
Kemudian kutemukan diriku pergi berenang, mengejar dingin hujan, membakar kepul-kepul kretek di bawah payung ketika deras. Menjadikan diriku sendiri asap yang meliuk pecah, tenang dalam keniscayaan hilang.
terapung oleh hari-hari, menjala debu warna ketika gelap, menunggui jendela kamar berubah cahaya di pesisir pagi.
Tak sengaja menemu diri hilang dalam mengejar benang-benang tipis yang atasnya aku meniti setapak. Semua yang hilang dan yang kuhilangkan, semua yang perih dan kusingkirkan, semuanya membawaku pulang kepada satu bincang. Aku dan kesedihan. tanpanya aku hilang imbang dan jatuh berbohong bertubi tentang kebahagiaan. Tentang harapan yang tak lagi kuacuhkan supaya tak harus aku bicara lagi dengan nada bicara yang seperti dirinya. Tentang sebuah kelegaan yang ternyata hanya ketakutan yang diredam sijingkat penyangkalan. Tentang perjalanan ke segala yang kupikir telah akhirnya kulakukan tanpa hadirnya.
Disinilah kami. kembali berbincang tidak seperti terakhir kali kami berbincang. Sosoknya berbeda walau ia tetap dirinya. Seperti aku, sesuatu telah hilang dari sadarnya, seperti aku, ia pun mencari atau menunggui kembalinya. Tetapi yang hilang dari jalan-jalan adalah hadap bincang kita semata. Di tiap malam yang haus akan kantuk yang lenyap, di setiap kolam dan tetesan air tempat aku menjangkarkan kekosongan untuk lepas golak. Bincang ini yang belaka kutunggui. Aku dan kesedihan saling pulang dan berdamai walau kami tak pernah sungguh berseteru.
hangat rindu kami seperti teduhan.
Sepecah saja tangisan, sedenyaran sedu lalu kami akan baik-baik saja
Monday, May 02, 2005
rambut
Setiap helai rambut hitamku menyimpan ingatan cadangan akan perjalanan. Rambut-rambut yang berjuntaian, sembul dan bertumbuhan dari kepala. Kepala tempat benak dan segala poros hidupku berpusar menitip ribuan kenang dan serpih catatan pada setiap mili yang memanjang. Setiap helai yang rontok membawa kata-kata kunci, juga halus anak-anak rambutnya tumbuh menyimpan hal yang sama. Sanggup membuka ingatan segala dari hal yg sekecil saja.
Karenanya ketika ketidak seimbangan dan kekacauan mencuri hadir atau menjajah perjalanan, aku selalu hendak memotong rambutku. Membuang memori cadanganku akan sesuatu yang barusaja berlalu atau pun masih berlangsung pekat di kepala. Sesuatu yang tak ingin kuingat lama atau sesuatu yang ingin kuingat dengan cara yang berbeda. Barangkali rambutku lebih tahu apa yang mereka simpan yang hendak aku singkirkan. Barangkali terpotongnya rambut semata seakan meringankan aku.
Beberapa helai rambutku gugur. Seperti kenang-kenang yang jatuh hilang tak ketahuan karena tak ada gores yang membuatnya terus ada. Hanya hal yang baik berkepanjangan membusuk menjadi hal yang biasa, justru membuat lena lalu membuat lupa akan detil perdetik perjalanan. Seperti melamun di taman atau sebuah jendela. Setelah beberapa waktu Kita tak lagi ingat keindahan sampai ada duri atau tampias hujan membuyar lamun dengan gigil nyeri. Mengembalikan kita pada nyata: terjaga di suatu ketika. Terbangun di suatu ingat, lalu kita mencatatnya.
Tetapi ketika segala kembali genap dalam baik-baik saja kita kembali lupa.
Kita baru mengingat dengan tajam ketika kesedihan hadir disana. Mencarutkan sesuatu untuk diperihkan, untuk diluapi darah, untuk diingat..
Ingatanku tajam, ataukah goresan ingatan itulah yang dalam. Nyeri tak kenal ampun. Bersikeras hadir sepanjang jalan.
Paing tidak ada dua hal yang tak mampu disingkirkan oleh kenangan. Cinta dan kesedihan. Aku telah terlebih dulu mencintai kesedihan sebelum cinta mendatangkan sedih padaku. Kemudian lebih dari segalanya, cinta adalah hal tersedih ketika ia pergi. Sedih sejak memahami keniscayaan anjaknya kepada pergi jauh sebelum kepergian itu terjadi. Aku tidak terlalu mengerti mengapa mencintai membuatku sangat sedih. Walaupun cinta tidak menolak kesedihan atau bertolak belakang dari kesedihan
Keduanya sama lahir dari gamang keindahan yang tak tertahankan, mungkin karenanya aku tak bisa lupa
Sudah lama aku tak memotong rambutku. Barangkali hampir 600 hari. Bukan karena aku tak lagi mengalami tindas ketidakseimbangan di perjalananku. Tetapi seiring dengan juntai rerambut yang kian panjang dan legam oleh segala ingat, layaran benakpun mendermaga. Hal yang buruk itu baik, Cinta itu baik demikian pula kesedihan. Segala yang baik-baik akan membusuk kepada biasa. Pada akhirnya semua rambut akan gugur dan tak ada lagi yang tinggal dikenang. Selain yang dibawa oleh serpih gugur rambutku dan yang bukan lagi aku.
Karenanya ketika ketidak seimbangan dan kekacauan mencuri hadir atau menjajah perjalanan, aku selalu hendak memotong rambutku. Membuang memori cadanganku akan sesuatu yang barusaja berlalu atau pun masih berlangsung pekat di kepala. Sesuatu yang tak ingin kuingat lama atau sesuatu yang ingin kuingat dengan cara yang berbeda. Barangkali rambutku lebih tahu apa yang mereka simpan yang hendak aku singkirkan. Barangkali terpotongnya rambut semata seakan meringankan aku.
Beberapa helai rambutku gugur. Seperti kenang-kenang yang jatuh hilang tak ketahuan karena tak ada gores yang membuatnya terus ada. Hanya hal yang baik berkepanjangan membusuk menjadi hal yang biasa, justru membuat lena lalu membuat lupa akan detil perdetik perjalanan. Seperti melamun di taman atau sebuah jendela. Setelah beberapa waktu Kita tak lagi ingat keindahan sampai ada duri atau tampias hujan membuyar lamun dengan gigil nyeri. Mengembalikan kita pada nyata: terjaga di suatu ketika. Terbangun di suatu ingat, lalu kita mencatatnya.
Tetapi ketika segala kembali genap dalam baik-baik saja kita kembali lupa.
Kita baru mengingat dengan tajam ketika kesedihan hadir disana. Mencarutkan sesuatu untuk diperihkan, untuk diluapi darah, untuk diingat..
Ingatanku tajam, ataukah goresan ingatan itulah yang dalam. Nyeri tak kenal ampun. Bersikeras hadir sepanjang jalan.
Paing tidak ada dua hal yang tak mampu disingkirkan oleh kenangan. Cinta dan kesedihan. Aku telah terlebih dulu mencintai kesedihan sebelum cinta mendatangkan sedih padaku. Kemudian lebih dari segalanya, cinta adalah hal tersedih ketika ia pergi. Sedih sejak memahami keniscayaan anjaknya kepada pergi jauh sebelum kepergian itu terjadi. Aku tidak terlalu mengerti mengapa mencintai membuatku sangat sedih. Walaupun cinta tidak menolak kesedihan atau bertolak belakang dari kesedihan
Keduanya sama lahir dari gamang keindahan yang tak tertahankan, mungkin karenanya aku tak bisa lupa
Sudah lama aku tak memotong rambutku. Barangkali hampir 600 hari. Bukan karena aku tak lagi mengalami tindas ketidakseimbangan di perjalananku. Tetapi seiring dengan juntai rerambut yang kian panjang dan legam oleh segala ingat, layaran benakpun mendermaga. Hal yang buruk itu baik, Cinta itu baik demikian pula kesedihan. Segala yang baik-baik akan membusuk kepada biasa. Pada akhirnya semua rambut akan gugur dan tak ada lagi yang tinggal dikenang. Selain yang dibawa oleh serpih gugur rambutku dan yang bukan lagi aku.
Saturday, April 30, 2005
memoar setangkup awan
kenang datang seperti bekapan dari punggung lengah. Menyeret tanpa ampun dimana kita seketika terapung. bukan melayang namun apung ringan perlahan. tipis menenggelam dan kita perahu kertas yang karam akan basah ingatan.
Demikian rembes udara akan serpih kenang, sebuah jabat tangan di bawah lengkung redup yang rawan hembusan. peranginan jelang hujan yang gerah.
Berdirilah entah menemani kibar syalmu ketika kudengar batukmu membuyar dari genggam jabat itu.
aku namakan sudut mu itu seperti nama warna yang leleh cair di kulitmu terjatuh dari lengkung langit hari itu. tetapi aku tak bisa mengingat nama itu.
jemarimu ringkuk kembali dalam catatan-catatan panjang yang kau tangkar dibawah kroma cahaya.
aku memilih untuk melongok ke dalam ingsutmu menyapa catatanmu yang murah hati kau papar di rajah-rajah tubuhmu.
Nama dan nama dan nama semua yang sanggup kubaca dalam sepuhan tanganmu itu riput.
Tahukah kamu ada seribu sembilan ratus tujuh puluh delapan warna langit yang pernah kucatat? aku mengenali warna yang sama berulang dalam komposisi pijar yang berbeda. Demikian tuturmu seraya tengadah berulang pada langkah-langkah cahaya berbias dan berganti rupa di atap kita.
Kau mencatat semua warna. mengkatalogkan kroma cahaya langit. Tiap hari yang katamu tak pernah dalam rona yang sama. itulah pekerjaanmu. Mencatat nama ratusan merah atau ratusan jenis warna nila menghambur ketika senja beterbangan bersama gunjingan angin tentang surga. surga serpihan warna yang kau tawan di serap serat kertas gemeresak, bukumu.
kau duduk tiap-tiap hari, di lutut kemegahan pagi, meretasi tunggu diantara satu warna beralih kepada keterpudaran dan kelahiran warna lain. yang kau namai dengan setia di lembar catatan-catatan yang bertimbunan. punggungmu telah lupa akan ketegakan, karena bertahun kau hanya duduk dan mencatat dan menamai. kadang kau tak mendongak hanya menatap lurus pada halaman catatanmu, dan menunggu warna dari cahaya yang jatuh disitu mewarnai kertasmu dan di bawah bayangnya kau tuliskan nama untuk warna itu.
aku mengingat kroma langit yang jatuh bercermin di danau matamu sesekali redup ditikam terik. tenggelam segala detik, serabut mengakar kata dan jeda demi jeda riak gulana. aku tiba di pesisir dirimu untuk menemui catatan perjalanan warna warna itu. yang adalah anak-anakmu. yang kaukandung bertahun di lengkung atap-atapmu. tempat kita bertemu. tempat apungan hujan menatah konstelasi yang membutir embun di rumputan padang, membulirkan selimut gemintang yang menetes dari kedipan matamu. nyala-nyala berwarna di langitmu yang megah dalam cahaya ataupun dalam padamnya. megah dalam indahnya. indahnya yang rapuh. indahnya yang sedih.
Tetapi aku gamang. karena kali ini kamu akan gugur bersama sepuh terakhir yang pudar ketika beledu malam menggerimis hingga genap kegelapan. karena aku menggerowong dalam tunggu itu di sisimu, mengumpulkan serpih catatanmu yang sesekali tercuri penerbangan angin dan menghambur selembut lenan. menghancur hati ketika seraknya berlalu pergi. aku menjabat tanganmu hari itu untuk bersaksi bahwa langitmu tandas jadi matahari. berkelana di liang liang ku, menaruh sumbu membara rawan. melepuhkan aku perih, tanpa daya selalu kembali ke sudut itu. mencintai sepuh warna yang masih membuah nama demi nama bahkan ketika dirimu berlalu. Anak-anak yang kau angkat dari lumpur cahaya di langit hatimu.
aku letih karena pergimu. letih mengenali jejak pergimu itu diantara buyar kertas catatan-catatanmu. tak sanggup kutanggung absen kita dari gurat tinta wangi pigmen yang mengering jadi nama-nama tuangan benakmu. dan aku bergelimang anak-anak yang kau pilihkan buat hatimu ketika tak seorang pun hendak memilihmu. memakna segala di lengkung langit atap kita bertemu, yang sesak oleh kroma gading dan bias sekelabu beton memepat menahan rindu dari deras hujan yang tak kunjung burai. Sementara ingatan akan nama sudut jenak kita, bercinta diantara nama-nama cahaya, aku pun mendermaga dalam satu nama. hampa.
Demikian rembes udara akan serpih kenang, sebuah jabat tangan di bawah lengkung redup yang rawan hembusan. peranginan jelang hujan yang gerah.
Berdirilah entah menemani kibar syalmu ketika kudengar batukmu membuyar dari genggam jabat itu.
aku namakan sudut mu itu seperti nama warna yang leleh cair di kulitmu terjatuh dari lengkung langit hari itu. tetapi aku tak bisa mengingat nama itu.
jemarimu ringkuk kembali dalam catatan-catatan panjang yang kau tangkar dibawah kroma cahaya.
aku memilih untuk melongok ke dalam ingsutmu menyapa catatanmu yang murah hati kau papar di rajah-rajah tubuhmu.
Nama dan nama dan nama semua yang sanggup kubaca dalam sepuhan tanganmu itu riput.
Tahukah kamu ada seribu sembilan ratus tujuh puluh delapan warna langit yang pernah kucatat? aku mengenali warna yang sama berulang dalam komposisi pijar yang berbeda. Demikian tuturmu seraya tengadah berulang pada langkah-langkah cahaya berbias dan berganti rupa di atap kita.
Kau mencatat semua warna. mengkatalogkan kroma cahaya langit. Tiap hari yang katamu tak pernah dalam rona yang sama. itulah pekerjaanmu. Mencatat nama ratusan merah atau ratusan jenis warna nila menghambur ketika senja beterbangan bersama gunjingan angin tentang surga. surga serpihan warna yang kau tawan di serap serat kertas gemeresak, bukumu.
kau duduk tiap-tiap hari, di lutut kemegahan pagi, meretasi tunggu diantara satu warna beralih kepada keterpudaran dan kelahiran warna lain. yang kau namai dengan setia di lembar catatan-catatan yang bertimbunan. punggungmu telah lupa akan ketegakan, karena bertahun kau hanya duduk dan mencatat dan menamai. kadang kau tak mendongak hanya menatap lurus pada halaman catatanmu, dan menunggu warna dari cahaya yang jatuh disitu mewarnai kertasmu dan di bawah bayangnya kau tuliskan nama untuk warna itu.
aku mengingat kroma langit yang jatuh bercermin di danau matamu sesekali redup ditikam terik. tenggelam segala detik, serabut mengakar kata dan jeda demi jeda riak gulana. aku tiba di pesisir dirimu untuk menemui catatan perjalanan warna warna itu. yang adalah anak-anakmu. yang kaukandung bertahun di lengkung atap-atapmu. tempat kita bertemu. tempat apungan hujan menatah konstelasi yang membutir embun di rumputan padang, membulirkan selimut gemintang yang menetes dari kedipan matamu. nyala-nyala berwarna di langitmu yang megah dalam cahaya ataupun dalam padamnya. megah dalam indahnya. indahnya yang rapuh. indahnya yang sedih.
Tetapi aku gamang. karena kali ini kamu akan gugur bersama sepuh terakhir yang pudar ketika beledu malam menggerimis hingga genap kegelapan. karena aku menggerowong dalam tunggu itu di sisimu, mengumpulkan serpih catatanmu yang sesekali tercuri penerbangan angin dan menghambur selembut lenan. menghancur hati ketika seraknya berlalu pergi. aku menjabat tanganmu hari itu untuk bersaksi bahwa langitmu tandas jadi matahari. berkelana di liang liang ku, menaruh sumbu membara rawan. melepuhkan aku perih, tanpa daya selalu kembali ke sudut itu. mencintai sepuh warna yang masih membuah nama demi nama bahkan ketika dirimu berlalu. Anak-anak yang kau angkat dari lumpur cahaya di langit hatimu.
aku letih karena pergimu. letih mengenali jejak pergimu itu diantara buyar kertas catatan-catatanmu. tak sanggup kutanggung absen kita dari gurat tinta wangi pigmen yang mengering jadi nama-nama tuangan benakmu. dan aku bergelimang anak-anak yang kau pilihkan buat hatimu ketika tak seorang pun hendak memilihmu. memakna segala di lengkung langit atap kita bertemu, yang sesak oleh kroma gading dan bias sekelabu beton memepat menahan rindu dari deras hujan yang tak kunjung burai. Sementara ingatan akan nama sudut jenak kita, bercinta diantara nama-nama cahaya, aku pun mendermaga dalam satu nama. hampa.
Thursday, March 24, 2005
sehelai bulu diantara pencakar
Sehelai bulu apung di peranginan
berjam-jam tanpa tergesa,
labuh di satu bingkai jendela.
satu jendela, diantara ribuan jendela di bebangunan.
tetapi sehelai bulu hal tersedih untuk satu jendela
berlayar pergi waktu kaca dibuka
berjam-jam tanpa tergesa,
labuh di satu bingkai jendela.
satu jendela, diantara ribuan jendela di bebangunan.
tetapi sehelai bulu hal tersedih untuk satu jendela
berlayar pergi waktu kaca dibuka
Saturday, February 19, 2005
Sehelai Bulu diantara bangunan pencakar 5
Ada relativitas waktu yang seperti ngarai raksasa antara sadarku dan aku. kadang aku di dalamku dilindasi aku yang terus berjalan dalam siklus sedemikian. semuanya lewat selagi aku mengalami atau mendengar. Seperti relativitas waktu yang berbeda antara hidup dan aku. Aku memperhatikan berlangsungnya berjam jam sementara hidup itu sendiri hanya sepersekian detik saja sebelum menguap. hidupku yang seperti fantom dan aku tak yakin aku pernah menemui hidup ketika dalam simak ku atasnya dengan penuh ingin tahu, hidup itu telah lenyap berjam-jam sebelumnya. Berjam-jam dari jam dinding siapa? ruang dada yang mana? Karena milyaran jam dinding atau arloji pun berselisih dalam detik dan menit. seperti koor kanon berlapis harmoni. Siapakah yang diam dan siapakah yang melesat dalam kereta relativitas kesadaran itu.
Kesadaran itu menyengat dan mengusik seperti serangga, sementara hidup hanya rontokan sayapnya yang ku punguti dengan padat hasrat memahami selagi penerbangan yang sesungguhnya beranjak pergi dan menyengat-nyegat. Berdiri sesaat kemudian tertidur mati dan kembali berdiri lagi dalam sesaat.
Berjam-jam dari jam siapa?
Aku serangga yang menyengat sehari kemudian esoknya mati, terperangkap jejaring arus bernama hidup atau semesta yang leburkan semua sayapku rontok hancur dan bergugur. sementara aku terhukum untuk terus terbang dan menyengat-nyegat mencari terjaga dari segala yang menabraki.
Aku sebongkah sadar yang bangun tersengat oleh hidup yang kukira hanyalah rontokan sayap yang akan terurai dalam beberapa minggu menjadi tanah atau abu menghambur.
hidup dari aku yang mana? karena aku dan aku pun berselisih dalam balkon nyata dan teras maya di waktu-waktu terjagaku.
Aku dan aku pada hidup yang mana? siapakah aku yang diam dan aku yang di atas kereta hidup itu? atau hidup yang mana yang diam dan yang menumpang di keretaku.
aku dan aku dan hidup selalu lapar dalam keniscayaan ekuilibrium
Kesadaran itu menyengat dan mengusik seperti serangga, sementara hidup hanya rontokan sayapnya yang ku punguti dengan padat hasrat memahami selagi penerbangan yang sesungguhnya beranjak pergi dan menyengat-nyegat. Berdiri sesaat kemudian tertidur mati dan kembali berdiri lagi dalam sesaat.
Berjam-jam dari jam siapa?
Aku serangga yang menyengat sehari kemudian esoknya mati, terperangkap jejaring arus bernama hidup atau semesta yang leburkan semua sayapku rontok hancur dan bergugur. sementara aku terhukum untuk terus terbang dan menyengat-nyegat mencari terjaga dari segala yang menabraki.
Aku sebongkah sadar yang bangun tersengat oleh hidup yang kukira hanyalah rontokan sayap yang akan terurai dalam beberapa minggu menjadi tanah atau abu menghambur.
hidup dari aku yang mana? karena aku dan aku pun berselisih dalam balkon nyata dan teras maya di waktu-waktu terjagaku.
Aku dan aku pada hidup yang mana? siapakah aku yang diam dan aku yang di atas kereta hidup itu? atau hidup yang mana yang diam dan yang menumpang di keretaku.
aku dan aku dan hidup selalu lapar dalam keniscayaan ekuilibrium
sehelai bulu diantara bangunan pencakar 4
kadang kematian lewat di jalan. ternyata aku telah mengenalinya sejak dulu, hanya saja tak seorang pun memberitahukan padaku namanya. Ia lewat sebagai penjalan, atau semata hembusan nafas yang tak panjang. Sesekali ia datang buatku namun urung atau mungkin ia memang bukan datang buatku. ia hanya begitu dekat seperti menepuk bahuku. sesekali ia begitu dekat hingga aku berdebar dalam resonan kehendaknya yang getar menyusupi belulang.
Aku bisa merasakan hadirnya dalam respon gidik ku.
Hanya lewat pun ia berat dan sarat membuat pekat nafasku. ketika ia menjauh udara terasa lebih ringan. Ada kelegaan ketika ia pergi. Tidak hari ini ia datang untukku.
Aku bisa merasakan hadirnya dalam respon gidik ku.
Hanya lewat pun ia berat dan sarat membuat pekat nafasku. ketika ia menjauh udara terasa lebih ringan. Ada kelegaan ketika ia pergi. Tidak hari ini ia datang untukku.
Tuesday, January 18, 2005
a feather drifts among the skylines 3
kekasih di suatu waktu, tetap mengerti bagaimana waktu menggerus simpul demi simpul kilau temu. Mutiara terjadinya kita dan patahan setapak yang nyaris tertelan ilalang tanya yang tuna jawaban. ia merangkai jejak-jejak ingat tentang aku yang dilindasi deru berdetik waktu yang lebih deras dari degub kecilku. Kadang aku tak ingat akan hidup, kadang hidup telah mati dari terjagaku. Padahal ia hanya tidur lelap di ranjang abaiku. Tetapi Hidup yang mengingatku dalam mimpi malam dan kekasih di suatu waktu menuliskan matiku di sehelai jendela hujan. agar aku kembali ingat.
kekasih di suatu waktu, menyusuri tebasan jalan rimba yang tak lagi perawan. Anak-anak kita telah satu dengan ibu bapanya yang haus akan keterjagaan. Kita yang lalu telah padam sejak anak. dan kanak-kanak itu yang merengguk kedewasaan. Bukanlah rindu yang kemudian diupacarakan oleh derasan cair ungkap berkepanjangan. Bukan lagi rindu atau kebosanan tentang haus hampa yang mengingini serupa rindu dalam wadah-wadah melankolisnya yang mengumam pengap. mati ketika senyap. mati ketika lupa, mati ketika genap. Tetapi mayatku ditemu hidup dan kita disulam ke dalam rahim sebuah ingat. Di suatu hari kita kembali bayi yang mati terbelit plasenta waktu. Dan Kau, kekasih suatu waktu menghidupkanku kembali tanpa setitik pun rindu. Hanya dengan sebait dua bait mati yang setia bermimpi akan sebuah ingat.
kekasih di suatu waktu, menyusuri tebasan jalan rimba yang tak lagi perawan. Anak-anak kita telah satu dengan ibu bapanya yang haus akan keterjagaan. Kita yang lalu telah padam sejak anak. dan kanak-kanak itu yang merengguk kedewasaan. Bukanlah rindu yang kemudian diupacarakan oleh derasan cair ungkap berkepanjangan. Bukan lagi rindu atau kebosanan tentang haus hampa yang mengingini serupa rindu dalam wadah-wadah melankolisnya yang mengumam pengap. mati ketika senyap. mati ketika lupa, mati ketika genap. Tetapi mayatku ditemu hidup dan kita disulam ke dalam rahim sebuah ingat. Di suatu hari kita kembali bayi yang mati terbelit plasenta waktu. Dan Kau, kekasih suatu waktu menghidupkanku kembali tanpa setitik pun rindu. Hanya dengan sebait dua bait mati yang setia bermimpi akan sebuah ingat.
Tuesday, December 28, 2004
a feather drifts among the skylines 2
jejak kucur bernoda di dindingmu itu rinai oleh gemeretik minyak goreng. apungan hangat kangen dalam hembus wangi ikan asin.
aku pulang lahap impian akan bebantal sejuk sehabis sepiring nasi hangat dan asin teri di hamparan taplaknya. segar tanpa bau kaleng, tanpa kemasan berkode garis dan angka-angka kadaluwarsa.
aku pulang tambat kelana yang layu bertahun. menebus Lapar yang ditawar murah oleh penjaja jalan di kota kota orang. Menemu teduh di satu tiang lampu yang padam di sederet terang tengah hujan.
aku pulang nyenyak berpeluk arakan awan. Menggumpal di kepul gelas hangat apungan teh tubruk dan kelopak melati yang tak lagi dehidrasi.
lengket minyak di tandas piring kotor jejak santapan bergemericik di bak cucian
aku pulang dengan senyum menyimpan beribu langkah berlarian
aku pulang dengan kepak terbangan
menidurkan jalan demi jalan di ayun embun dan gemeresak pepohon mangga
di teras bergugur mimpi dan genap hati
aku pulang lahap impian akan bebantal sejuk sehabis sepiring nasi hangat dan asin teri di hamparan taplaknya. segar tanpa bau kaleng, tanpa kemasan berkode garis dan angka-angka kadaluwarsa.
aku pulang tambat kelana yang layu bertahun. menebus Lapar yang ditawar murah oleh penjaja jalan di kota kota orang. Menemu teduh di satu tiang lampu yang padam di sederet terang tengah hujan.
aku pulang nyenyak berpeluk arakan awan. Menggumpal di kepul gelas hangat apungan teh tubruk dan kelopak melati yang tak lagi dehidrasi.
lengket minyak di tandas piring kotor jejak santapan bergemericik di bak cucian
aku pulang dengan senyum menyimpan beribu langkah berlarian
aku pulang dengan kepak terbangan
menidurkan jalan demi jalan di ayun embun dan gemeresak pepohon mangga
di teras bergugur mimpi dan genap hati
Wednesday, December 01, 2004
barangkali ada senja di tembok kamarmu
yang enggan bergeser selaju waktu
berdesir sejuk abaikan jarum jarum memburu jam dindingmu
walau kita senantiasa kegerahan oleh iming iming hujan
dan membuat kita meninggalkan waktu waktu makan
menjelmakan kelaparan jadi hasrat hasrat sepanjang elongasi langit
yang tak pernah terintip dari jendela jendelamu
menjadi konstelasi benakku di langit langitmu
menyimpan puisi
seperti segenap dirimu
barangkali ada langit yang terkubur di tembok tembokmu
aku mencarinya setiap kali berpaling padanya dalam tidurku
menyusur jejak gambar yang kurangkai dari bercaknya
yang ingin kubawa pulang bersama terang di stasiun kereta
terkemas bersama angin tak bergerak di saat pengap
yang selalu membawa suara suara keluarga kucing
yang mungkin hanya bermalas dan bercinta di belakang ruang ruangmu
barangkali ada mendung di tembok kamarmu
tempat menunggu hujan dalam tangkup gerah yang setia
juga untuk menaikkan layang layang yang kucuri bayangnya
dari sandyakala yang kita tonton di sudut taman
seraya mencari kuat dari gegap rawan dalam dada
tempat berpaling ketika lelapmu tandas oleh larut
yang enggan bergeser selaju waktu
berdesir sejuk abaikan jarum jarum memburu jam dindingmu
walau kita senantiasa kegerahan oleh iming iming hujan
dan membuat kita meninggalkan waktu waktu makan
menjelmakan kelaparan jadi hasrat hasrat sepanjang elongasi langit
yang tak pernah terintip dari jendela jendelamu
menjadi konstelasi benakku di langit langitmu
menyimpan puisi
seperti segenap dirimu
barangkali ada langit yang terkubur di tembok tembokmu
aku mencarinya setiap kali berpaling padanya dalam tidurku
menyusur jejak gambar yang kurangkai dari bercaknya
yang ingin kubawa pulang bersama terang di stasiun kereta
terkemas bersama angin tak bergerak di saat pengap
yang selalu membawa suara suara keluarga kucing
yang mungkin hanya bermalas dan bercinta di belakang ruang ruangmu
barangkali ada mendung di tembok kamarmu
tempat menunggu hujan dalam tangkup gerah yang setia
juga untuk menaikkan layang layang yang kucuri bayangnya
dari sandyakala yang kita tonton di sudut taman
seraya mencari kuat dari gegap rawan dalam dada
tempat berpaling ketika lelapmu tandas oleh larut
Saturday, November 20, 2004
A feather drifts among the skylines (1)
Once I found myself died in a room with a window.
It was like a dream that shatters as it falls in mute
or just simply the drips of lucid conscience
slowly soaks my blanket with silence.
a crescent glow came from the swaying ivory curtain.
It was so distant of us. An I and I who had never promise
to found each other’s might in such deep night
For once I have fallen to wake up
to meet this splendouring solist of the window.
Surrenderring its darkness to the weakest dim of lights.
I thought It was the guerillas of the sky outside
they'd move a second with a thousand paces
tinting my walls all four.
The next day, I’d set my alarm clock to wake me up
every hour of the night
to once again found myself
died by a window's aglow
......
It was like a dream that shatters as it falls in mute
or just simply the drips of lucid conscience
slowly soaks my blanket with silence.
a crescent glow came from the swaying ivory curtain.
It was so distant of us. An I and I who had never promise
to found each other’s might in such deep night
For once I have fallen to wake up
to meet this splendouring solist of the window.
Surrenderring its darkness to the weakest dim of lights.
I thought It was the guerillas of the sky outside
they'd move a second with a thousand paces
tinting my walls all four.
The next day, I’d set my alarm clock to wake me up
every hour of the night
to once again found myself
died by a window's aglow
......
Wednesday, November 03, 2004
rajah
rajah itu menuliskan pecahmu
cabang dan silang yang lupas mengering
pada telapak berbercak patah
rajah itu menuliskan singgahan
dari satu demi satu hingga tak berkeujungan
memahat gurat alir alur yang cair tapi terpahat batu
rajah itu menuliskan muara dan serat-seratan
kau layari tiap cabang tepian
tiap kelok riput dan retakan
dari jendela terik dan langit berbayang layang
sekali kau rahimkan rajah-rajah dalam tulismu
rajah tak lagi henti menuliskanmu
cabang dan silang yang lupas mengering
pada telapak berbercak patah
rajah itu menuliskan singgahan
dari satu demi satu hingga tak berkeujungan
memahat gurat alir alur yang cair tapi terpahat batu
rajah itu menuliskan muara dan serat-seratan
kau layari tiap cabang tepian
tiap kelok riput dan retakan
dari jendela terik dan langit berbayang layang
sekali kau rahimkan rajah-rajah dalam tulismu
rajah tak lagi henti menuliskanmu
Tuesday, October 26, 2004
labirin
labirin itu senyar nafasmu yang kian asing ketika jendela bening itu kedap dan kau hisap habis udara dari dadaku
aku tak bisa mendengarmu dan hampa itu berkeping di gerimis sepi yang bertampiasan membercak gulana sekap oleh rinai kenang membelit dalam genang payau tetubuhan.
aku tak bisa mendengarmu dan hampa itu berkeping di gerimis sepi yang bertampiasan membercak gulana sekap oleh rinai kenang membelit dalam genang payau tetubuhan.
Sunday, October 17, 2004
three of hearts and queen of clubs
kepingan kelam menggerimis di berkas sabit, ketika kutemui wajahku terjaga. selagi kantuk larikan dirinya. kutemu dermaga dan kecipak nganga memiris antara vitrage dan renda. bunyi geseran detik teramat sedih, panas melecetkan debar.
perih mengganjal layar tidur yang terlalu murung untuk perairan malam.
Terimakasih, Jangan datang lagi..
pintu dibanting. air hangat yang meluncur di kerongkongan tersedak.
Ia telah pergi dua hari yang lalu namun baru kini kau banting pintu itu.
Kau tak tahu karena isak tangis itu bersembunyi jauh sekali di dalam salah satu pintu bilik di labirin dadamu.
Kau hanya menyadari banjir sedihnya ludak ketika gelap dan tak ada seorangpun menjagai malam kecuali dirimu dan kamu.
dan itu setelah dua hari berlalu
setelah beberapa kali masih saja kau rasakan perih di selangkanganmu, dan beberapa kali hanya sepi ketika kau nantikan selarik dua larik pesan datang membalas smsmu sejak hari itu. sunyi. kebisuan yang kau kenal karib di bibir dan telingamu sendiri.
kegelapan murung terhenyak oleh harapan yang teronggok lalu diacak, terbangun lalu dibongkar kembali. Ia datang mengerami hangat harap lalu meninggalkannya sebelum tetas, dan cikal nyala hidup itu kembali rusak.
Bunyi bantingan pintu itu memanggil dirimu. terjaga menemu dirimu yang lain. yang satu tengah kosong dan kaku setelah terbenam dua hari di bilik itu, yang satu resah dalam senyap yang nyaris seperti angkara dengan kepal tangan beresidu bantingan pintu.
ia berhenti bertanya mengapa masih saja kau buka pintu itu, barangkali setelah tahu kau akan selalu menerimanya, walau selalu kau terlempar di dampar gurun demi gurun berkepanjangan. gurun yang melulu kau lalui sebelum ia tiba mengetuk lagi.
ia berhenti menanyakan keletihan, karena bibirmu telah terkunci oleh keterdiaman.
Walau dirimu yang lain selalu datang membanting dan mengacak jejak hadirnya dan menjagaimu setelah jatuhmu seperginya ia.
Rasa itu yang ia bagikan setiap kali ia datang. Dan alasan yang kau mengerti namun bukan yang kau terima. Kenapa harus ada dirimu di celah kecil yang tersisa antara dirinya dan kekasihnya. Karena kau pun seorang kekasih walau namamu dihapuskannya. Demi membayar sedikit demi sedikit penawar haus hati dan harap yang diperpanjang sejenak saja.
Kau pengisi yang kemudian dibiarkan tak terisi. Kosong mencari dirinya sendiri.
Menyadari pedihmu tak akan sesedih dirinya, barangkali. Kau percaya Imbangmu dan dirinya akan punah dalam lemah yang entah dan kebingungan antara kekasih dan hampir kekasih, dan pilihan yang katanya tak ingin dipaksakan kepadanya untuk memilih. Tetapi yang tak pernah sungguh dimengertinya tak pernah pula sebuah tawaran serupa pilihan. Segalanya hanya hamparan sebagaimana ada dan tak pernah sebuah tawaran atau pilihan.
Karena kau sendirian, dan ia berpasangan. Karena kau gamang dan ia selalu ada tempat untuk pulang. Karena kalian bertiga manusia, setara, dan sungguh tak ada alasan untuk dirimu menunggu dan menerima waktu yang mereka teteskan remahnya untuk kehausanmu. Kau dan angkuhmu mengukur terlalu tinggi luas samudera dadamu untuk sanggup memeluk semua. Di malam keseratus sekian yang kian kopong itu samudera berbalik tak akan habis terteguk tuntas oleh gerowong timpang terlubangi cair korosif sedihmu setelah bertahun lewat.
kau dan ketiga dirimu saling mengerti tanpa saling berdebat lagi.seperti seraya kau banting pintu itu mengusir jejaknya pergi ketika kau dengar isakmu dari bilik itu. dan dirimu terjaga oleh banting pintumu itu tanpa memandang pada dirimu yang sebelum. Bergegas menelan malam dan menggantungkan jemuran pagi agar segenap dirimu pulang tertidur sebelum kecewa menjadi kuyub. Ketiga berdiri satu sebelum anjakmu pada pagi, menutup pintu dengan kokoh lalu memutarkan kunci bergafir "..selesai berlalu".
dirimu kembali satu tak menoleh lagi.
Pukul 3 pagi, kereta subuh menggemuruh di Cikini
perih mengganjal layar tidur yang terlalu murung untuk perairan malam.
Terimakasih, Jangan datang lagi..
pintu dibanting. air hangat yang meluncur di kerongkongan tersedak.
Ia telah pergi dua hari yang lalu namun baru kini kau banting pintu itu.
Kau tak tahu karena isak tangis itu bersembunyi jauh sekali di dalam salah satu pintu bilik di labirin dadamu.
Kau hanya menyadari banjir sedihnya ludak ketika gelap dan tak ada seorangpun menjagai malam kecuali dirimu dan kamu.
dan itu setelah dua hari berlalu
setelah beberapa kali masih saja kau rasakan perih di selangkanganmu, dan beberapa kali hanya sepi ketika kau nantikan selarik dua larik pesan datang membalas smsmu sejak hari itu. sunyi. kebisuan yang kau kenal karib di bibir dan telingamu sendiri.
kegelapan murung terhenyak oleh harapan yang teronggok lalu diacak, terbangun lalu dibongkar kembali. Ia datang mengerami hangat harap lalu meninggalkannya sebelum tetas, dan cikal nyala hidup itu kembali rusak.
Bunyi bantingan pintu itu memanggil dirimu. terjaga menemu dirimu yang lain. yang satu tengah kosong dan kaku setelah terbenam dua hari di bilik itu, yang satu resah dalam senyap yang nyaris seperti angkara dengan kepal tangan beresidu bantingan pintu.
ia berhenti bertanya mengapa masih saja kau buka pintu itu, barangkali setelah tahu kau akan selalu menerimanya, walau selalu kau terlempar di dampar gurun demi gurun berkepanjangan. gurun yang melulu kau lalui sebelum ia tiba mengetuk lagi.
ia berhenti menanyakan keletihan, karena bibirmu telah terkunci oleh keterdiaman.
Walau dirimu yang lain selalu datang membanting dan mengacak jejak hadirnya dan menjagaimu setelah jatuhmu seperginya ia.
Rasa itu yang ia bagikan setiap kali ia datang. Dan alasan yang kau mengerti namun bukan yang kau terima. Kenapa harus ada dirimu di celah kecil yang tersisa antara dirinya dan kekasihnya. Karena kau pun seorang kekasih walau namamu dihapuskannya. Demi membayar sedikit demi sedikit penawar haus hati dan harap yang diperpanjang sejenak saja.
Kau pengisi yang kemudian dibiarkan tak terisi. Kosong mencari dirinya sendiri.
Menyadari pedihmu tak akan sesedih dirinya, barangkali. Kau percaya Imbangmu dan dirinya akan punah dalam lemah yang entah dan kebingungan antara kekasih dan hampir kekasih, dan pilihan yang katanya tak ingin dipaksakan kepadanya untuk memilih. Tetapi yang tak pernah sungguh dimengertinya tak pernah pula sebuah tawaran serupa pilihan. Segalanya hanya hamparan sebagaimana ada dan tak pernah sebuah tawaran atau pilihan.
Karena kau sendirian, dan ia berpasangan. Karena kau gamang dan ia selalu ada tempat untuk pulang. Karena kalian bertiga manusia, setara, dan sungguh tak ada alasan untuk dirimu menunggu dan menerima waktu yang mereka teteskan remahnya untuk kehausanmu. Kau dan angkuhmu mengukur terlalu tinggi luas samudera dadamu untuk sanggup memeluk semua. Di malam keseratus sekian yang kian kopong itu samudera berbalik tak akan habis terteguk tuntas oleh gerowong timpang terlubangi cair korosif sedihmu setelah bertahun lewat.
kau dan ketiga dirimu saling mengerti tanpa saling berdebat lagi.seperti seraya kau banting pintu itu mengusir jejaknya pergi ketika kau dengar isakmu dari bilik itu. dan dirimu terjaga oleh banting pintumu itu tanpa memandang pada dirimu yang sebelum. Bergegas menelan malam dan menggantungkan jemuran pagi agar segenap dirimu pulang tertidur sebelum kecewa menjadi kuyub. Ketiga berdiri satu sebelum anjakmu pada pagi, menutup pintu dengan kokoh lalu memutarkan kunci bergafir "..selesai berlalu".
dirimu kembali satu tak menoleh lagi.
Pukul 3 pagi, kereta subuh menggemuruh di Cikini
Monday, October 11, 2004
Royal Ballet of Layangan
siang tadi kunaikkan layangan bersayap capung
dengan segulung utas benang kata tanpa senja
walau langit puisi hari ini tak dibuka untuk dibagi
gelasannya kusimpul kusut supaya aku ingat
:tak ada layang-layang yang diputuskan bebas
karena hati layangan tak ingin lepas
dari uluran tarik awan-awan dan balet peranginan
damai tersangkut layar jeda akhir musim
dengan segulung utas benang kata tanpa senja
walau langit puisi hari ini tak dibuka untuk dibagi
gelasannya kusimpul kusut supaya aku ingat
:tak ada layang-layang yang diputuskan bebas
karena hati layangan tak ingin lepas
dari uluran tarik awan-awan dan balet peranginan
damai tersangkut layar jeda akhir musim
Sunday, September 26, 2004
fragmented memoirs of a sleepless lifetime
setiap malam datang, sebutir hujan deras merajam ku sehelai. resap di seserat rentang kapilerku. pori sunyi yang teramat tak sunyi oleh denging sepi. memekarkan duri yang bersayap lembut, menjerat embun.
Gelap rintih pun langlang, di waktu ambang setengah yang tak henti berjalan, tak pula debur berpusaran.
Di latar hingar sebongkah malam. rasuk lelehan dadaku tanak di katup genggam.
dalam mimpiku yang berjalan, sebuah bulan terpeleset di pekarangan
pekiknya apung sekilas selisip keinginan. Agar perlahan aku tak terjaga
Gelap rintih pun langlang, di waktu ambang setengah yang tak henti berjalan, tak pula debur berpusaran.
Di latar hingar sebongkah malam. rasuk lelehan dadaku tanak di katup genggam.
dalam mimpiku yang berjalan, sebuah bulan terpeleset di pekarangan
pekiknya apung sekilas selisip keinginan. Agar perlahan aku tak terjaga
Subscribe to:
Posts (Atom)